Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dean Huijsen Latihan Keras Saat Liburan di Bali, Sindiran Hector Souto soal Mentalitas Atlet Jadi Sorotan

Hakam Alghivari • Senin, 15 Juni 2026 | 16:18 WIB
Dean Huijsen dijadikan contoh Hector Souto soal mentalitas dan profesionalitas atlet di level tertinggi. (INSTAGRAM)
Dean Huijsen dijadikan contoh Hector Souto soal mentalitas dan profesionalitas atlet di level tertinggi. (INSTAGRAM)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sosok bek muda Real Madrid, Dean Huijsen, menjadi perbincangan di media sosial setelah terlihat menjalani latihan fisik di fasilitas milik Bali United saat menghabiskan waktu libur di Pulau Dewata. Aktivitas tersebut menarik perhatian banyak pecinta sepak bola, terlebih karena Huijsen sebenarnya sedang berada dalam periode jeda kompetisi.

Kisah ini semakin menarik, karena pemain berusia 21 tahun itu datang ke Bali tidak dalam situasi yang sepenuhnya menyenangkan. Setelah menyelesaikan musim yang panjang bersama klubnya, Huijsen juga harus menerima kenyataan tidak masuk dalam skuad Spanyol untuk Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Baca Juga: Jelang Belanda Vs Jepang: Ronald Koeman Yakin Belanda Bisa Bersaing, Meski Tak Masuk Favorit Juara Piala Dunia 2026

Bagi sebagian pemain, kekecewaan seperti itu bisa menjadi alasan untuk menjauh sejenak dari sepak bola. Namun Huijsen justru menunjukkan sikap berbeda. Alih-alih menghabiskan seluruh waktunya untuk bersantai, ia tetap menjalani sesi latihan secara mandiri selama masa liburan.

Fenomena tersebut rupanya menarik perhatian pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pelatih asal Spanyol itu menulis pesan panjang yang menyoroti perbedaan pola pikir atlet elite dunia dengan mereka yang menganggap masa jeda kompetisi sebagai waktu untuk berhenti berlatih sepenuhnya.

Baca Juga: Dulu Dilatih Patrick Kluivert, Kini Curacao Menantang Jerman di Piala Dunia

"Ketika kamu bersantai, elite dunia sedang membantai diri dalam latihan," tulis Souto mengawali unggahannya.

Souto kemudian menyinggung berakhirnya kompetisi futsal profesional Indonesia. Menurutnya, banyak pemain yang memasuki fase yang ia sebut sebagai "deskonosian total" atau liburan total setelah musim berakhir.

Di saat yang sama, ia justru melihat contoh berbeda dari Huijsen yang tetap menjalani latihan keras meski sedang berlibur di Bali.

"Dean Huijsen, pemain profesional Real Madrid. Dia baru saja melewati musim yang sangat melelahkan dan pukulan mental karena tercoret dari skuad Piala Dunia bersama Spanyol. Dia bisa saja berpesta atau sekadar rebahan di pantai. Namun media lokal justru dipenuhi gambar dirinya yang sedang melakoni sesi latihan harian yang sangat keras di bawah terik matahari tropis," tulis Souto.

Bagi Souto, kisah Huijsen bukan sekadar cerita tentang seorang pemain sepak bola yang menjaga kebugaran. Ada pelajaran yang lebih besar mengenai mentalitas seorang atlet profesional.

Ia mempertanyakan mengapa seorang pemain yang sudah berada di level tertinggi dunia masih bersedia berlatih hingga batas kemampuannya saat masa libur, sementara banyak atlet lain justru menghilang dari radar latihan ketika kompetisi selesai.

Souto juga secara khusus menyinggung fenomena pemain yang memilih tampil di turnamen antar-kampung atau tarkam selama masa jeda kompetisi. Menurutnya, kebiasaan tersebut justru berpotensi menghambat perkembangan pemain.

Baca Juga: Australia Tunjukkan Kelas, Bungkam Turki 2-0 di Piala Dunia 2026

"Perbedaannya adalah mentalitas. Istirahat bukan berarti lepas kendali," tulisnya.

Menurut Souto, salah satu kesalahan terbesar yang bisa dilakukan seorang atlet adalah menurunkan kondisi fisik dari level kompetitif ke titik nol selama enam hingga delapan minggu masa liburan.

Ia menyebut periode tanpa kompetisi justru merupakan jendela emas untuk mengembangkan aspek-aspek yang sering sulit ditingkatkan ketika musim sedang berjalan.

Mulai dari memperkuat fisik, membangun ketahanan tubuh terhadap cedera, hingga meningkatkan kemampuan untuk mengulang aktivitas berintensitas tinggi secara konsisten.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: 16 Tahun Setelah Tarian Tshabalala, Meksiko Akhirnya Membalas di Panggung yang Sama

"Menurunkan kondisi dari 100 ke 0 selama 6 sampai 8 minggu adalah bunuh diri profesional," tegasnya.

Meski tidak menyebut nama atlet atau cabang olahraga tertentu di Indonesia, pesan yang disampaikan Souto cukup jelas. Menurutnya, pembeda utama antara atlet biasa dan atlet elite sering kali bukan terletak pada bakat, melainkan pada kebiasaan yang tetap dijaga ketika tidak ada pertandingan, tidak ada sorotan media, dan tidak ada kewajiban latihan dari klub.

Dalam konteks itu, Dean Huijsen menjadi contoh yang menarik. Di tengah kekecewaan karena gagal tampil di Piala Dunia 2026, ia tidak memilih berhenti atau larut dalam rasa kecewa. Sebaliknya, ia memanfaatkan masa jeda untuk tetap bekerja dan mempersiapkan diri menghadapi musim berikutnya.

Unggahan Hector Souto pun akhirnya tidak hanya menjadi komentar tentang seorang pemain Real Madrid yang berlatih di Bali. Lebih dari itu, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di level tertinggi olahraga, masa libur sering kali bukan waktu untuk berhenti berkembang, melainkan kesempatan untuk membangun keunggulan yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Editor : Hakam Alghivari
#dean huijsen #mentalitas #sindiran #bali #Hector Souto