Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lebaran 2026 Barengan atau Beda Hari? Simak Bocoran Tanggal Idul Fitri 1447 H Versi Pemerintah dan Muhammadiyah!

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 25 Februari 2026 | 16:51 WIB

Merayakan lebaran bersama keluarga di rumah ternyata juga bisa lebih seru lo
Merayakan lebaran bersama keluarga di rumah ternyata juga bisa lebih seru lo

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Momen Idul Fitri selalu menjadi hal yang paling dinanti oleh umat Muslim di Indonesia. Selain soal baju baru dan opor ayam, ada satu pertanyaan "klasik" yang mulai ramai diperbincangkan sejak awal Ramadhan 1447 H ini: "Tahun ini kita Lebaran barengan atau beda hari, ya?"

Perbedaan penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia memang bukan hal baru. Namun, tetap saja hal ini memicu diskusi hangat di media sosial dan meja makan. Mari kita bedah bagaimana potensi perbedaan tersebut tahun ini.

Dua Metode, Satu Tujuan

Akar dari potensi perbedaan ini terletak pada metode yang digunakan. Muhammadiyah secara konsisten menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.

Metode ini mengandalkan perhitungan astronomis yang presisi. Selama bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam (meskipun tipis sekali), maka esoknya sudah dianggap bulan baru.

Di sisi lain, Pemerintah (Kementerian Agama) menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Pemerintah menggabungkan hisab dengan Rukyatul Hilal atau pengamatan langsung di lapangan. Syaratnya cukup ketat: hilal harus terlihat dengan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Prediksi Lebaran 2026: Ada Potensi Beda?

Berdasarkan data astronomis untuk tahun 2026, posisi hilal pada akhir Ramadhan diprediksi berada di titik yang cukup krusial.

Versi Muhammadiyah: Melalui perhitungan kalender hijriah global, Muhammadiyah kemungkinan besar akan menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Hal ini karena posisi bulan sudah dianggap "wujud" atau ada di atas cakrawala saat matahari terbenam.

Versi Pemerintah: Di sinilah letak perdebatannya. Jika pada hari pengamatan posisi hilal masih di bawah 3 derajat, maka Pemerintah melalui Sidang Isbat kemungkinan besar akan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari (istikmal). Jika ini terjadi, Lebaran versi Pemerintah baru akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Meski begitu, para ahli astronomi terus memantau pergerakan benda langit ini. Jika posisi hilal sudah cukup tinggi dan memenuhi kriteria MABIMS, ada peluang besar kita akan merayakan Lebaran secara serentak.

Menghargai Perbedaan

Apa pun hasilnya nanti, yang paling penting adalah semangat toleransi. Perbedaan metode adalah bagian dari kekayaan ijtihad dalam Islam. Bagi Anda yang Lebaran lebih awal, silakan merayakan dengan penuh syukur. Bagi yang mengikuti keputusan Pemerintah, tetaplah berpuasa dengan khusyuk di hari terakhir.

Baca Juga: Radar History: Ketika Idul Fitri Jatuh Bulan November Tahun 2005 Silam, Sebabkan Lonjakan Penumpang Transportasi Umum

Jangan sampai perbedaan tanggal ini justru mengurangi kehangatan silaturahmi. Ingat, esensi Idul Fitri adalah kemenangan melawan hawa nafsu, termasuk nafsu untuk merasa paling benar sendiri. Jadi, sudah siapkah Anda untuk berburu tiket mudik dan menyiapkan angpao Lebaran? (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#ramadan #hilal #indonesia #muslim #pemerintah #Lebaran #islam #idul fitri #muhammadiyah #barengan #beda hari