Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

KEMARAU

Eka Fitria Mellinia • Minggu, 8 Oktober 2023 - 19:10 WIB
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Pohon-pohon meranggas. Daun-daun kering berguguran. Ranting-ranting terlihat kurus terbungkus kulitnya yang mengelupas. Wajahnya semakin keriput terbakar terik matahari yang semakin menggila. Terik panasnya melahap pepohonan menjadi semakin menua. Tak sedikit tetumbuhan menjadi layu dan mati terkena sengatannya. Alam semakin tak berdaya tanpa hujan yang tak kunjung datang. Di hampir sepuluh bulan musim ini. Petak-petak sawah  yang terhampar luas menyanyikan lagu duka. Tubuhnya pecah-pecah menjadi beberapa bagian. Laksana ular tangga yang dimainkan anak-anak saat siang hari. Naik-turun tak beraturan. Kadang terperosok di bagian paling bawah.

 Terdengar lirih suara angin menguap dari ladang membawa hawa panas ke perkampungan. Banyak hewan ternak mati karena sulitnya sumber air. Padahal dahulu sumber air melimpah di perkampungan tersebut. Semenjak hutan lindung yang tak jauh dari perkampungan mereka dibabat habis oleh keserakahan segelintir orang. Akibatnya berimbas pada kerusakan ekosistem lainnya. Danau mengering dan sungai-sungai tanpa percik air. Dari kedalaman sungai tersebut terdapat banyak bangkai perahu. Bangkai perahu itu tak lagi mampu melaju. Di sisi bangkai perahu itu terdapat sebuah batang dayung. Batang dayung tersebut tergeletak tak berdaya terendam tanah kering berbulan-bulan. Tak jauh dari bangkai perahu. Terlihat sekumpulan burung bangau bergerombol. Mencari seteguk air untuk menyambung kehidupan mereka. Tapi hasilnya nihil. Tak lama terlihat mereka menggelepar  mati karena kelaparan dan kehausan. Situasi semakin sulit. Tak mampu terpecahkan jika hanya mengandalkan otak semata.

 

Butiran tasbih berputar perlahan dari jari-jari Misbach. Lelaki bersahaja itu mengawasi kejadian tersebut dengan hati penuh pengharapan. Ia salah satu pemuda pemilik sumur tua yang menjadi andalan warga kampung saat kemarau melanda. Di saat sumur warga yang lain kering keronta tanpa sumber air. Sumur milik Misbach lah yang tetap mengalir dan memancar. Misbach, Pemuda miskin yang belum lama ditinggal mati oleh ayah dan ibunya karena penyakit yang menahun itu, pernah mengalami  kejadian yang kurang  menyenangkan. “Orang miskin tak boleh sakit”, begitulah sindiran yang  pernah diterima warga saat ibunya sakit parah. Ia masih teringat betul celaan yang diterimanya saat itu. Bukan rasa dendam  yang terpendam saat ini. Tetapi rasa pengharapan yang mendalam atas peristiwa yang dialaminya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal. Ia hijrah dari kampungnya menimba ilmu agama ke pondok pesantren. Bersama Kyai Kholil ia tahu hakikat hidup dan kehidupan yang sebenarnya. “ Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau semata” ucap Kyai Kholil mengutip potongan ayat dalam kitab suci. “ Jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah  akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu” Sambung kyai Kholil dengan tutur kata lembut menasihatinya. Tak berapa lama kemudian kyai kharismatik itu bergegas meninggalkan Misbach menuju peristirahatannya.  

Bulan terlihat terang malam ini. Pepohonan yang mengelilingi pondok pesantren seakan ikut gembira dengan sorot cahaya bulan yang menerangi. Daun-daun terlihat asyik ngobrol tentang tunas yang baru tumbuh. Burung-burung yang membuat sangkar di atas dahan pun larut dalam suasana kegembiraan. Sebentar lagi ia akan memiliki generasi penerus yang akan mewarisi estafet kepemimpinannya. Maklum, dialah burung yang paling cerdik dan bijak diantara burung yang lain. Sehingga sekawanan burung itu sepakat bahwa “Dodot” layak menjadi pemimpin bagi mereka. Selepas kepergian sang Kyai. Misbacah keluar dari dalam pondok menuju ke halaman pesantren. Ia duduk di bangku yang agak panjang dan rebahan di bawah rimbun pepohonan. Tak berapa lama ia rebahkan tubuhnya sambil kepalanya tengadah ke langit. Nampak wajahnya dirundung kekalutan dari balik cahaya bulan purnama yang menerangi. Misbach sedang tergoncang hatinya menerima kenyataan pahit. Ia tak bisa melepaskan kerinduan yang mendalam kepada emak dan bapaknya itu. Ditengah-tengah kekalutan, ia tersadar akan persoalan yang menghimpitnya. Bukankan setiap jiwa akan diuji dengan ujiannya masing-masing. Bukankah setiap jiwa juga tak akan menerima ujian di luar batas kemampuannya masing-masing. Kepalanya tengadah ke langit. Wajahnya berbinar  memandangi cahaya bulan dan kerlip bintang-gumintang bertaburan di atas langit. Ia tak mampu berucap melihat penciptaan semesta yang tiada cacat sedikitpun, kecuali mengagungkan nama kebesaran tuhan.

Pagi belum sepenuhnya meninggalkan jejaknya. Hawa panas sudah mulai terasa menyebar. Ketika orang-orang berduyun-duyun sedang mengantre panjang menunggu giliran untuk mengambil air. Kadang karena kurang sabarnya mengantre. Warga berebutan dan terjadi percekcokan panjang. Akibat percekcokkan itu akhirnya timbul perkelahian antar warga. Saat warga adu mulut,  tiba-tiba dari balik sumur tua itu munculah Badrun dengan melemparkan dirigen kosong di hadapan para warga. Sambil mengacung-acungkan golok di tangan. Badrun mengambil posisi terdepan. Warga mulai terlihat mundur untuk menyelamatkan diri. Badrun memang memiliki pringai kasar dan beringas. Preman desa itu pernah mendapatkan jatah paling banyak saat pengundulan hutan lindung. Kasuk-kusuk warga mulai terdengar dari kejauhan. Mereka hanya berani mengungkapkan kekesalan hatinya bersama  tetangga dekatnya. Suasana mulai ricuh akibat ulah Badrun. Warga mulai  tak terkendali. Mereka merangsek ke depan tanpa memedulikan antrean. Akibatnya banyak warga yang terjepit dan terinjak-injak temannya sendiri. Suasana semakin memanas. Tangis ibu-ibu bersama anak-nya membuat suasana semakin gaduh. “Tolong anak saya, tolong anak saya, “, ucap Marti meminta tolong. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri dari situasi yang mencekam itu. Puncak dari kericuhan tersebut memakan korban jiwa. Mbah Kasimun tergeletak tak bernyawa akibat terinjak-injak oleh warga . Setelah beberapa waktu berlalu. Situasi meredah. Tinggal tersisa sandal jepit dan beberapa uang koin tercecer di sebelah sumur tua. Sedangkan jenazah mbah Kasimun segera dirawat dan dimakamkan di pemakaman desa.

Sore datang menjelang. Terlihat sekawanan burung gagak terbang rendah di langit. Berputar-putar membawa kabar berita. Tak berapa lama mendekat ke sumur tua milik keluarga Misbach. Mereka berebutan meminum air yang mengenang di sekitar sumur itu. Berita sumur yang terus mengalir dan tak pernah habis itu karena kebaikan pemiliknya. Dahulu keluarga miskin itu tak pernah mengeluh atas taqdir yang telah diterimanya. Hidup dalam kemiskinan bukan menjadi penghalang untuk bersyukur. Karena keikhlasannya,  mereka bisa menjalani hidup dengan apa adanya. Kemiskinan bukan penghalang bagi mereka untuk bisa berbagi. Pohon jambu depan rumah mereka saat berbuah lebat. Menjadi sarana untuk berbagi. Buah jambu tersebut dibagikan secara cuma-cuma ke tetanggannya. Bahkan anak-anak yang memanjat pohon untuk mengambil buah jambu dibiarkan begitu saja. Kisah sumur tua yang terus mengalir itu juga berasal dari kebaikan keluarga Misbach. Pernah pada saat hajatan warga yang  tidak memiliki sumur untuk kebutuhan dapur dan mandi. Mereka dapat  menggunakan sumur itu untuk memenuhi hajatan tersebut. Mungkin keikhlasan dan kedermawanan almarhum menjadi berkah tersendiri terhadap apa yang telah ditinggalkannya selama ini. Sekawanan burung gagak  yang bertengger di ranting pepohonan dekat sumur tua itu tak mau pergi. Seakan ada sesuatu yang ditunggu-tunggu di malam ini.

Butiran tasbih berputar perlahan dari jari-jari Misbach. Lelaki bersahaja itu mengawasi kejadian sekitar dengan hati penuh pengharapan. Dalam remang cahaya sesosok bayangan masuk ke dalam rumah. lalu ia duduk di ruang tamu sambil melihat foto bersama emak dan bapaknya. Matanya berkaca-kaca mengenang kebaikan almarhum. Diambilnya foto tersebut dan diciumnya dalam-dalam. Ia berdiri mematung dalam dekap malam. Doa-doa mengalir jernih dari mulutnya yang  tak pernah kering dari kalimat toyibah. Hatinya penuh harap agar almarhum mendapatkan kehidupan yang layak dan terhormat di sisi-Nya. Tak berapa lama ia masuk ke kamar tidurnya. Potongan-potongan kenangan masih tergambar jelas. Sebuah amben kayu dengan tikar pandan masih  tergelar rapi. Mimpi menjadi orang sukses pernah di tulisnya di dinding kamarnya dengan tanganya sendiri. “Bangkit, Maju, dan Raih Mimpi”, kalimat ini yang menjadi pengharapan hidupnya. Ia tersenyum mengeja satu demi satu kata yang ditulisnya beberapa tahun silam. Menjadi orang yang sukses, mapan, dan terkenal merupakan dambaan semua orang. Tetapi kadang antara mimpi dan realita kehidupan itu berbeda.

Tak lama kemudian ia keluar dari ruang tidurnya dan beranjak ke luar rumah. Sesampai di halaman rumah,  ia lalu duduk di sebuah amben kayu yang bentuknya melengkung. Disinilah biasanya ia menghabiskan malam untuk menghilangkan penat selama seharian bekerja di sawah. Lukisan malam dan suara-suara binatang menjadi sahabat setia. Ia pernah berharap menjadi orang sukses dan membangun rumah idamanya di bawah pohon jati. Sungguh mimpi yang indah jika itu terwujud. Memadukan keasrian alam dengan kontruksi bangunan yang alami. Tetapi itu hanya ada di khayalan semata. Alam yang ditempatinya sekarang sudah berubah drastis. Tidak ada yang bisa ia harapkan dari keculasan dan keserakahan warga di sini. Belum lagi arena maksiat sudah menjamur. Judi online, pesta miras, obat-obatan terlarang sudah masuk di desa ini. Pergaulan muda-mudi yang kebablasan. Seks bebas dan gonta-ganti pasangan sudah biasa. Pantas saja alam memberikan alarm kemarau berkepanjangan ini. Biar mereka bisa merasakan akibat ulah tangannya sendiri.

Burung gagak yang bertengger persis di atas kepala Misbach. Malam ini juga mereka ikut larut dalam kesedihan. Kak...kak...kak...suaranya mengabarkan berita duka. Bangkai mayat hewan hampir setiap malam menjadi santapanya. Suara kematian itu semakin dekat. Kabar hewan ternak warga  yang mati akibat kemarau panjang ini ditaksir sekitar sembilan puluh lebih. Dalam senyap malam Misbach berharap kemarau ini segera sirna. Hujan segera turun. Agar bumi kembali basah. Sungai-sungai mengalir sampai jauh. Tumbuh biji-bijian dalam perut bumi. Pohon-pohon kembali tumbuh dengan subur. Daun-daun hijau berseri. Sejuk dipandang mata. Butiran tasbih berputar perlahan dari jari-jari Misbach . Ia berdoa di sepertiga malam ini bersama bintang-gumintang . Di hening lagu duka dan kematian ia memohon. “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat”. Segala doa ia rapalkan membuka pintu langit. Mengugah Jiwa-jiwa yang kotor segera mencuci lumut diri. Agar bumi kembali merestui.(*)

Bumi Utara, 4 Oktober 2023

*SUHARSONO A.Q.S

Penulis cerpen

 

Editor : Eka Fitria Mellinia
#cerpen #Ekosistem #sumur #pohon #kering #Sumber Air #bojonegoro #Kemarau