RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bursa Kerja Khusus (BKK) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dinilai sangat tepat sebagai jembatan antara siswa dan dunia industri. Keberadaannya diklaim dapat membantu menekan angka pengangguran daerah. Namun, belum semua siswa di Bojonegoro tertarik dan ikut serta dalam program ini.
Kepala Seksi (Kasi) SMK Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban Unsa Hudiana menyampaikan, secara umum semua SMK adalah BKK.
Adapun peran BKK SMK, di antaranya memfasilitasi informasi lowongan-lowongan kerja, penyalur resmi lulusan SMK, dan penghubung antara lulusan SMK dengan dunia usaha atau industri.
Juga, berperan untuk memberikan pembekalan kesiapan kerja serta monitoring kepada alumni SMK. “Peran lain, seperti pembekalan kesiapan kerja dan tracer study atau monitoring alumni sebagai bahan evaluasi serta peningkatan layanan penyaluran lulusan,” terangnya.
Dia menilai, adanya BKK SMK juga berperan dalam upaya penekanan angka pengangguran di Bojonegoro. “Sangat tepat (berperan dalam menekan angka pengangguran daerah),” lanjutnya.
Terpisah, Rifai, siswa SMK Negeri Dander mengatakan, di sekolahnya memang terdapat program BKK. Namun, tidak diwajibkan untuk semua siswa. Melainkan, hanya siswa yang berminat saja yang mengikutinya.
Menurutnya, adanya BKK memberikan informasi lowongan kerja. Biasanya bekerja sama dengan suatu perusahaan. Kalau dari perusahaan tersebut membutuhkan pekerja, maka informasinya akan di-share melalui grup BKK.
Untuk pilihan mendaftar atau tidak, kembali lagi kepada masing-masing siswa. Pendaftar juga tidak harus sesuai jurusan. Misal, jurusan desain komunikasi visual bisa juga mendaftar di teknik.
Dia sendiri mengaku, tidak mengikuti BKK di sekolahnya. Salah satu alasannya karena sudah memiliki rencana kerja yang lebih pasti setelah lulus nanti. “Saya tidak (ikut). Karena belum ada yang saya minati. Soalnya, setelah lulus nanti mau diajak kakak kerja ke Jakarta,” pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana