RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Saat peralihan musim, masyarakat sering kali mengubah pola konsumsi makanan dan minuman mereka. Di musim kemarau, misalnya, banyak orang lebih cenderung mengonsumsi minuman dingin dan manis untuk menyegarkan tubuh.
Sementara di musim hujan, makanan dan minuman hangat menjadi pilihan utama. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perubahan pola makan ini tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
Kepala Instalasi Gizi RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Ida Irawati memberikan beberapa panduan penting terkait perubahan konsumsi makanan dan minuman di tengah peralihan musim ini.
’’Pada saat kemarau, banyak orang yang mengonsumsi minuman dingin dan manis yang dapat meningkatkan asupan glukosa dalam tubuh,” ungkap Ida. ’’Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, maka dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan berisiko menyebabkan penyakit diabetes mellitus (DM),” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya membatasi konsumsi minuman manis, terutama di musim kemarau. ’’Konsumsi minuman dingin diperbolehkan, tetapi sebaiknya tanpa gula,” tambahnya. Di musim hujan, banyak orang yang beralih mengonsumsi makanan dan minuman hangat.
Meskipun minuman hangat dapat memperlancar metabolisme tubuh, Ida memperingatkan, bahwa penambahan gula pada minuman hangat juga bisa berdampak buruk. Selain itu, makanan hangat cenderung meningkatkan nafsu makan. Apabila tidak diatur, bisa berakibat pada kelebihan kalori. Karena itu, asupan makanan tetap harus diperhatikan.
Selain itu, Ida juga menyarankan beberapa jenis makanan yang dapat membantu menjaga kesehatan tubuh di tengah peralihan musim. ’’Penting untuk mengonsumsi sumber protein dan omega-3 seperti ikan, seafood, serta buah, dan sayur segar yang kaya akan vitamin A, C, dan E seperti brokoli, bayam, tomat, dan jeruk,” ujarnya.
Makanan fermentasi seperti yoghurt dan tempe juga penting karena mengandung probiotik yang bermanfaat bagi pencernaan. Selain asupan makanan, hidrasi juga merupakan hal penting. Ida merekomendasikan minum air putih minimal dua liter per hari.
Lemak tak jenuh yang dapat diperoleh dari kacang-kacangan juga baik untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat menghindari makanan yang mengandung gula, garam, dan lemak tinggi.
Ida juga menekankan pentingnya penyimpanan makanan yang benar, terutama pada musim hujan. ’’Pada musim hujan, kelembapan tinggi dapat membuat makanan lebih cepat rusak dan berjamur,” jelasnya.
Proses penyimpanan yang sesuai harus dilakukan agar makanan, baik yang kering maupun basah, dapat bertahan lebih lama. Terkait dengan peningkatan daya tahan tubuh di musim hujan, Ida menyarankan konsumsi suplemen jika asupan makanan sehari-hari tidak mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral.
’’Suplemen seperti vitamin C, vitamin D, dan zink dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, terutama di musim hujan saat risiko terkena penyakit seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat,” tambahnya.
Selain itu, aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari juga penting untuk menjaga kebugaran tubuh. Ida juga memberikan tips khusus untuk lansia dan anak-anak dalam menghadapi peralihan musim.
Untuk lansia, penting untuk mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, memperbanyak asupan buah dan sayur, serta rutin berolahraga dan menjaga kesehatan mental. Sementara, untuk anak-anak, Ida menekankan pentingnya memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Terutama protein hewani yang penting untuk pertumbuhan, seperti daging, susu, dan telur.
Adapun kunci untuk menjaga kesehatan di tengah peralihan musim adalah dengan menerapkan pola makan seimbang dan menjaga kebersihan. ’’Biasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan dan setelah beraktivitas,” tegasnya. Dengan menjaga pola konsumsi dan menerapkan gaya hidup sehat, masyarakat dapat terhindar dari penyakit dan tetap bugar selama peralihan musim. (fra/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana