RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika undian Piala Dunia 2026 mempertemukan Curacao dengan Jerman di Grup E, banyak pihak langsung menganggap hasil pertandingan pembuka sudah bisa ditebak. Di satu sisi ada Jerman, empat kali juara dunia dan salah satu kandidat kuat peraih trofi tahun ini. Di sisi lain berdiri Curacao, negara kepulauan kecil di Karibia yang baru pertama kali tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Namun bagi Curacao, pertandingan melawan Jerman bukan sekadar laga pembuka fase grup. Ini adalah puncak perjalanan panjang yang selama bertahun-tahun tampak mustahil untuk diwujudkan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Blue Wave berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Mereka bahkan datang ke Amerika Serikat dengan status tim debutan berperingkat FIFA terendah di turnamen, berada di posisi ke-82 dunia.
Baca Juga: Australia Tunjukkan Kelas, Bungkam Turki 2-0 di Piala Dunia 2026
Meski demikian, pencapaian tersebut sudah cukup untuk mengubah sejarah sepak bola negara yang berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa itu.
Mimpi Besar dari Pulau Kecil Karibia
Nama Curacao mungkin tidak setenar Brasil, Argentina, atau Jerman dalam peta sepak bola dunia. Negara yang terletak di Laut Karibia tersebut lebih dikenal sebagai destinasi wisata dengan pantai-pantai tropisnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, Curacao perlahan membangun fondasi sepak bola yang lebih kompetitif.
Mereka memanfaatkan hubungan historis dengan Belanda untuk menarik sejumlah pemain keturunan yang berkarier di Eropa. Strategi itu membuat kualitas skuad Curacao meningkat secara signifikan dibanding satu dekade lalu.
Kini, hasil dari proyek tersebut akhirnya terlihat.
Lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola Curacao sejak negara tersebut mulai berkompetisi secara independen di bawah naungan FIFA.
Dick Advocaat Ukir Rekor Dunia
Cerita menarik Curacao tidak berhenti pada status debutan.
Di pinggir lapangan, mereka memiliki sosok yang juga sedang menulis sejarah. Dick Advocaat akan menjadi pelatih tertua yang pernah memimpin sebuah tim di Piala Dunia.
Pelatih asal Belanda itu kini berusia 78 tahun.
Menariknya, Curacao sempat mengalami gejolak menjelang turnamen. Pelatih Fred Rutten mengundurkan diri pada Mei lalu, sehingga federasi kembali menunjuk Advocaat untuk memimpin tim hanya beberapa minggu sebelum Piala Dunia dimulai.
Keputusan tersebut menghadirkan stabilitas yang dibutuhkan skuad Curacao menjelang turnamen terbesar dalam sejarah mereka.
Bagi Advocaat sendiri, ini menjadi babak unik dalam karier panjang yang telah membawanya melatih klub dan tim nasional di berbagai belahan dunia.
Wajah-Wajah Skuad yang Tidak Asing
Meski berstatus debutan, Curacao bukan tim yang sepenuhnya anonim.
Mereka diperkuat sejumlah pemain yang pernah berkiprah di kompetisi Eropa. Salah satunya adalah Tahith Chong, produk akademi Manchester United yang kini menjadi salah satu andalan di lini serang.
Pemain berusia 26 tahun tersebut baru beralih membela Curacao dalam beberapa tahun terakhir, tetapi sudah menunjukkan kontribusi signifikan. Kecepatan dan kemampuannya bermain di kedua sisi sayap membuat Chong menjadi salah satu pemain yang paling diwaspadai Jerman.
Selain Chong, Curacao juga memiliki nama-nama seperti Leandro Bacuna, Riechedly Bazoer, hingga Jürgen Locadia yang kembali tersedia setelah menjalani hukuman larangan bermain.
Kehadiran para pemain berpengalaman itu membuat Curacao tidak datang ke Houston hanya untuk menjadi pelengkap grup.
Tidak Ada yang Diharapkan, Tidak Ada yang Ditakuti
Di atas kertas, peluang Curacao untuk mengalahkan Jerman memang sangat kecil.
Perbedaan kualitas, pengalaman, dan kedalaman skuad antara kedua tim masih terlalu jauh. Jerman datang dengan target mengejar gelar dunia kelima, sedangkan Curacao baru menjalani pertandingan pertama mereka di putaran final.
Namun justru karena itulah Curacao berada dalam posisi yang nyaman.
Tidak ada tekanan besar yang membebani mereka. Tidak ada tuntutan wajib menang. Semua ekspektasi berada di kubu Jerman.
Situasi tersebut sering kali membuat tim underdog mampu bermain lebih lepas dan berani mengambil risiko.
Menulis Babak Baru Sejarah
Apa pun hasil pertandingan nanti, Curacao sudah mencatat pencapaian yang belum pernah mereka raih sebelumnya.
Ketika para pemain melangkah ke lapangan di Houston, mereka tidak hanya mewakili sebuah tim nasional. Mereka membawa harapan sebuah negara kecil yang untuk pertama kalinya bisa berdiri sejajar dengan raksasa-raksasa sepak bola dunia.
Jerman mungkin datang sebagai favorit mutlak.
Namun bagi Curacao, malam ini bukan tentang status unggulan atau peluang juara. Ini tentang menulis halaman pertama dalam sejarah Piala Dunia mereka sendiri.
Dan seperti banyak kisah besar dalam sepak bola, semuanya selalu dimulai dari sebuah mimpi yang dianggap terlalu kecil untuk menjadi kenyataan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari