Warungnya kini berada di lokasi pasar ayam lama, Kelurahan Banaran. Pemilihan kambing, cara membakar dan racikan bumbu sate, serta resep bumbu gulai kini sudah di tangan generasi ketiga dari keluarga Sami’in. Sehingga kualitas rasanya tetap terjaga.
Fenny Dwi Alfiana, salah satu cucu Sami’in, menjelaskan, setelah kakeknya meninggal, usaha sempat diteruskan anak sang kakek. Ada tujuh anak Sami’in yang meneruskan.
‘’Sate dan gulai tak hanya di sini, akan tetapi tersebar di wilayah Babat. Semua yang membuka anaknya semua,’’ ujarnya.
Dari tujuh anaknya, akhirnya tinggal tiga orang yang melanjutkan usaha tersebut. Salah satunya, orang tuanya Fenny.
‘’Kalau saya sendiri belum sampai satu tahun, meneruskan orang tua saya,’’ imbuhnya.
Cara membakar maupun resep bumbu sate dan gulai tak ada yang berubah. Semua resep dari sang kakek yang sudah ‘’diwariskan’’ ke generasinya.
Bahkan, pemilihan kambing juga sudah dilatih dari kebiasaan. Salah satu kriterianya, kambing berusia setahun. Di usia tersebut, daging kambing masih empuk.
Kambing yang dipilih betina dan jenisnya etawa. Proses penyembelihan kambing, memotong daging, memasak dilakukan cucu dari Sami’in, tak ada orang lain. Sehingga bisa dikatakan usaha ini, milik keluarga besar Sami’in.
‘’Yang digunakan sate hanya daging paha depan dan belakang, daging ulur, ati, dan juga gajih,’’ tutur ibu dua anak ini.
Sedangkan sisanya, dapat dimasak gulai. Sehari, warung ini bisa memasak 25 kg beras dan menghabiskan empat ekor kambing. ‘’Kalau waktu lebaran, bisa sampai 7 ekor kambing dalam satu hari paling ramai,’’ jelasnya.
Hampir sebagian besar pejabat di Lamongan pernah mampir ke warung sate ini. Bahkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Harga mulai Rp 35 ribu untuk 10 tusuk cukup terjangkau bagi yang suka te..sate...(mal/yan)
Editor : Hakam Alghivari