Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

160 Desa Dilanda Krisis Air, Gelar Sholat Istisqa

A
BENTUK IKHTIAR: Sebanyak 1.030 jemaah mulai dari murid, guru, dan pegawai MAN Blora melaksanakan Salat Istisqo.(IST./RDR.BJN)
BENTUK IKHTIAR: Sebanyak 1.030 jemaah mulai dari murid, guru, dan pegawai MAN Blora melaksanakan Salat Istisqo.(IST./RDR.BJN)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kemarau panjang berdampak pada kekeringan. Hingga kini terdata sebanyak 160 desa di Kabupaten Blora mengalami krisis air bersih. Kondisi itu menjadi perhatian lembaga pendidikan yang melakukan Salat Istisqo.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) MAN Blora, Agus Budi Mulyono mengatakan, Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar di tengah kondisi wilayah yang masih mengalami kekeringan. Sejumlah masyarakat, khususnya petani, membutuhkan hujan karena lahan pertanian mulai kekurangan air.

"Ini ikhtiar bersama. Kami memohon kepada Allah agar kondisi yang kering segera berubah menjadi basah dan hujan segera turun," ujarnya.

Menurut dia, kondisi kekeringan tidak hanya berdampak pada kebutuhan air sehari-hari. Para petani juga sangat menunggu turunnya hujan agar lahan yang kering dapat kembali ditanami.

"Sebanyak 1.030 jemaah mulai dari murid, guru, dan pegawai melaksanakan Salat Istisqo," imbuhnya.

Advertisement

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Blora, Suparji mengatakan, dampak kekeringan masih cukup luas. Hingga kini, terdapat 160 desa yang mengajukan bantuan air bersih kepada BPBD Blora.

Jumlah tersebut mencakup sekitar 46.245 kepala keluarga (KK) atau 239.968 jiwa yang membutuhkan dukungan pasokan air bersih.

Suparji menegaskan, penyaluran bantuan air bersih masih terus dilakukan sesuai permintaan dan kebutuhan masyarakat. BPBD Blora juga memastikan layanan dropping air bersih tetap disiapkan hingga akhir November.

"Penyaluran terus dilakukan sesuai permintaan dan kebutuhan masyarakat. Layanan dropping air bersih masih kami siapkan sampai akhir November," jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan kekeringan di Blora belum sepenuhnya berakhir. Di satu sisi, distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga. Di sisi lain, hujan masih menjadi harapan utama untuk memulihkan sumber-sumber air dan lahan pertanian yang terdampak kekeringan. (ozi/ind)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Hari Santri Nasional 2026, Ribuan Santri Ponpes Modern Al-Fatimah Gelar Salat Istisqa

Hari Santri Nasional 2026, Ribuan Santri Ponpes Modern Al-Fatimah Gelar Salat Istisqa

Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Al-Fatimah Bojonegoro memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sekaligus menggelar salat Istisqa atau salat minta hujan, Kamis (22/10). Ribuan santri, wali santri, dan masyarakat sekitar memadati komple

Ruko di Sekitar Lapangan Gelora Randublatung Terancam Dibongkar

Ruko di Sekitar Lapangan Gelora Randublatung Terancam Dibongkar

Keberadaan ruko-ruko yang mengelilingi Lapangan Gelora Randublatung, Blora menjadi sorotan.

Sekitar 160 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih

Sekitar 160 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih

Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Blora. Namun, kondisi tersebut belum banyak membantu pemenuhan kebutuhan air bersih warga. Hingga kini, masih ada 160 desa yang mengajukan bantuan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer