Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Puluhan Ayam di Kecamatan Ngasem Mati Mendadak Akibat Faktor Cuaca Tidak Menentu.

Hakam Alghivari • Sabtu, 3 Februari 2024 | 20:10 WIB
MATI MENDADAK: Peternak sedang mengumpulkan ayam petelor yang mati mendadak. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)
MATI MENDADAK: Peternak sedang mengumpulkan ayam petelor yang mati mendadak. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Instansi terkait diminta untuk segera membantu peternak ayam mencarikan solusi, terkait yang yang mendadak flu dan stres yang diduga cuaca tak menentu.

Hingga Jumat (2/2) sebanyak 32 ekor ayam petelur mati mendadak. Diduga akibat faktor cuaca tidak menentu.

Cuaca itu menyebabkan ayam flu dan stres. Kondisi ini mulai terjadi pada Minggu (28/1) hingga kemarin (2/2) .

Sebelumnya terdapat sebanyak 2.555 ekor ayam petelur di Peternakan Karang Taruna (Kartar) Lima Bersaudara pada Sabtu (27/1). Jumlah tersebut menurun menjadi 2.523 ekor ayam hingga kemarin (2/2). Selain dirugikan akibat kematian ayam, peternak juga dirugikan dengan menurunnya produksi telur setiap harinya.

Satria Utama, pengurus Peternakan Ayam Petelur Kartar Lima Bersaudara di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem mengatakan, kondisi ayam petelur di peternakan saat ini sedang mengalami flu masal dan stres akibat cuaca tidak menentu.

Mulai Minggu (28/1) dengan jumlah kematian dua ekor ayam. Hari berikutnya mati tiga ekor, kemudian tujuh ekor, dan seterusnya. ‘’Dalam kurun waktu sekitar enam hari ini kematian sudah mencapai 32 ekor ayam,’’ ujarnya.

Tidak hanya ayam mati tergeletak di sekitar kandang. Puluhan ayam yang biasa tampak segar di kandang peternakan, saat ini terlihat lemas akibat stres. Bahkan, tak jarang pula hidung ayam mengeluarkan air akibat flu. ‘’Ayam-ayam di kandang banyak yang nglentuk,’’ ceritanya.

Dia melanjutkan, kematian ayam di peternakan yang dikelolanya tergolong tinggi. Selain itu, produksi telur juga mengalami penurunan.

Dari semula menghasilkan sekitar 115 kilogram (kg) per hari. Saat ini, setelah terserang flu masal dan stres tinggal 70 kg telur ayam per hari. Akibat kondisi ini, total kerugian setiap harinya hampir mencapai Rp 1,1 juta.

‘’Untuk menangani permasalahan ini, sudah diberi obat flu dan disemprot disinfektan agar tidak menular ke ayam lain yang masih sehat. Semoga kondisi ini bisa segera normal kembali,’’ harapnya. (ewi/msu)

 

 

Editor : Hakam Alghivari
#kecamatan #cuaca #Tidak Menentu #Ngasem #Ayam #Mati #bojonegoro #faktor