RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM– Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan arahan tegas di hadapan ribuan kepala daerah dan pimpinan instansi pusat dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center, Senin (2/2/2026).
Dalam pidato yang berapi-api, Presiden tidak hanya membahas capaian strategis domestik, tetapi juga memberikan peringatan keras mengenai kondisi geopolitik global yang semakin genting.
Dilansir dari video live streaming kanal YouTube Sekretariat Presiden, berikut adalah 5 poin krusial dari pidato Presiden yang menjadi arah kebijakan Indonesia menuju 2027.
1. Waspada "Nuclear Winter" dan Sikap Non-Blok Indonesia
Membuka pidatonya dengan wawasan geopolitik, Presiden Prabowo mengingatkan para pemimpin daerah untuk tidak lugu melihat situasi dunia. Pasca kunjungannya dari Eropa dan Davos, Presiden mengungkapkan kekhawatiran para pemimpin dunia akan pecahnya Perang Dunia III.
Baca Juga: Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka?
"Ada simulasi kalau terjadi perang dunia ketiga nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena. Akan terjadi nuclear winter, debu menutup matahari puluhan tahun," tegas Prabowo.
Menyikapi hal ini, Indonesia menegaskan posisi Bebas Aktif. Filosofi "Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak" tetap menjadi pegangan, namun Presiden menekankan bahwa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari) karena dalam skenario terburuk, tidak akan ada negara lain yang membantu.
2. Makan Bergizi Gratis (MBG): Dari Kritik Menjadi Percontohan Dunia
Salah satu sorotan utama adalah klaim keberhasilan program andalan, Makan Bergizi Gratis (MBG). Per Februari 2026, program ini dilaporkan telah melayani 60 juta penerima manfaat dengan target mencapai 82 juta pada akhir tahun.
Fakta menarik yang diungkap Presiden adalah ketertarikan dunia internasional. "Secretary of Health Amerika Serikat dan Rockefeller Institute sedang mempelajari MBG kita. Mereka menyebut ini investasi terbaik untuk negara," ujarnya.
Baca Juga: Hari Pertama MBG Kembali ke Sekolah, Supir SPPG Cosplay Wayang Saat Antar Menu
Secara ekonomi, program ini diklaim telah menciptakan 1 juta lapangan kerja melalui lebih dari 22.000 dapur umum yang beroperasi, menghidupkan rantai pasok dari petani sayur hingga peternak ayam di desa-desa.
3. Revolusi Sawit: "Miracle Crop" dan Larangan Ekspor Jelantah
Dalam sektor energi, Presiden Prabowo menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop (tanaman ajaib). Indonesia tidak hanya akan fokus pada CPO untuk pangan, tetapi hilirisasi energi menjadi biodiesel dan bioavtur.
Presiden mengeluarkan kebijakan proteksionisme energi yang tegas: Melarang ekspor limbah sawit dan minyak jelantah. "Limbah jelantah adalah bahan baku avtur. Bangsa lain saya tutup, saya larang ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu," tegasnya.
Baca Juga: IPOC 2025 Resmi Dibuka di Bali, Bahas Arah Baru Industri Sawit Dunia
4. Kritik Keras Pariwisata: "Bali So Dirty Now"
Presiden memberikan teguran keras kepada pemerintah daerah, khususnya Bali, terkait masalah sampah yang mulai menggerus reputasi pariwisata. Mengutip keluhan kolega asingnya, Presiden menyebut kondisi kebersihan Bali menurun.
Sebagai solusi taktis, Presiden menginstruksikan gerakan "Corve" atau kerja bakti massal yang melibatkan TNI, Polri, ASN, hingga anak sekolah untuk membersihkan lingkungan setiap hari atau mingguan. Selain itu, pemerintah pusat mempercepat pembangunan 34 proyek pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy) di berbagai kota.
5. Gerakan "Gentengisasi": Mengganti Atap Seng yang Berkarat
Menutup arahannya, Presiden meluncurkan visi Gerakan Indonesia Asri. Salah satu implementasi uniknya adalah program "Gentengisasi". Presiden mengkritik maraknya penggunaan atap seng di desa-desa yang dinilai panas dan merusak estetika karena mudah berkarat.
"Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan," ucap Prabowo.
Pemerintah berencana mengganti atap seng dengan genteng yang diproduksi oleh koperasi-koperasi desa, memanfaatkan teknologi campuran tanah dan limbah batu bara. Program ini diharapkan membuat hunian rakyat lebih sejuk, sehat, dan indah dipandang mata.
Kesimpulan Rakornas 2026 menjadi momentum Presiden Prabowo untuk menyatukan visi pusat dan daerah. Dari isu pertahanan global hingga urusan atap rumah rakyat, pesan utamanya jelas: Indonesia harus mandiri pangan, mandiri energi, dan memperbaiki kualitas hidup rakyatnya secara nyata, bukan sekadar angka statistik. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko