RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika Patrick Kluivert menerima tawaran menangani Curacao pada 2015, tidak banyak yang memprediksi negara kepulauan kecil di Karibia itu suatu hari akan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Saat itu, Curacao masih berada jauh dari sorotan. Mereka bukan kekuatan utama di kawasan CONCACAF, apalagi kandidat peserta Piala Dunia. Namun sebelas tahun kemudian, negara berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa tersebut bersiap menjalani pertandingan paling bersejarah dalam sepak bolanya saat menghadapi Jerman pada laga pembuka Grup E Piala Dunia 2026.
Perjalanan Curacao menuju turnamen terbesar dunia bukanlah kisah yang lahir dalam semalam. Di balik keberhasilan itu terdapat proyek panjang yang dimulai satu dekade lalu, ketika federasi sepak bola Curacao berupaya mengubah arah perkembangan tim nasional mereka.
Baca Juga: Dari Juara Dunia ke Korban Fase Grup, Jerman Tak Mau Mengulang Mimpi Buruk di Piala Dunia 2026
Awal Mula Proyek Besar Curacao
Penunjukan Patrick Kluivert pada 2015 menjadi salah satu langkah paling ambisius yang pernah dilakukan Curacao.
Legenda Belanda yang pernah membela Ajax, AC Milan, Barcelona, dan tim nasional Belanda itu datang dengan visi yang lebih besar daripada sekadar memenangkan pertandingan. Salah satu fokus utama saat itu adalah memperkuat hubungan dengan pemain diaspora Curacao yang tumbuh dan berkembang di Belanda.
Strategi tersebut terbilang masuk akal. Sebagai wilayah bekas koloni Belanda, Curacao memiliki banyak talenta keturunan yang berkarier di Eropa. Namun sebelumnya, potensi itu belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kluivert memang tidak bertahan lama di kursi pelatih. Namun kehadirannya menjadi titik awal perubahan cara pandang Curacao terhadap pembangunan tim nasional.
Mengandalkan Kekuatan Diaspora
Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, Curacao menyadari bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan negara-negara besar hanya mengandalkan pembinaan lokal.
Federasi kemudian aktif mendekati pemain-pemain keturunan yang berkiprah di berbagai kompetisi Eropa. Hasilnya mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Kini Curacao memiliki sejumlah nama yang cukup dikenal penggemar sepak bola internasional. Tahith Chong, produk akademi Manchester United, menjadi salah satu wajah baru tim nasional. Selain itu ada Riechedly Bazoer yang pernah memperkuat Ajax dan AZ Alkmaar, serta kapten Leandro Bacuna yang memiliki pengalaman panjang di sepak bola Inggris.
Jürgen Locadia juga menjadi salah satu pemain yang memperkuat lini serang Curacao setelah berkarier di Belanda, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat.
Kehadiran para pemain diaspora tersebut membuat kualitas Curacao meningkat secara signifikan dibanding satu dekade lalu.
Proyek yang Terus Berlanjut
Menariknya, pembangunan sepak bola Curacao tidak berhenti setelah era Kluivert berakhir.
Sejumlah nama besar asal Belanda turut mengambil bagian dalam proyek tersebut. Guus Hiddink pernah menangani Curacao sebelum akhirnya digantikan oleh pelatih-pelatih lain yang melanjutkan fondasi yang sudah dibangun.
Kini tongkat estafet berada di tangan Dick Advocaat.
Pelatih berusia 78 tahun itu bahkan akan mencatat sejarah sebagai pelatih tertua yang pernah memimpin sebuah tim di putaran final Piala Dunia. Kehadirannya memberikan pengalaman sekaligus stabilitas bagi skuad yang sebagian besar belum pernah merasakan atmosfer turnamen sebesar ini.
Di bawah kepemimpinannya, Curacao berhasil menyelesaikan perjalanan kualifikasi dan mengamankan tiket menuju Piala Dunia 2026.
Menantang Raksasa Dunia
Ironisnya, pertandingan pertama Curacao di putaran final langsung mempertemukan mereka dengan salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola.
Jerman datang ke Houston sebagai empat kali juara dunia dan salah satu kandidat kuat peraih trofi tahun ini. Perbedaan kualitas, pengalaman, dan tradisi sepak bola membuat Die Mannschaft menjadi favorit mutlak dalam pertandingan tersebut.
Namun bagi Curacao, laga melawan Jerman memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Ini adalah bukti bahwa proyek yang dimulai lebih dari satu dekade lalu berhasil membawa mereka ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Mimpi yang Menjadi Kenyataan
Apa pun hasil yang terjadi di Houston nanti, Curacao sudah menorehkan sejarah.
Dari sebuah negara kecil yang jarang diperhitungkan di panggung internasional, mereka kini berdiri sejajar dengan para raksasa sepak bola dunia dalam turnamen paling bergengsi di planet ini.
Dan ketika para pemain Curacao memasuki lapangan untuk menghadapi Jerman, mereka tidak hanya membawa harapan satu generasi pesepak bola. Mereka juga membawa warisan dari proyek panjang yang pernah dimulai Patrick Kluivert lebih dari sepuluh tahun lalu.
Sebuah proyek yang kini akhirnya mencapai panggung yang dulu terasa begitu jauh: Piala Dunia. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari