Menguak Kekayaan Sejarah Bumi Majapahit dan Pahlawan
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jawa Timur, sebuah provinsi yang kaya akan narasi masa lalu, menawarkan lebih dari sekadar keindahan alam yang memukau. Tanah ini adalah saksi bisu kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Majapahit, Singasari, dan Mataram Kuno, hingga perjuangan heroik kemerdekaan melawan kolonialisme.
Bagi para penjelajah waktu yang ingin merasakan langsung denyut sejarah, Jawa Timur adalah kanvas yang sempurna untuk mengukir kenangan.
Destinasi sejarah di Jawa Timur merepresentasikan periode yang beragam, mulai dari peradaban kuno hingga era kolonial dan perjuangan kemerdekaan. Hal ini menunjukkan bahwa narasi sejarah Jawa Timur bukanlah cerita tunggal, melainkan permadani sejarah yang kaya dan berlapis-lapis, menawarkan perjalanan yang bervariasi dan komprehensif.
Keragaman periode sejarah dan jenis situs yang ada, seperti candi, benteng, museum, dan monumen, memungkinkan pengunjung untuk mendapatkan pemahaman sejarah yang menyeluruh.
Sebuah perjalanan di wilayah ini dapat membantu memahami evolusi kekuasaan, budaya, dan semangat perlawanan di Indonesia. Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih dalam dan holistik tentang masa lalu bangsa.
1. Benteng Van Den Bosch, Ngawi: Saksi Bisu Kolonialisme yang Megah
Benteng Van Den Bosch, yang juga dikenal sebagai Benteng Pendem, berdiri kokoh di Ngawi sebagai salah satu peninggalan penting era kolonial Belanda. Pembangunan benteng ini dimulai pada tahun 1825 dan selesai pada 1845.
Ngawi pada masa itu merupakan pusat perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis di Jawa Timur. Tujuan utama pembangunan benteng ini adalah untuk memperkuat posisi Belanda dan mengawasi jalur perdagangan vital di pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Pada masa pendudukan Jepang, fungsi benteng ini sempat beralih menjadi kamp sipil untuk pria dan anak laki-laki.
Benteng ini dijuluki "Benteng Pendem" karena konstruksinya yang sengaja dibangun lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya, sebuah strategi cerdik untuk tujuan pertahanan dan penyembunyian. Lokasi benteng yang strategis di pertemuan dua sungai besar dan desain terpendam-nya menunjukkan adanya strategi militer dan ekonomi kolonial yang canggih.
Ini bukan sekadar struktur pertahanan biasa, melainkan instrumen penting untuk mengendalikan jalur perdagangan dan memproyeksikan kekuasaan Belanda di Jawa Timur, menyoroti signifikansinya yang multifaset. Benteng ini menjadi saksi bisu perjuangan dan perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme.
Secara arsitektur, Benteng Van Den Bosch menampilkan gaya Neo-Gothik yang megah dan kuat, dengan dinding kokoh dan desain klasik era kolonial Belanda. Salah satu fakta menariknya adalah jumlah 510 lubang pintu dan jendela, yang bahkan lebih banyak dari Lawang Sewu di Semarang. Pondasi bangunan yang kuat, dengan 70% struktur asli berdiri kokoh sedalam 5 meter, membuktikan keahlian konstruksi pada masanya.
Di dalam benteng, terdapat makam Kyai Haji Muhammad Nursalim, seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap Belanda dan dikubur hidup-hidup di sana. Beliau juga dikenal sebagai penyebar agama Islam pertama di Ngawi. Sebuah museum mini swadaya Yonarmed juga tersedia, memberikan informasi tentang sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Benteng ini sangat cocok untuk penggemar fotografi berkat pemandangan alam yang indah di sekitarnya.
Pengunjung seperti Farish mencatat bahwa benteng ini, setelah direnovasi, tidak lagi terkesan angker dan semakin populer, bahkan sering disamakan dengan Lawang Sewu Semarang. Umpan balik positif dari pengunjung mengenai renovasi dan persepsi bahwa benteng "tidak lagi terkesan angker" menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan warisan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa investasi aktif dalam pelestarian, restorasi, dan presentasi yang lebih baik dapat merevitalisasi situs bersejarah, membuatnya lebih menarik dan mudah diakses oleh khalayak luas, sekaligus meningkatkan pariwisata lokal dan mendorong keterlibatan publik yang lebih luas dengan sejarah.
2. Kawasan Trowulan, Mojokerto: Jantung Kerajaan Majapahit yang Abadi
Trowulan, Mojokerto, adalah kawasan bersejarah yang diakui secara luas sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Hingga kini, kawasan ini menyimpan jejak kejayaan masa lampau yang masih dapat dirasakan, dengan sisa-sisa peninggalan megah Majapahit yang tersebar di berbagai sudutnya. Trowulan diyakini kuat sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit, menjadikannya situs arkeologi yang sangat penting untuk memahami peradaban besar ini.
Konsentrasi berbagai situs bersejarah di Trowulan, seperti candi, kolam, museum, dan pendopo, menunjukkan signifikansinya sebagai taman arkeologi yang komprehensif, bukan sekadar reruntuhan terpisah. Hal ini memungkinkan pengunjung untuk mendapatkan pengalaman holistik dalam memahami peradaban Majapahit, mulai dari praktik spiritual (candi), kehidupan sehari-hari (artefak di museum), hingga fungsi administratif (Pendopo Agung).
Kawasan Trowulan memiliki beberapa situs kunci dan daya tarik utama:
-
Candi Tikus: Sebuah candi unik dengan arsitektur miniatur menara dan sistem pengairan kuno yang canggih, dibuktikan dengan 46 pancuran air. Ini menunjukkan kemajuan peradaban Majapahit dalam bidang hidrologi. Candi ini ditemukan pada tahun 1914 dan telah dipugar secara menyeluruh pada 1984-1985.
-
Candi Bajang Ratu: Sebuah gapura megah yang diperkirakan dibangun untuk menghormati Jayanegara, dengan relief Sri Tanjung yang mengisahkan cerita peruwatan. Arsitekturnya khas gaya Majapahit, dihiasi ukiran cantik menggunakan batu andesit.
-
Kolam Segaran: Kolam luas yang merupakan bagian integral dari kompleks Majapahit, menunjukkan kebesaran dan kemajuan tata kota kerajaan.
-
Museum Trowulan (Museum Majapahit): Menjadi rumah bagi koleksi artefak kuno dari Majapahit dan kerajaan-kerajaan lain seperti Kahuripan, Kediri, dan Singhasari. Koleksinya meliputi koin emas, guci, alat rumah tangga, keramik, serta arca-arca unik seperti arca Raja Airlangga menaiki Garuda dan arca Menak Jinggo. Museum ini juga menampilkan relief yang menceritakan kedatangan pedagang Tiongkok ke Majapahit.
-
Pendopo Agung Trowulan: Dibangun antara 1964-1973 oleh Kodam V Brawijaya, pendopo ini memiliki tiang utama (soko guru) beralaskan batu umpak peninggalan Majapahit. Dinding belakangnya dihiasi relief yang mengisahkan sejarah Majapahit, termasuk penobatan Raden Wijaya. Lokasinya diyakini sebagai tempat Pendopo Agung Kerajaan Majapahit yang asli. Setiap tanggal 1 Suro, pendopo ini menjadi pusat Prosesi Grebeg Suro yang meriah.
-
Candi Brahu: Diperkirakan sebagai candi Buddha peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, banyak pendapat menyatakan candi ini lebih tua dari candi lain di Trowulan. Masyarakat setempat meyakini Candi Brahu dulunya adalah tempat pembakaran jenazah Raja-raja Brawijaya.
Pengalaman pengunjung di Trowulan seringkali ditandai oleh suasana tenang yang menjadikan kunjungan semakin khidmat dan mendalam. Kawasan ini sangat cocok bagi pecinta sejarah dan budaya, menawarkan kesempatan untuk belajar sejarah dan merenungi kebesaran warisan budaya Indonesia. Candi Tikus, khususnya, disebut bersih, tamannya cantik, dan lokasinya dekat dengan Candi Bajang Ratu, menjadikannya tempat yang ideal untuk anak-anak mempelajari sejarah Majapahit.
Baca Juga: Bukit Serut: Potensi Wisata Blora yang Menanti Sentuhan Kreativitas
Perlu dicatat adanya beberapa perbedaan dalam informasi jam operasional dan harga tiket masuk di berbagai sumber untuk situs-situs di Trowulan.
3. Candi Penataran, Blitar: Kemegahan Candi Hindu Terbesar di Jawa Timur
Candi Penataran adalah kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur, dengan konstruksi yang berlangsung antara abad ke-12 hingga ke-15. Pembangunannya dimulai pada tahun 1197, pada masa Kerajaan Kediri. Candi ini memegang peran signifikan dalam Kerajaan Majapahit, bahkan disebut sebagai "State Temple" pada tahun 1320 dan menjadi tempat favorit Raja Hayam Wuruk untuk beribadah kepada Dewa Girindra. Keberadaannya juga tercatat dalam manuskrip kuno Nagarakretagama.
Pada tahun 1995, Candi Penataran ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dalam daftar tentatif, menggarisbawahi nilai universalnya. Situs ini memiliki hubungan kuat dengan tiga kerajaan besar Jawa Timur: Kediri, Singasari, dan Majapahit, menjadikannya cerminan panjang sejarah regional.
Penunjukan Candi Penataran sebagai situs dalam Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO dan koneksi historisnya yang mendalam dengan tiga kerajaan besar Jawa Timur (Kediri, Singasari, Majapahit) mengangkat statusnya dari sekadar objek wisata menjadi situs yang memiliki signifikansi global dan nasional yang mendalam. Ini menunjukkan tingkat nilai budaya dan arkeologi yang luar biasa, menjadikannya destinasi wajib bagi para penggemar sejarah serius dan peneliti yang mencari pemahaman historis yang mendalam.
Candi ini dihiasi dengan relief yang mengisahkan cerita Ramayana dan legenda lokal, memperkaya nilai sejarah dan artistiknya. Relief Ramayana yang terukir di candi utama dan kisah Krishna dari epik Krishnayana adalah daya tarik utama. Struktur candi yang megah dan kompleks, dengan berbagai bangunan dan halaman yang saling terhubung, mencerminkan gaya arsitektur Majapahit yang khas. Di bagian depan candi, terdapat dua arca raksasa yang berfungsi sebagai penjaga gerbang, serta Bale Agung yang dipercaya sebagai tempat diskusi dan pertemuan para bhiksu kerajaan. Candi ini terdiri dari beberapa bangunan yang membujur dalam poros barat laut-tenggara.
Menariknya, tidak ditemukan sisa atap batu, yang mengindikasikan kemungkinan atap kayu bertingkat seperti pura di Bali, sebuah desain yang lebih tahan gempa dan mudah diperbaiki. Detail arsitektur yang mengindikasikan atap kayu bertingkat, mirip dengan pura di Bali, daripada atap batu, mengungkapkan hubungan evolusioner yang menarik dan kesinambungan budaya antara arsitektur candi Jawa kuno dan Bali modern.
Ini menunjukkan adanya warisan bersama yang lebih dalam dan praktik rekayasa adaptif di seluruh kepulauan Indonesia, menawarkan perspektif unik tentang perkembangan budaya regional dan ketahanan terhadap bencana alam seperti gempa bumi.
Suasana alam yang sejuk dan asri di lereng Gunung Kelud menjadikan tempat ini ideal untuk wisata keluarga yang ingin mengenal budaya Jawa lebih dalam. Pengunjung dapat menjelajahi kompleks candi, belajar sejarah, bermeditasi, dan mengabadikan momen dengan fotografi. Popularitas Candi Penataran terbukti dengan lonjakan wisatawan, terutama saat libur Lebaran.
Beberapa pengunjung mengusulkan penambahan fasilitas seperti tempat duduk dan spot istirahat, menunjukkan adanya kebutuhan untuk peningkatan fasilitas. Candi ini bukan sekadar bangunan kuno, melainkan "jendela untuk memahami lebih dalam tentang warisan budaya Indonesia yang kaya dan beragam".
4. Museum De Javasche Bank, Surabaya: Menelusuri Sejarah Perbankan Indonesia
Museum De Javasche Bank di Surabaya merupakan destinasi penting untuk menelusuri sejarah perbankan di Indonesia. Bangunan ini pertama kali didirikan pada 14 September 1829, kemudian dihancurkan dan dibangun kembali pada tahun 1904.
Museum ini secara komprehensif menampilkan sejarah sistem perbankan di Indonesia, serta momen-momen bersejarah yang terkait dengan Surabaya. Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai kantor pusat De Javasche Bank di Batavia, menjadikannya saksi bisu perkembangan ekonomi dan keuangan di era kolonial hingga kemerdekaan Indonesia.
Secara arsitektur, bangunan ini dirancang dengan gaya Neo-Renaissance yang megah, namun juga dihiasi dengan perhiasan Jawa pada detailnya, menciptakan perpaduan gaya yang unik. Perpaduan arsitektur gaya Neo-Renaissance dengan ornamen Jawa pada bekas kantor pusat bank kolonial ini lebih dari sekadar pilihan estetika; ini melambangkan fusi budaya dan penerapan pengaruh Eropa ke dalam konteks lokal selama periode kolonial. Hal ini menunjukkan narasi yang lebih dalam tentang dinamika kekuasaan, pertukaran budaya, dan identitas Indonesia kolonial yang terus berkembang, yang terlihat jelas terukir dalam struktur bangunan itu sendiri.
Museum ini menempati bangunan tiga lantai seluas 1.000 meter persegi. Daya tarik utamanya adalah koleksi mata uang kuno yang dibagi menjadi tiga bagian: Ruangan Koleksi Mata Uang Lama, Ruangan Koleksi dari Konservasi, dan Ruangan Koleksi Harta Budaya. Museum ini tidak hanya berfokus pada perbankan, tetapi juga memberikan konteks sejarah kota Surabaya secara keseluruhan.
Museum ini menawarkan pengalaman edukatif yang mendalam tentang sejarah perbankan dan ekonomi Indonesia, menjadikannya destinasi yang ideal bagi mereka yang tertarik pada aspek sosial-ekonomi sejarah. Salah satu keunggulan utama adalah tiket masuk yang gratis, menjadikannya destinasi yang sangat terjangkau dan mudah diakses oleh semua kalangan.
Kebijakan museum ini yang tidak memungut biaya masuk menunjukkan strategi yang disengaja untuk mendemokratisasikan pendidikan sejarah dan keuangan, membuatnya dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa memandang status ekonomi. Ini mencerminkan komitmen terhadap pencerahan publik dan pelestarian budaya, yang berpotensi mendorong literasi keuangan dan kesadaran sejarah yang lebih besar di kalangan masyarakat umum, terutama yang relevan di Surabaya sebagai pusat ekonomi utama.
5. Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, Surabaya: Mengenang Semangat Perjuangan Kota Pahlawan
Tugu Pahlawan, yang diresmikan pada tahun 1952, dibangun untuk memperingati peristiwa heroik 10 November 1945, pertempuran sengit rakyat Surabaya melawan pasukan Sekutu. Museum 10 November, yang berlokasi di area yang sama, berfungsi sebagai repositori berbagai dokumentasi dan artefak terkait perjuangan tersebut. Pertempuran 10 November 1945 berakar dari insiden di Gedung Internatio dan Jembatan Merah, yang memuncak pada gugurnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, memicu kemarahan rakyat Surabaya. Tugu ini berdiri sebagai simbol nasionalisme dan pengingat akan jasa besar para pahlawan yang gugur demi mempertahankan kemerdekaan.
Tugu Pahlawan memiliki bentuk unik menyerupai paku terbalik setinggi 41,15 meter. Desainnya terdiri dari 10 lengkungan dan 11 ruas tiang, yang secara simbolis menandakan tanggal 10 November 1945. Museum 10 November menampilkan beragam koleksi bersejarah, termasuk foto dokumentasi, senjata, radio, dan mobil. Salah satu koleksi paling ikonik dan mengharukan adalah transkrip serta suara pidato Bung Tomo yang membakar semangat rakyat Surabaya.
Museum ini juga dilengkapi dengan diorama dan patung yang menggambarkan adegan-adegan perjuangan, serta penggunaan teknologi hologram untuk visualisasi sejarah tiga dimensi yang lebih interaktif. Lokasi kompleks ini sangat strategis, berada di tengah Kota Surabaya, dekat dengan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jembatan Merah, dan Hotel Oranje (Yamato), memudahkan akses bagi pengunjung.
Penyertaan pidato asli Bung Tomo yang direkam dan pemanfaatan teknologi hologram untuk visualisasi sejarah melampaui tampilan statis konvensional. Pendekatan ini menciptakan pengalaman yang mendalam dan membangkitkan emosi, menunjukkan upaya strategis untuk "menghidupkan" sejarah dan menghubungkan pengunjung secara langsung dengan emosi mentah serta momen-momen penting dalam perjuangan kemerdekaan. Hal ini mendorong rasa patriotisme dan pemahaman yang lebih dalam dan personal.
Kompleks ini menjadi media belajar yang sangat efektif dan seru, khususnya bagi generasi muda, untuk memahami semangat kepahlawanan dan pentingnya mempertahankan kemerdekaan. Suasana patriotik yang kuat di museum menginspirasi pengunjung untuk merenungkan makna kemerdekaan dan pengorbanan para pahlawan. Museum ini memiliki fasilitas yang lengkap untuk kenyamanan pengunjung, termasuk ruang auditorium, ruang diorama elektronik, perpustakaan, mushola, tempat parkir, public space, ruang laktasi, dan bahkan area Kidzone.
Secara keseluruhan, museum ini berfungsi sebagai tempat edukasi, inspirasi, rumah kebudayaan, dan ruang interaksi sosial. Tersedianya fasilitas yang komprehensif, khususnya "Kidzone" dan "Ruang Laktasi," menunjukkan pendekatan progresif dalam menjadikan museum ini mudah diakses dan menarik bagi beragam audiens, termasuk keluarga dengan anak kecil. Hal ini menunjukkan pengakuan bahwa pendidikan sejarah harus inklusif dan efektif diturunkan kepada generasi mendatang, sekaligus menjadikan museum sebagai pusat komunitas untuk pembelajaran. (kam)
Editor : Hakam Alghivari