Karya:
MUHAMMAD NURSHOLEH
Siswa kelas X DKV-2 SMK Negeri 1 Lamongan
Hujan di malam itu terasa sangat berbeda. Gemuruh petir menyambar di mana-mana. Lampu sesekali padam dan membuat suasana semakin mencekam. Aku melihat ada seorang lelaki tua berdiri tidak jauh dari depan rumahku. Dia tanpa bergerak sedikit pun. Dia melihat ke arah jendela kamarku dengan tatapan yang mengerikan. Aku ketakutan pada saat itu. Aku lari ke kamar orang tuaku.
Orang tuaku heran karena tingkahku. Papaku mulai bertanya.
“Kamu kenapa nak? Apa kamu melihat sesuatu?“ tanya papa
Aku tidak menjawab langsung pertanyaan papaku. Aku memeluk kedua orang tuaku dengan badan yang masih gemetaran. Mamaku sesekali mengusap kepalaku agar aku merasa tenang. Tak terasa rasa takutku perlahan menghilang dan aku pun mulai tertidur. Pagi pun tiba. Aku dibangunkan ibuku untuk bersiap-siap pergi sekolah. Pada saat di meja makan, aku di tanya oleh papaku.
“Nak, semalam kamu kenapa?“ tanya papaku.
“Semalam aku melihat lelaki tua yang menatap ke jendela kamarku dengan tatapan yang mengerikan, Pa,“ ucapku.
“Lelaki tua?“ tanya papaku yang tekejut.
“Iya, Pa. Dia tidak bergerak sedikit pun dan lampu kamarku sesekali padam dan hidup kembali,“ jawabku dengan nada yang sedikit gemetar.
Setelah mendengar itu, papa dan mamaku saling menatap dengan ekspresi yang kebingungan. Tak lama setelah itu aku berangkat sekolah dengan diantar oleh papaku dengan menaiki motor. Namun, di tengah jalan aku tak sengaja melihat sekilas lelaki tua itu sedang berdiri di balik pohon besar. Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Aku memilih melupakannya.
Sesampainya di sekolah, aku belajar seperti biasa. Aku dan teman-temanku juga mengikuti pelajaran dengan baik tanpa menganggap berat pelajaran yang diberikan. Pada saat istirahat aku memakan bekal yang dibawakan oleh ibuku. Pada saat sedang menikmati makan, lagi-lagi aku melihat lelaki tua itu dengan wajah yang menyeramkan. Aku berlari ke guruku dan meninggalkan bekalku.
“Ada apa lari-lari?“ tanya guruku.
“Di sana, Bu. Ada lelaki tua yang selalu mengikutiku,“ jawabku sembari memeluk guruku.
“Lelaki tua? Di mana?“ tanya guruku.
“Di sana, Bu. Di balik pohon itu, Bu “ jawabku dengan ketakutan.
Tanpa pikir panjang, pelan-pelan aku yang bersembunyi di belakang guruku mendekat ke pohon tersebut. Namun, di sana guruku tidak menemukan satu orang pun berada di balik pohon tersebut. Setelah itu, guruku menelepon papaku untuk menjemputku supaya istirahat di rumah. Sesampainya di rumah, mamaku bertanya padaku.
“Kenapa, Nak? Katanya kamu ada masalah di sekolah?“ tanya mamaku dengan khawatir.
“Tadi di sekolah aku melihat lelaki tua itu lagi, Ma. Aku takut lalu lari menemui guruku,” jawabku dengan ketakutan.
“Astaga, Nak. Ya, sudah kamu tidur saja.“
“ Iya, Ma.“
Setelah aku tidur, malamnya hujan turun dengan sangat deras. Petir menyambar dengan keras. Aku berada di kamarku untuk belajar. Di bawah aku mendengar suara teriakan. Teriakan itu membuatku ketakutan. Aku memberanikan diri keluar kamar untuk melihat situasi. Tak kusangka ada dua orang memakai pakaian serba hitam yang memegang pisau di tangannya. Setelah itu, aku melihat kedua orang tuaku ditikam dan dirobek perutnya menggunakan pisau itu. Kemudian, kedua orang itu memotong-motong tubuh kedua orang tuaku menjadi beberapa bagian kecil. Aku yang melihat itu hanya bisa menjerit tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tangisanku didengar oleh kedua orang tersebut. Salah satu dari kedua orang itu lari menghampiriku. Tak disangka, dari belakang aku diseret lalu digendong oleh lelaki tua yang selama ini aku lihat. Dia naik ke kamarku dengan menggunakan tangga yang berada di rumahku. Pada saat itu aku di bawa lari ke dalam hutan supaya kedua perampok tersebut tidak bisa mengejarku. Aku di bawa ke rumahnya yang berada tak jauh dari permukiman warga. Setelah aman, aku diberi makan oleh lelaki tua itu. Namun, karena aku tidak mengenalnya dan masih teringat kejadian yang menimpa orang tuaku, aku tidak memakan makanan yang diberi lelaki tua itu.
Lelaki tua tersebut menyuruhku makan agar aku bisa tumbuh dengan sehat. Karena kesal, aku membuang makanan itu. Lelaki tua itu marah lantaran makanan pemberiaanya itu kubuang.
“ Hai, Bocah! Dengarkan aku! Kamu itu hanya anak yang tidak punya orang tua lagi. Aku sudah berbaik hati kepadamu dengan memberimu makanan. Akan tetapi, kamu malah membuang makanan itu,” ucap lelaki tua tersebut dengan suara yang lantang.
Aku hanya bisa menangis karena mendengar perkataan lelaki tua itu. Bukan karena aku takut dengannya, melainkan aku teringat kembali tentang kedua orang tuaku. Ketakutan itu semakin mencengkram jiwaku karena suara petir bersahutan di langit. Maklumlah sejak kecil aku takut dengan petir yang terus menerus menyambar dengan keras.
Ketakutan suara petir itu tiba-tiba tidak terasa lagi. Aku benar-benar tidak merasakan apa-apa. Tanganku bergerak meraba perutku. Aku merasa ada benda cair di perut. Telapak tangan yang menjamah benda cair itu kuangkat sambil kulihat perlahan. Ternyata benda cair itu bewarna merah dan berbau amis. Darah. Ya, darah segar muncrat dari perut. Aku ditusuk lelaki tua itu menggunakan pisau di bagian perutku karena kesal denganku. Lelaki tua itu mencongkel mataku dan mengambil semua organ di dalam tubuhku.
Paginya rumahku dipenuhi oleh orang-orang dan polisi untuk menyelidiki kasus pembunuhan di rumahku. Aku ditemukan tewas di hutan oleh seorang nenek tua pencari kayu dan dimakamkan di kuburan desaku bersebelahan dengan makam kedua orang tuaku. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana