Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Dua Puluh Lima Tahun Kemudian

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 25 Juni 2023 | 18:04 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

‘’KAU tetap cantik seperti dulu, meskipun anakmu sudah empat."

‘’Bagaimana dengan istrimu?’’

‘’Istriku sudah lama meninggal."

‘’Maaf aku tidak sengaja bertanya seperti itu.’’

‘’Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa ditanya seperti itu.’’

 

Dua puluh lima tahun kami tidak pernah bertemu. Baru kali ini aku berani mengajaknya bertemu di kafe setelah satu tahun suaminya meninggal. Kami berbicara masa lalu kami dan awal berkenalan hingga ia selingkuh dengan laki-laki lain.

‘’Maafkan aku, mas. Dulu aku sudah meninggalkanmu dan menikah dengan laki-laki lain."

‘’Aku sudah terbiasa dikhianati oleh perempuan-perempuan yang pernah aku cintai. Kamu tidak perlu meminta maaf.’’

‘’Aku dulu bodoh sekali telah mengabaikanmu datang ke rumah orang tuaku untuk mempertahankan cinta kita. Aku sudah digelapkan oleh harta. Aku mendengarkan semua percakapanmu dengan bapak. Mas seperti marah besar karena ucapan bapak yang tidak peduli dengan hubungan kita lagi.’’

‘’Sampai detik ini hatiku sangat mencintaimu, meski kamu telah khianati diriku. Beruntung sekali aku menikah dengan istriku. Dia menerima kekuranganku. Aku ceritakan semua masalah percintaanku hingga cerita bersama kamu. Tapi kini istriku sudah meninggalkanku untuk selamanya.’’

‘’Tentang hubungan kita, kamu pernah ceritakan ke istrimu?"

‘’Ya pernah. Istriku memaklumi masa laluku. Dia menerima kekurangan masa laluku.’’

‘’Semoga istri mas dimasukkan ke dalam surga-Nya".

‘’Amiin..., oh iya, bagaimana kabar Mbak Tari?" aku mengalihkan pembicaraan agar istriku yang telah tiada tidak dijadikan topik pembicaraan utama di pertemuan kami ini.

‘’Dia sudah menikah"

‘’Aku tahu itu. Aku selalu memantau akun media sosialmu dan Mbak Tari hampir tiap hari’’.

‘’Apa mas masih mencintai Mbak Tari?’’.

‘’Gila kalau aku mencintai istri orang’’.

Ratih tertawa kecil lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang kanan. Ia seperti perempuan yang pernah aku kenal dua puluh delapan tahun lalu. Senyumnya tidak pernah berubah. Ada lesung di pipinya.

Aku mengenal Ratih lewat media sosial dua puluh delapan tahun yang lalu. Kami pun jatuh cinta. Ratih memintaku untuk datang ke rumah orang tuanya. Aku mengabulkan permintaannya.

Kehadiranku sangat dinantikan orang tua Ratih. Ayah Ratih rela menjemputku di pertigaan jalan masuk kampungnya. Ibu Ratih menyambut kehadiranku dengan ramah di halaman rumahnya. Hidangan disuguhkan sangat spesial. Ada keteduhan di wajah ibu dan ayah Ratih.

"Monggo Mas, dinedo"

"Enggih buk." ucapku dengan menganggukkan kepala

‘’Tidak usah sungkan, ibu membuatkan ini semua untuk Mas Azzam".

Ratih mengambil piring, lalu menuangkan nasi dan gulai ayam di atasnya, lalu diberikan kepadaku. Aku memakannya dengan lahap.

Rumah yang dihuni keluarga Ratih sangat sederhana. Di ruang tamunya hanya ada kursi-kursi sofa dan meja model lama. Kursinya terasa empuk untuk aku duduki. Tidak jauh dari kursi-kursi itu, televisi (TV) tabung warna bertengger di atas meja kayu yang mulai menghitam di beberapa sisinya.

Gambarnya masih jelas meski televisi itu produksi lama. Ada dua kamar di dalam rumah ini. Kamar yang menghadap televisi merupakan kamar orang tuanya. Sedangkan, kamar menghadap kursi-kursi sofa dan meja tamu salah satunya aku duduki adalah kamar Ratih dan dua saudara perempuannya, yaitu Tari -kakak perempuannya- dan Nala -adik perempuannya-.

Tari bekerja di Jakarta sebagai babysitter. Hampir dua tahun ia meninggalkan keluarganya. Ada kisah pilu mengenai Tari. Ratih menceritakan bahwa kakak perempuannya itu pernah diguna-guna oleh lelaki yang jatuh hati padanya.

Peristiwa itu terjadi setelah Tari menolak lelaki tersebut. Efek dari guna-guna itu, Tari selalu menari setiap mendengar suara musik. Entah cerita diceritakan Ratih itu benar atau hanya karangan saja. Aku tidak memedulikan hal itu. Sedangkan, Nala merupakan adiknya yang masih berumur 8 tahun. Ia masih sekolah dasar (SD).

‘’Tanah ini bukan milik ibu dan bapak, mas. Tapi, milik orang banyak. Ini tanah peninggalan nenek. Ibu adalah salah satu pewaris tanah ini di antara saudara-saudaranya." Jawab Ratih setelah aku bertanya mengenai rumah ini.

Setelah pertemuan pertama di rumah orang tua Ratih, di setiap bulan berikutnya aku kembali menemuinya. Sesekali aku ajak Ratih jalan-jalan. Ratih tampak senang.

Lebaran tiba, aku datang ke rumahnya. Lebaran kali ini keluarganya lengkap. Tari sudah pulang kampung. Mereka senang dengan kedatanganku. ‘’Mas Azzam jangan pulang dulu ya. Bapak ingin mengajak Mas Azzam untuk berkunjung ke keluarga besar bapak. Mumpung masih Lebaran. Bagaimana Mas Azzam?” pinta ayah Ratih kepadaku.

Enggih pak.” aku tidak mampu menolak permintaan ayah Ratih.

Ayah Ratih sudah aku anggap sebagai salah satu orang yang terpenting dalam hidupku. Ratih hanya tersenyum setelah mendengar permintaan ayahnya kepadaku.

Kami mengendarai motor menuju kampung, tempat kelahiran ayah Ratih. Ada tiga motor kami kendarai. Ayah berboncengan dengan ibu Ratih. Tari berboncengan dengan Nala. Sedangkan, aku sendiri berboncengan dengan Ratih. Motor Ayah Ratih melaju paling depan. Motor aku kendarai mengikuti laju motor ayah Ratih dan Tari.

Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam, ayah Ratih menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu. Wanita baya menyambut kedatangan kami. Umurnya sekitar 70-an. Kami menyalami telapak tangannya terlihat sudah keriput. Wanita itu adalah nenek Ratih.

‘’Ini siapa?” tanya nenek Ratih ke ayah Ratih.

‘’Ini mas Azzam, Mak. Calonnya Ratih.”

Aku kaget mendengar jawaban ayah Ratih. Aku menoleh ke Ratih. Ratih tersenyum bahagia menatapku.

‘’Nanti Mas Azzam menginap di sini semalam. Besok baru pulang. Apa Mas Azzam tidak keberatan?” ayah Ratih memintaku untuk menginap di rumah nenek Ratih.

Aku hanya menganggukkan kepala. Lagi-lagi Ratih tersenyum kepadaku setelah ia mendengar permintaan ayahnya kepadaku.

Ratih mengajakku untuk melihat rel kereta api yang tidak jauh dari rumah neneknya. Bagi Ratih, melihat rel kereta api merupakan hiburan cocok untuk menenangkan hati. Ratih bercerita bahwa setiap ia ke rumah neneknya, ia hampir tidak lupa untuk melihat rel kereta api terbentang dari timur ke barat itu.

Kami menginap semalam di rumah nenek Ratih. Paginya, kami berkunjung ke sanak keluarga ayah Ratih yang jaraknya lumayan jauh dari rumah nenek Ratih. Kami pun mengendarai motor berkunjung ke satu rumah ke rumah lainnya dari sanak keluarga ayah Ratih.

Setiap rumah yang kami kunjungi selalu bertanya tentang diriku. Ayah Ratih selalu menjawab ‘’Ini mas Azzam. Calonnya Ratih".

Enam bulan kemudian, menginjak tahun ke empat dari aku dan Ratih telah menjalin cinta, ada keanehan dalam diri Ratih setelah liburan di pantai. Sikapnya mulai berubah kepadaku. Ratih mulai jarang mengirim pesan dan meneleponku.

Awalnya aku mengira kalau Ratih marah kepadaku karena aku telah memarahinya di tempat parkir wisata pantai setelah Ratih tidak mengindahkan perintahku untuk menjauhi tempat tawuran. Aku sempat marah hebat kepada Ratih karena khawatir ia terkena dampak dari tawuran itu.

Perstiwa itu terjadi pada liburan tahun baru. Dalam perjalanan pulang Ratih meminta maaf kepadaku, dan aku juga meminta maaf kepadanya. Tapi, bukanlah itu yang membuat Ratih jarang mengirim pesan dan menelepon kepadaku. Ternyata ada orang ketiga yang menyertai dirinya.

Hatiku terpukul melihat foto profil di akun media sosial Ratih. Foto itu memperlihatkan Ratih bersama laki-laki lain. Aku mencoba menghubungi Ratih berkali-kali. Tidak ada satu pun teleponku diangkatnya. Lalu, aku mengirim pesan kepadanya dengan mengabarkan bahwa aku segera ke rumahnya.

Dalam pertemuan itu aku seolah disidang oleh Ayah Ratih dan Tari. Mereka menghadirkan Ratih. Aku mencoba menunjukkan bukti bahwa Ratih telah berselingkuh. Mereka berdua seolah tidak menerima bukti itu. Setelah itu aku dibiarkan sendiri di ruang tamu. Segera aku meninggalkan rumah itu.

Dua minggu kemudian aku datang lagi ke rumah orang tua Ratih. Ayah Ratih menyambut kehadiranku. Ayah Ratih seolah tidak senang dengan kehadiranku dan terlihat enggan menyelesaikan masalahku dengan Ratih.

Puncaknya, aku marah besar kepada ayah Ratih dan keluar dari rumahnya dengan perkataan terakhir yang aku ucapkan bahwa aku tidak akan menginjakkan kakiku di rumahnya lagi.

‘’Kamu melamun ya mas?” Ratih membuyarkan lamunanku.

Di usia empat puluh dua tahun, wajah Ratih tidak pernah berubah. Masih seperti perempuan yang dahulu aku kenal. Usia kami terpaut delapan tahun. ‘’Bagaimana keadaan ibu dan bapak?” tanyaku.

Ratih diam dan menundukkan kepalanya. Ia menangis. (*)

 

 

 

*Heri I. Rusdai
Nama pena dari Heri Istanto. Kelahiran Lamongan. Guru SMA Muhammadiyah 4 Sidayu. Tinggal di Kecamatan Cerme, Gresik.

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cerpen #Hubungan #kenangan #asmara #orang tua