Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sejarah Panjang dan Makna dari Budaya Sekaligus Fenomena Thrifting: Dari Gaya Hidup Hemat hingga Gerakan Fashion Berkelanjutan?

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 3 Oktober 2025 | 03:26 WIB
THRIFTING: Jargon salah satu thrift shop di Arizona, AS ialah reduce, reuse, dan recycle.
THRIFTING: Jargon salah satu thrift shop di Arizona, AS ialah reduce, reuse, dan recycle.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tren thrifting atau membeli pakaian atau barang bekas kini makin melekat sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda atau gen Z.

Bukan hanya soal harga miring, thrifting juga mencerminkan ekspresi diri, kepedulian lingkungan, serta peluang bisnis kreatif.

Di tengah stigma negatif dan regulasi yang ketat, fenomena ini tetap tumbuh dan memengaruhi budaya konsumsi.

Tren thrifting menjamur seantero Indonesia sejak tahun 2000-an. Karena efek dari media sosial yang didengungkan para influencer, thrifting menjadi semakin populer. 

Sejarah Awal Mula Budaya dan Fenomena Thrifting (1760-1840)

GOODWILL INDUSTRIES.
GOODWILL INDUSTRIES.

Menurut Ghesa Gafara dalam artikel A Brief History of Thrifting di USS Feed (2019), fenomena thrifting berawal ketika revolusi industri terjadi, sekitar 1760-1840.

Pada revolusi industri saat itu, terjadi perubahan pemikiran bahwa pakaian adalah barang yang digunakan sekali pakai.

Akibatnya, jumlah pakaian bekas meningkat. Pakaian bekas tersebut biasanya digunakan oleh para imigran.

Kemudian, keadaan berbalik pada 1920 ketika terjadi krisis besar-besaran di Amerika Serikat (AS). Banyak orang tidak memiliki pekerjaan.

Ditambah jatuhnya bursa saham New York. Masyarakat AS saat itu bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membeli pakaian baru.

Sehingga, mereka memilih alternatif untuk berbelanja di thrift shop. Sedangkan, untuk orang berkecukupan, tempat ini dijadikan sebagai wahana untuk donasi.

Pada masa kini thrift store dikategorikan sebagai department store. Saat itu, Goodwill Industries adalah salah satu thrift shop terbesar di AS yang memiliki stok pakaian dan peralatan rumah tangga yang siap menyuplai lebih dari 1.000 rumah tangga.

Gerakan ini berhasil mengubah paradigma dan stigma terhadap thrift shop sebagai medium untuk bakti sosial.

Makna Kata Thrifting

KURT COBAIN DAN THRIFTING.
KURT COBAIN DAN THRIFTING.

Budaya thrifting terus bergulir sejak abad ke-18 hingga abad ke-21. Thrifting beririsan dengan budaya musik yang sedang digandrungi masyarakat dunia. Seperti era Kurt Cobain dengan musik grunge. 

Kata thrifting sendiri, memiliki beberapa makna. Karena meskipun dianggap sebagai aktivitas membeli barang bekas, seharusnya dari dulu sudah ada yang namanya junk shop atau kita menyebutnya sebagai toko loak.

Pembedanya, thrifting fokus pada barang sandang (pakaian, celana, topi, kaus, jaket, sepatu, dan sebagainya). Sedangkan, toko loak atau junk shop menjual aneka barang bekas seperti furnitur, barang elektronik, dan sebagainya.

Menurut etymonline, secara harfiah makna kata thrift artinya hemat. Namun, ada juga yang menyebut kata thrift diambil dari bahasa old norse yang bermakna thrive (kemakmuran, berkembang).

Namun, pada dasarnya, aktivitas thrifting ialah membeli baju bekas dalam rangka berhemat guna menuju kemakmuran. 

Karena perlu dipahami, thrifting merupakan antitesis dari fenomena fast fashion di Amerika Serikat maupun Eropa. Mengingat, negara dengan iklim subtropis butuh penyesuaian baju di setiap musimnya.

Tak heran, masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah menjadi sangat terbantu dengan adanya thrift shop. Selain itu, semangat thrifting tentu sustainability (berkelanjutan). Juga mendukung zero waste. 

Fenomena Thrift Shop Masuk di Indonesia

DALBO FEST DI MALANG.
DALBO FEST DI MALANG.

Banyak sumber menyebut, budaya thrifting masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990-an, namun bisa dipastikan namanya belum thrifting. Intinya, beli baju bekas.

Adapun awal mulanya berkembang di wilayah pesisir Indonesia. Lantaran baju bekas tersebut memang merupakan barang impor dari luar negeri.

Karena ada kecenderungan sifat inferior, otomatis permintaan akan baju bekas impor ini menjadi sangat tinggi di Indonesia. Para muda-mudi dari era 1990-an hingga merasa lebih bangga memakai baju bekas, yang penting impor.

Padahal sebenarnya, masyarakat Indonesia tinggal di negara beriklim tropis yang mana tidak memiliki urgensi gonta-ganti pakaian.

Makanya jangan heran, ketika melihat ada seorang pemuda mengenakan jaket parka berbulu angsa sedang menyaksikan tim sepak bola lokal kesayangannya di tribun stadion kala siang hari di bawah terik matahari. Mungkin dia merasa sedang tinggal di Birmingham.

Ketika awal 2000-an, kata thrifting mungkin baru dikenal di wilayah kota-kota besar. Kota-kota kecil besar kemungkinan punya namanya sendiri. 

Seperti di Malang, banyak orang menyebut thrifting dengan kata ndalbo. Lalu, di Bojonegoro, orang-orang menyebutnya awul-awul. 

Barulah di era 2010-an ke atas, kata thrifting menjadi awam di telinga seluruh masyarakat Indonesia. 

Budaya Thrifting Bergeser, Hanya Kejar Gengsi

Harus diakui, budaya thrifting dalam 10 tahun terakhir hanya jadi ajang kejar gengsi. Semangat sustainability telah gugur. 

Karena lagi-lagi, warga Indonesia tidak punya urgensi gonta-ganti pakaian. Tidak ada musim salju di Indonesia.

Hanya musim kemarau dan musim hujan yang mana nyawa tidak terancam, meskipun seharian kehujanan tanpa mengenakan jaket.

Sedangkan di Eropa? Ancamannya nyawa melayang kalau tidak pakai jaket tebal saat musim salju. Jadi, alhasil banyak pemuda di Indonesia berpedoman 'tidak apa-apa bekas, yang penting branded'.

Baca Juga: Celana Cutbray Kembali Menjadi Tren Fashion di Kalangan Anak Muda Gen Z

Tak jarang, harga baju atau sepatu di thrift shop itu mahalnya naudzubillah. Tembus jutaan hingga puluhan juta rupiah. Hanya karena branded.


Lima Fakta Menarik di Balik Fenomena Thrifting yang Wajib Diketahui!

1. Hampir Setengah Populasi Penduduk di Indonesia Pernah Mencoba Thrifting

Sebuah survei oleh GoodStats pada Agustus 2022 menemukan bahwa 49,4 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah membeli pakaian hasil thrifting.

Sementara, 34,5 persen belum pernah mencoba dan 16,1 persen mengatakan mereka tidak akan pernah membeli barang thrift.

Hal ini menunjukkan, bahwa thrifting bukan lagi aktivitas minor, melainkan sudah cukup populer dalam kebiasaan berbelanja masyarakat Indonesia.

Studi lokal juga mengungkap bahwa di pasar tradisional terkenal seperti Pasar Senen, Jakarta, kegiatan jual-beli pakaian bekas telah menjadi bagian dari ekosistem komersial lama.

2. Thrifting Sebagai Ekspresi Identitas dan Gaya

Berburu barang preloved memungkinkan seseorang mengekspresikan individualitas lewat pilihan yang unik: warna retro, motif eksotis, atau potongan yang tak umum di retail konvensional.

Dalam kerangka semiotik mode, pakaian menjadi “bahasa nonverbal” individu, “apa yang kita pakai bicara tentang siapa kita.”

Bagi banyak anak muda, sensasi menemukan barang “rare” atau terkesan vintage memberi nilai emosional tersendiri: bukan sekadar beli, tetapi “menemukan”.

3. Menjadi Alternatif Hemat dengan Peluang Kualitas Premium

Salah satu daya tarik utama thrifting adalah harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan barang baru.

Namun, menariknya, banyak barang preloved yang masih dalam kondisi baik atau berasal dari brand ternama. Kombinasi harga rendah dan kualitas memancing konsumen berpikir: “Mengapa membeli baru jika yang bekas bisa bagus?”

Faktor ini semakin relevan di tengah tekanan ekonomi dan keinginan untuk tampil stylish tanpa menguras kantong.

4. Fenomena Global dengan Dampak Lingkungan

Secara global, industri fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar. Menurut Ellen MacArthur Foundation, industri mode menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun.

Menggunakan kembali pakaian melalui thrifting dapat memperpanjang umur produk dan mengurangi tekanan produksi baru.

Di Indonesia sendiri, angka impor pakaian bekas juga mencatatkan tren signifikan. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2023, Indonesia mengimpor pakaian bekas seberat 12,85 ton, meskipun volume ini tercatat turun dari tahun sebelumnya.

Namun, di sisi lain, laporan teknologi media menyebutkan bahwa impor pakaian bekas pernah meningkat hingga 302 kali lipat dibandingkan periode sebelumnya dalam konteks tertentu.

Semakin tingginya aktivitas impor serta perdagangan thrifting menunjukkan bahwa gerakan ini bukan sekadar tren lokal, melainkan bagian dari dinamika pasar global dan konsumsi mode bekas.

5. Peluang Bisnis dan Ketegangan Regulasi

Tren thrifting tak hanya mendorong konsumsi ulang, tetapi juga menciptakan peluang wirausaha. Banyak generasi muda yang menjual kembali barang bekas melalui platform daring maupun toko fisik, dengan model kurasi, perbaikan ringan, dan branding kreatif.

Di sisi regulasi, Indonesia memiliki batasan tegas terhadap impor pakaian bekas. Permendag No. 51 Tahun 2015 melarang impor pakaian bekas ke Indonesia, dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 40 Tahun 2022 memperkuat daftar barang larangan impor.

Meski demikian, bisnis thrifting impor ilegal masih marak. Pada 2024, upaya penertiban skala besar dilakukan: pemerintah memusnahkan 824 bal pakaian senilai sekitar Rp10 miliar dan penyitaan ribuan bal pakaian bekas impor oleh aparat hukum.

Beberapa faktor yang membuat bisnis ini tetap eksis antara lain:

• Permintaan tinggi terhadap pakaian bekas impor (terutama brand luar negeri) meski harga dan risiko regulasi.

• Potensi keuntungan signifikan. Pedagang thrift di beberapa daerah melaporkan omzet jutaan rupiah per bulan.

• Ketidakjelasan sanksi tegas terhadap semua pelaku dan tantangan pengawasan distribusi barang impor bekas melalui jalur kecil.

Fenomena thrifting telah berkembang jauh dari sekadar strategi hemat. Ia menjadi gabungan ekspresi diri, kesadaran lingkungan, peluang usaha, dan komunitas sosial.

Meski regulasi melarang impor, aktivitas thrifting tetap bertahan dan bahkan tumbuh dalam ruang ekonomi kreatif.

Untuk media massa atau platform daring, menyajikan artikel thrifting bukan sekadar “topik gaya” ringan, tetapi juga kesempatan menghubungkan pembaca dengan diskusi tentang keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan regulasi konsumsi. (*/bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Budaya #Toko Loak #goodwill #Gaya Hidup #thrift #Thrifting #fenomena #tren #baju bekas #kurt cobain #Junk Shop #Sustainability #hemat #fashion