Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Menyelamatkan Regenerasi Petani

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
TEMBAKAU: Para petani tembakau di Desa Balun sedang panen tembakau. (Farhan Reza/RADAR BOJONEGORO)
TEMBAKAU: Para petani tembakau di Desa Balun sedang panen tembakau. (Farhan Reza/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

Oleh: Suprapto Estede


Bojonegoro sedang menghadapi ironi. Di satu sisi, kabupaten ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Produksi padi terus meningkat dan sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Namun, di sisi lain, jumlah petani terus menyusut, sementara usia mereka semakin menua. Alarm regenerasi petani telah berbunyi cukup keras.

Advertisement

Berita mengenai enggannya anak muda bertani seharusnya tidak dibaca sebagai persoalan pilihan profesi semata. Ini adalah gejala dari masalah yang lebih dalam, bahwa pertanian belum dipersepsikan sebagai jalan hidup yang menjanjikan. Mengajak generasi muda turun ke sawah tanpa memperbaiki ekosistem pertanian sama saja meminta mereka memasuki arena yang penuh ketidakpastian.

Faktanya, penyebab krisis regenerasi bukan tunggal. Ada faktor ekonomi, sosial, budaya, bahkan psikologis. Harga hasil panen yang fluktuatif, biaya produksi yang terus meningkat, akses pupuk yang kerap menjadi persoalan, serta ketergantungan pada tengkulak membuat bertani terasa seperti pekerjaan berisiko tinggi dengan keuntungan yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika banyak orangtua justru berharap anak-anaknya mencari pekerjaan lain.

Advertisement

Masalah lainnya adalah citra profesi petani. Selama bertahun-tahun, petani digambarkan sebagai sosok yang berkotor lumpur, bekerja di bawah terik matahari, dan identik dengan kehidupan yang pas-pasan. Gambaran ini tertanam sejak bangku sekolah melalui ilustrasi-ilustrasi sederhana yang tanpa disadari membentuk persepsi generasi muda. Bahkan sebuah naskah akademik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengakui bahwa stigma tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya minat anak muda melanjutkan usaha tani keluarga.

Padahal, pertanian abad ke-21 telah berubah. Drone mampu memetakan lahan, sensor dapat mengukur kelembapan tanah, mesin tanam mempercepat pekerjaan, sementara pemasaran digital membuka akses langsung kepada konsumen. Pertanian modern tidak lagi hanya mengandalkan cangkul dan tenaga fisik. Sayangnya, transformasi ini belum merata menyentuh petani kecil.

Yang perlu dibangun bukan sekadar minat, melainkan harapan. Anak muda akan tertarik jika melihat pertanian sebagai usaha yang menguntungkan, inovatif, dan memiliki masa depan. Karena itu, modernisasi harus disertai akses terhadap modal, pelatihan kewirausahaan, pendampingan teknologi, hingga kepastian pasar. Penelitian tentang regenerasi petani di Bojonegoro menunjukkan bahwa keterbatasan modal, minimnya pelatihan, serta lemahnya akses teknologi menjadi hambatan utama bagi petani muda.

Bojonegoro sebenarnya memiliki modal besar. Populasi desa masih kuat, lahan pertanian luas, serta dukungan pemerintah terhadap mekanisasi mulai berkembang. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian mengubah paradigma. Program regenerasi tidak cukup berhenti pada pembagian alat mesin pertanian, tetapi perlu menghadirkan inkubasi bisnis pertanian bagi pemuda desa. Bayangkan jika setiap kecamatan memiliki pusat inovasi pertanian yang menghubungkan petani muda dengan teknologi, pembiayaan, dan pasar digital.

Ada satu hal lagi yang sering terlupakan, yakni pendidikan. Sekolah seharusnya tidak hanya mengenalkan pertanian sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai profesi yang memerlukan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan bisnis. Ketika anak muda melihat petani mampu mengelola data, membangun merek produk, dan memasarkan hasil panen secara digital, citra profesi itu akan berubah secara alami.

Dalam perspektif Islam, bekerja mengolah tanah memiliki kemuliaan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau binatang, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga amal yang menghadirkan kemanfaatan bagi banyak makhluk.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kemarau Mulai Mereda, Panen Tembakau di Bojonegoro Hampir Tuntas

Kemarau Mulai Mereda, Panen Tembakau di Bojonegoro Hampir Tuntas

Teriknya matahari mulai mereda. Terganti dengan mendung dan hujan yang turun beberapa hari terakhir. Meski hujan merupakan salah satu tantangan yang bisa mengakibatkan tanaman tembakau mati karena kelebihan air.

Kelompok Tani di Blora Terus Bertambah

Kelompok Tani di Blora Terus Bertambah

Jumlah kelompok tani (poktan) di Kabupaten Blora terus bertambah dalam tiga tahun terakhir. Hingga awal Oktober 2026, jumlahnya mencapai 2.923 kelompok yang tersebar di 16 kecamatan.

Opini: Mengurai Paradoks dan Ancaman Ekologis

Opini: Mengurai Paradoks dan Ancaman Ekologis

Pada Selasa, 20 Oktober 2026, Kabupaten Bojonegoro merayakan momentum bersejarah peringatan Hari Jadi ke-349 (HJB) yang ditandai dengan upacara khidmat di Alun-Alun Bojonegoro. Mengusung tema besar “Berdaya Saing dan Bertransformasi”.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer