Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Begini Pandangan Pelatih Muda asal Bojonegoro Soal Pengembangan Bakat Sepak Bola Muda Kota Ledre

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 24 Februari 2026 | 19:58 WIB

MANTAN PELATIH PERSIBO: Masdra Nurriza resmi sebagai pelatih Persekabpas, bakal berhadapan dengan Persibo di Liga 3 Nusantara.
MANTAN PELATIH PERSIBO: Masdra Nurriza resmi sebagai pelatih Persekabpas, bakal berhadapan dengan Persibo di Liga 3 Nusantara.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Iklim persepakbolaan di Bojonegoro dapat dikategorikan sama seperti sebuah roda. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang juga perlu ditambal.

Di satu sisi, Bojonegoro melahirkan banyak legenda dan jagoan sepak bola, dari yang paling terkenal seperti Samsul Arif dan Bijahil Chalwa, hingga yang paling baru seperti Fadly Alberto Hengga. Di sisi lain, terutama usai periode dualisme Liga Indonesia, klub lokal seperti Persibo Bojonegoro dan Bojonegoro FC belum dapat kembali menunjukkan taringnya di kancah nasional.

Namun mana yang perlu didahulukan antara pengembangan pemain dan manajemen klub lokal? Menurut pelatih sepak bola muda asal Bojonegoro, Masdra Nurriza, keduanya sama-sama penting dan saling bergantung satu sama lain.

Selain itu, kunci pengembangan yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan pelatih untuk mendidik para pemain, terutama dalam skuad kelompok usia untuk mengembangkan diri. Tentu, pelatih juga wajib melebarkan wawasan mereka untuk dapat mengarahkan anak-anak asuhnya.

“Sebagai pelatih muda, target yang pasti adalah selalu personal development, pengembangan diri. Karena sepak bola kita ini selalu berubah trennya terkait pengetahuan permainannya. Apalagi ilmu teknologi dan metodologi banyak sekali pengembangan. Jadi fokus saya sekarang evaluasi catatan taktik kemarin dan memunculkan ide baru supaya tidak mudah diprediksi lawan,” jelas pelatih yang baru saja menuntaskan kontrak melatih Persekabpas Pasuruan pada Liga Nusantara musim 2025/2026 lalu.

Menurut Masdra, melahirkan seorang pemain hebat tidak dapat mengandalkan skill mentah semata. “Istilahnya itu ‘elite coach for elite athlete’ (pelatih elit untuk menghasilkan atlet elit). Kalau mau pemain bagus tapi tidak diimbangi dengan pelatih yang dapat mendukung atau dapat mengembangkan diri, jadinya susah,” jelas warga Kecamatan Trucuk tersebut.

Dari sini, adanya sarana dan sistem pengembangan pemain menjadi hal yang penting jika ingin melahirkan jagoan lapangan hijau baru. Selain pelatihkompeten dengan kurikulum latihan tertata, perlu ada keterlibatan Asosiasi Kabupaten (Askab) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk menyediakan sarana latihan, serta ahli dari bidang ilmu olahraga, misal pelatih fisik, ahli fisiologi, dan analis pertandingan.

“Kita tidak bisa membicarakan calon bintang sepak bola tanpa membicarakan pengembangannya. Saya ingin ada sistem pengembangan bakat di Bojonegoro yang dapat menghasilkan pemain berkualitas setiap tahunnya, sehingga yang dapat muncul ke tingkat nasional tidak hanya satu-dua saja,” ujar lulusan S-2 Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.

Masdra juga berpandangan bahwa pelatih masa kini wajib memiliki ide dan metodologi kreatif agar para pemain, terutama usia muda rajin berlatih. Tentu, dukungan dan restu orang tua juga banyak membantu anak turun ke lapangan hijau.

“Zaman dulu nggak banyak alternatif, jadi luang dikit pasti ke lapangan. Sekarang ada gadget. Masalahnya kalau pelatih di lapangan nggak asyik, anak jadi bosan. Makanya pelatih harus upgrade metodologi supaya anak termotivasi. Orang tua juga harus jadi support system yang bagus,” ujar pelatih yang pernah dipercaya melatih Persibo Bojonegoro pada musim 2022 silam.

Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah perancangan liga atau turnamen kelompok usia yang dapat menjamin para pemain mendapat jam terbang yang cukup. “Tentu susah kalau anak-anak hanya berlatih terus-menerus, kemudian hanya ikut turnamen satu atau dua minggu dalam setahun, mainnya hanya satu-dua kali dalam fase grup,” tambah Masdra.

Berkaitan hal tersebut,  tentu harus ada klub yang siap menjadi wadah bagi para pemain muda tersebut. “Majunya sepak bola daerah itu salah satunya karena ada tim bola yang bermain di level tertinggi sebagai magnet. Kita harapkan itu di Persibo Bojonegoro,” papar Masdra.

Dengan peralihan kepemilikan Persibo dari Pemkab Bojonegoro ke pihak perusahaan swasta sebagai wujud profesionalisasi, Masdra berharap Laskar Angling Dharma masih mampu menjadi kawah candradimuka pesepakbola putra daerah Bojonegoro. Dirinya juga tidak memungkiri siap mengisi kursi pelatih sekali lagi.

“Intinya saya siap kalau dipanggil ke Bojonegoro untuk memberikan ide atau supporting. Saya siap menawarkan diri untuk mengonsep bagaimana Bojonegoro ini secara teknis sepak bolanya berjalan dengan desain yang benar berdasarkan sport science, bukan cuma sekadar feeling,” pungkas Masdra. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#masdra nurriza #Fadly Alberto Hengga #persibo bojonegoro #persibo #samsul arif #Pelatih #Sepak Bola #Sepakbola #persekabpas pasuruan #pengembangan diri #pengembangan #bijahil chalwa #trucuk #bojonegoro #pelatih muda #Pelatih Sepak bola #Pengembangan Pemain