RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis hasil perhitungan atau hisab hilal jelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah pada Jumat siang (28/3). Berdasar hasil pengamatan tersebut, ada kemungkinan Idul Fitri bakal jatuh di tanggal yang sama, baik pemerintah maupun Muhammadiyah.
Pengamatan BMKG, konjungsi atau ijtimak terjadi pada Sabtu (29/3) pukul 17.57.38 WIB, dengan nilai bujur ekliptika matahari dan bulan tepat sama pada ketinggian 9 derajat. Tinggi hilal berada di rentang -3,29 derajat di Merauke, Papua hingga -1,07 derajat di Sabang, Aceh.
Nilai tersebut berarti bulan masih berada di bawah ufuk pada momen tersebut, sehingga hilal diperkirakan belum nampak pada Sabtu. Sebagai perbandingan, pada Minggu (30/3), tinggi hilal berada di kisaran 7,96 derajat di Merauke hingga 11,48 derajat di Sabang, sehingga sudah nampak di ufuk.
Kemudian, besaran elongasi geosentris bulan di Indonesia pada Sabtu saat matahari terbenam berkisar antara 1,06 derajat di Kebumen, Jawa Tengah hingga 1,61 menit di Oksibil, Papua. Sementara pada Minggu elongasi berkisar antara 13,02 menit di Merauke hingga 11,48 derajat di Sabang.
Pengamatan radarbojonegoro.jawapos.com menggunakan aplikasi perhitungan hilal BMKG, mengacu pada titik pengamatan hilal yang biasa dilakukan di Rumah Singgah dan Museum Geopark Wonocolo, Kecamatan Kedewan, diperkirakan hilal berada di ketinggian -1,89 derajat saat terjadi ijtimak sesuai perkiraan BMKG. Kemudian elongasi bulan diperkirakan sebesar 2,06 derajat pada waktu tersebut.
Pemerintah RI sendiri mengacu pada metoda Neo MABIMS (Kementerian Agama Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura) untuk menentukan hilal, dengan persyaratan imkanur rukyat atau hilal nampak apabila hilal bertinggi minimal 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat. Sehingga rentang hilal dan elongasi bulan untuk 1 Syawal baru terpenuhi pada Minggu menurut kriteria Neo MABIMS.
Sebagai perbandingan, dalam maklumat hisab hakiki Muhammadiyah yang diterbitkan pada Februari lalu, pada Sabtu ijtimak terjadi pada pukul 17:59:51 WIB, dengan tinggi hilal -1,59 derajat di Yogyakarta, sehingga disimpulkan hilal belum nampak di ufuk. Ketentuan imkanur rukyat Muhammadiyah sendiri lebih sederhana, yakni hilal nampak di ufuk meskipun nilai hisab atau penampakan visualnya sedikit.
Dari perhitungan tersebut, serta berkaca pada surah Al-Baqarah ayat 185 dan Hadist Nabi no. 1776 sebagaimana diriwayatkan oleh HR. Bukhari, umur bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari. Sehingga diperkirakan Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada Senin, 31 Maret mendatang.
BMKG turut mewanti-wanti adanya kemungkinan objek astronomi lain yang muncul saat rukyatul hilal, seperti planet Venus dan Merkurius yang juga dapat nampak di sore hari. "Adanya objek astronomis lainnya ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai Hilal," bunyi peringatan tersebut dalam rilis BKMG.
Tentu sebelum Idul Fitri ditetapkan, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) tetap melakukan rukyatul hilal atau pengamatan langsung, serta sidang isbat untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal. Sidang direncanakan diselenggarakan pada Sabtu pukul 18.30 WIB oleh Kemenag RI. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana