Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang yang Selalu Meminta Maaf, bahkan Saat Tidak Salah Ternyata Memiliki 3 Sifat Tersembunyi Ini

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 16 Januari 2026 | 17:52 WIB
Foto Vincenzo. Dari cara duduk ungkap kepribadian seseorang.
Foto Vincenzo. Dari cara duduk ungkap kepribadian seseorang.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda tidak sengaja menabrak kaki meja, lalu secara refleks mulut Anda berucap, "Eh, maaf!" kepada meja tersebut? Atau mungkin Anda sering memulai icip-icip kalimat di grup WhatsApp dengan, "Maaf mengganggu..." padahal Anda sedang menanyakan hal yang penting?

Jika Anda merasa relate, Anda mungkin termasuk dalam kelompok "Chronic Apologizers" atau orang yang selalu meminta maaf secara berlebihan.

Sama halnya dengan orang yang suka menumpuk barang yang berkaitan dengan kecemasan, kebiasaan mengumbar kata maaf ternyata bukan sekadar tanda kesopanan. Dalam kacamata psikologi, fenomena ini membuka tabir tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Apakah ini tanda kelemahan? Belum tentu. Berikut adalah bedah kepribadian orang yang hobi minta maaf menurut psikologi.

1. Memiliki Tingkat Empati yang "Brutal"

Jangan buru-buru melabeli diri Anda sebagai orang yang insecure. Sering kali, alasan utama seseorang meminta maaf secara berlebihan adalah karena mereka memiliki Empati Hiper-Sensitif.

Baca Juga: Orang yang Menyukai Barang Antik dan Gaya Vintage Biasanya Memiliki Kepribadian Menarik, Menurut Psikologi

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering minta maaf biasanya memiliki skor tinggi dalam sifat Agreeableness (Keramahan) dalam teori Big Five Personality.

Bagi tipe ini, harmoni sosial jauh lebih penting daripada ego pribadi.

2. Perfeksionis yang Takut Mengecewakan

Di balik kata "maaf" yang terus-menerus, sering kali tersembunyi jiwa perfeksionis yang menetapkan standar mustahil bagi diri sendiri.

Psikolog menjelaskan bahwa over-apologizing bisa menjadi gejala dari keyakinan bahwa segala sesuatu harus berjalan sempurna. Ketika ada hal kecil yang meleset, misalnya hujan turun saat janji temu, atau pelayan restoran salah bawa pesanan, si peminta maaf akan merasa itu adalah "kesalahan" mereka karena gagal mengantisipasi situasi.

Baca Juga: Orang yang Suka Mandi Lama Ternyata Menyimpan 3 Rahasia Psikologis Ini, Bukan Tanda Malas!

Mereka meminta maaf untuk mengontrol situasi yang tak terkendali, berharap bisa mengembalikan keadaan menjadi sempurna kembali.

3. Memiliki Kecenderungan "External Locus of Control"

Ini adalah istilah psikologi untuk menggambarkan keyakinan seseorang tentang siapa yang mengendalikan hidupnya.

Orang yang selalu minta maaf cenderung merasa bahwa faktor eksternal (pendapat orang lain, situasi lingkungan) memiliki kuasa lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Tips Psikologi: Ubah "Maaf" Menjadi "Terima Kasih"

Meskipun meminta maaf adalah tanda kesantunan, jika dilakukan berlebihan (terutama di tempat kerja), hal ini bisa menggerus wibawa dan kepercayaan diri Anda.

Baca Juga: Orang yang Suka Memakai Baju Hitam Ternyata Memiliki 3 Pesona Tersembunyi Ini Menurut Psikologi

Para pakar komunikasi menyarankan teknik reframing sederhana. Daripada meminta maaf atas keberadaan Anda, cobalah berterima kasih atas toleransi orang lain.

Kesimpulan

Menjadi orang yang selalu meminta maaf menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang peka, damai, dan peduli. Namun, ingatlah untuk menyimpan kata maaf itu untuk momen di mana Anda benar-benar berbuat salah. Anda berhak menempati ruang di dunia ini tanpa harus meminta izin atau memohon ampun setiap saat. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#wibawa #psikologi #empati #minta maaf #Terima Kasih #karakter #kepribadian #kepercayaan diri #sopan santun