Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspada Doomscrolling, Otakmu Sedang Dijajah Adiksi Dopamin Instan!

Bhagas Dani Purwoko

Advertisement

DOOMSCROLLING: Aktivitas doomscrolling membuat kita terjebak dalam adiksi dopamin instan.
DOOMSCROLLING: Aktivitas doomscrolling membuat kita terjebak dalam adiksi dopamin instan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda berniat membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan penting di WhatsApp, tetapi tahu-tahu sudah menghabiskan waktu hingga dua jam menonton video acak yang tidak bermutu di TikTok atau Instagram Reels? 

Advertisement

Jika ya, Anda tidak sendirian karena kita semua saat ini sedang terjebak dalam lingkaran setan yang sama, yaitu fase darurat adiksi dopamin akibat gempuran konten video pendek berdurasi 15 detik. Istilah masa kini disebut doomscrolling.

Gempuran stimulasi visual yang konstan ini secara ilmiah terbukti mendongkrak standar kesenangan otak kita secara drastis, sehingga mengakibatkan aktivitas normal harian seperti membaca buku, belajar, atau bekerja secara fokus kini terasa menjadi sangat membosankan dan melelahkan.

Setiap kali kita menggeser layar (scrolling) dan menemukan video yang lucu, estetik, atau kontroversial, otak kita akan langsung mendapatkan "suntikan" dopamin instan, zat kimia di otak yang bertanggung jawab atas rasa senang dan sistem penghargaan (reward system).

Padahal, di masa lalu, manusia harus bersusah payah menyelesaikan tugas berat terlebih dahulu untuk bisa memanen hormon kebahagiaan ini.

Ketika 'Bosan' Berubah Menjadi Barang Mewah yang Langka

Dampak dari kemudahan akses hiburan instan ini ternyata sangat masif terhadap struktur kognitif kita.

Paparan video pendek dengan algoritma yang sangat personal ini perlahan tapi pasti mengikis rentang perhatian (attention span) manusia secara ekstrem.

Kita telah bertransformasi menjadi generasi yang tidak bisa lagi menoleransi kebosanan dalam hitungan detik.

Begitu ada waktu luang sejenak, seperti saat sedang mengantre kopi di kedai atau ketika menunggu lampu merah di jalan raya, tangan kita secara otomatis dan refleks akan meraba saku untuk mencari ponsel.

Padahal, rasa bosan sebenarnya adalah hal yang sangat krusial bagi kesehatan mental dan perkembangan kognitif manusia.

Rasa bosan itu sejatinya merupakan "ruang tunggu" bagi lahirnya sebuah kreativitas. Ketika otak kita tidak dijejali oleh stimulus visual yang intens dari layar gawai, otak justru akan mulai melamun, menghubungkan memori serta ide-ide lama, hingga akhirnya menciptakan inovasi baru.

Dengan kata lain, momen-momen jenius manusia justru lahir dari sunyinya rasa bosan, bukan dari layar gawai yang bising.

Rem Darurat: 3 Langkah Praktis Melakukan 'Dopamine Detox'

Jika Anda sudah mulai merasakan gejala konsentrasi yang hancur, mudah terdistraksi, serta sering didera rasa cemas berlebih saat berada jauh dari ponsel, itu adalah sinyal kuat bahwa Anda harus segera menarik rem darurat.

Anda tidak perlu ekstrem membuang ponsel atau menghapus semua akun media sosial. Anda hanya perlu melatih ulang (rewiring) kerja otak Anda dengan tiga langkah sederhana berikut ini:

  • Terapkan Aturan 20 Menit: Saat situasi bosan mulai melanda, tantang dan tahan diri Anda untuk tidak menyentuh atau melirik ponsel sama sekali selama 20 menit pertama. Biarkan pikiran Anda mengembara secara alami tanpa tuntutan digital.

  • Ubah Layar Ponsel Menjadi Hitam-Putih (Grayscale): Menghilangkan visual warna-warni yang kontras pada layar ponsel terbukti sangat ampuh secara psikologis untuk mengurangi daya tarik estetika dari aplikasi media sosial, sehingga otak tidak lagi menganggap ponsel sebagai objek yang menarik.

  • Jadikan Bosan sebagai Teman Baik: Mulailah melatih diri untuk menikmati momen menunggu tanpa melakukan aktivitas digital apa pun. Berikan hak bagi mata Anda untuk melihat lingkungan nyata di sekitar, bukan terus-menerus menunduk menatap layar kaca.

Mari kita mulai berkomitmen untuk berhenti menyuapi otak kita dengan "makanan cepat saji" digital secara berlebihan. Hentikan doomscrolling.

Sudah saatnya kita belajar menghargai dan menikmati kembali sunyinya kebosanan, karena di dalam keheningan itulah sebenarnya titik kewarasan dan kreativitas tertinggi kita berada. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sering Doomscrolling Saat Kerja? Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pikiran Makin Sulit Beristirahat

Sering Doomscrolling Saat Kerja? Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pikiran Makin Sulit Beristirahat

Kebiasaan membaca berita negatif secara terus-menerus saat jam kerja dapat membuat pikiran justru semakin sulit beristirahat.

Orang Tua Harus Stop Menghibur Anak Saat Mereka Mengaku Bosan, Begini Menurut Psikologi

Orang Tua Harus Stop Menghibur Anak Saat Mereka Mengaku Bosan, Begini Menurut Psikologi

Jangan langsung beri ponsel saat anak bilang bosan! Psikolog klinis membongkar bahaya kebosanan kronis dan mengapa membiarkan anak bosan justru melatih kemandirian, ketangguhan mental, dan kreativitas mereka sejak dini.

Kenapa Kita Sering Membayangkan Skenario Buruk Sebelum Sesuatu Terjadi?

Kenapa Kita Sering Membayangkan Skenario Buruk Sebelum Sesuatu Terjadi?

Ketika menghadapi sesuatu yang belum diketahui hasilnya, pikiran dapat membuat berbagai skenario. Dalam kondisi tertentu, membayangkan kemungkinan masalah bisa membantu seseorang mempersiapkan rencana cadangan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer