RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda tidak sengaja menabrak kaki meja, lalu secara refleks mulut Anda berucap, "Eh, maaf!" kepada meja tersebut? Atau mungkin Anda sering memulai icip-icip kalimat di grup WhatsApp dengan, "Maaf mengganggu..." padahal Anda sedang menanyakan hal yang penting?
Jika Anda merasa relate, Anda mungkin termasuk dalam kelompok "Chronic Apologizers" atau orang yang selalu meminta maaf secara berlebihan.
Sama halnya dengan orang yang suka menumpuk barang yang berkaitan dengan kecemasan, kebiasaan mengumbar kata maaf ternyata bukan sekadar tanda kesopanan. Dalam kacamata psikologi, fenomena ini membuka tabir tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Apakah ini tanda kelemahan? Belum tentu. Berikut adalah bedah kepribadian orang yang hobi minta maaf menurut psikologi.
1. Memiliki Tingkat Empati yang "Brutal"
Jangan buru-buru melabeli diri Anda sebagai orang yang insecure. Sering kali, alasan utama seseorang meminta maaf secara berlebihan adalah karena mereka memiliki Empati Hiper-Sensitif.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering minta maaf biasanya memiliki skor tinggi dalam sifat Agreeableness (Keramahan) dalam teori Big Five Personality.
-
Radar Emosi Aktif: Mereka sangat peka terhadap perubahan suasana hati orang lain. Jika ada sedikit saja ketidaknyamanan di ruangan, mereka merasa bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
-
Mementingkan Orang Lain: Kata "maaf" digunakan bukan karena mereka salah, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dan tidak ingin menjadi ancaman bagi orang lain.
Bagi tipe ini, harmoni sosial jauh lebih penting daripada ego pribadi.
2. Perfeksionis yang Takut Mengecewakan
Di balik kata "maaf" yang terus-menerus, sering kali tersembunyi jiwa perfeksionis yang menetapkan standar mustahil bagi diri sendiri.
Psikolog menjelaskan bahwa over-apologizing bisa menjadi gejala dari keyakinan bahwa segala sesuatu harus berjalan sempurna. Ketika ada hal kecil yang meleset, misalnya hujan turun saat janji temu, atau pelayan restoran salah bawa pesanan, si peminta maaf akan merasa itu adalah "kesalahan" mereka karena gagal mengantisipasi situasi.
Baca Juga: Orang yang Suka Mandi Lama Ternyata Menyimpan 3 Rahasia Psikologis Ini, Bukan Tanda Malas!
Mereka meminta maaf untuk mengontrol situasi yang tak terkendali, berharap bisa mengembalikan keadaan menjadi sempurna kembali.
3. Memiliki Kecenderungan "External Locus of Control"
Ini adalah istilah psikologi untuk menggambarkan keyakinan seseorang tentang siapa yang mengendalikan hidupnya.
Orang yang selalu minta maaf cenderung merasa bahwa faktor eksternal (pendapat orang lain, situasi lingkungan) memiliki kuasa lebih besar daripada diri mereka sendiri.
-
Takut Konflik: Kata "maaf" adalah senjata pertahanan diri (defense mechanism) paling ampuh untuk mencegah konflik sebelum terjadi.
-
Haus Validasi: Dengan merendahkan diri lewat permintaan maaf, secara tidak sadar mereka berharap orang lain akan mengangkat mereka kembali dengan berkata, "Ah nggak apa-apa kok, kamu nggak salah."
Tips Psikologi: Ubah "Maaf" Menjadi "Terima Kasih"
Meskipun meminta maaf adalah tanda kesantunan, jika dilakukan berlebihan (terutama di tempat kerja), hal ini bisa menggerus wibawa dan kepercayaan diri Anda.
Baca Juga: Orang yang Suka Memakai Baju Hitam Ternyata Memiliki 3 Pesona Tersembunyi Ini Menurut Psikologi
Para pakar komunikasi menyarankan teknik reframing sederhana. Daripada meminta maaf atas keberadaan Anda, cobalah berterima kasih atas toleransi orang lain.
-
Jangan bilang: "Maaf ya saya telat." (Fokus pada kesalahan).
-
Ganti dengan: "Terima kasih sudah sabar menunggu." (Fokus pada apresiasi).
Kesimpulan
Menjadi orang yang selalu meminta maaf menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang peka, damai, dan peduli. Namun, ingatlah untuk menyimpan kata maaf itu untuk momen di mana Anda benar-benar berbuat salah. Anda berhak menempati ruang di dunia ini tanpa harus meminta izin atau memohon ampun setiap saat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko