KESIBUKAN sebagai kepala sekolah tidak membuat Nanin Meipuspa Ranie meninggalkan dunia yang pernah digelutinya. Di sela padatnya aktivitas di SDIT Insan Permata Bojonegoro, perempuan yang tinggal di Jalan Serma Abdullah, Pacul, Bojonegoro, itu masih menyempatkan diri berbagi ilmu bahasa Jepang.
Lulusan pendidikan bahasa Jepang itu mulai terjun ke dunia pendidikan sekolah dasar sejak 2012. Kesibukan di sekolah membuat waktu luangnya lebih banyak tersisa pada Sabtu dan Minggu. Namun, kesempatan tersebut terkadang tetap dimanfaatkan untuk memberikan les bahasa Jepang bagi siswa SMP maupun SMA yang ingin belajar.
"Waktu luang yang ada biasanya di hari Sabtu dan Ahad. Karena SDIT sekolah fullday dengan kepulangan pukul 15.30," ujarnya.
Baca Juga: Nurul Hidayah, Sosok Kepala Sekolah yang Merangkai Gagasan dengan Kepedulian
Kegiatan itu telah dilakoninya sejak lama. Ilmu yang diperoleh semasa bersekolah di SMAN 2 Bojonegoro hingga menempuh pendidikan di UNNES ingin terus dijaga agar tidak hilang begitu saja. Sekaligus, ilmu tersebut bisa memberi manfaat bagi orang lain.Namun, setelah berkeluarga dan memiliki putra kedua, intensitas les mulai berkurang. Fokusnya kini lebih banyak tercurah pada lembaga pendidikan dan organisasi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).
Baginya, berbagi ilmu selalu menghadirkan kepuasan tersendiri. Ada bahagia ketika ilmu yang dimiliki bisa bermanfaat. Meski konsekuensinya, waktu untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga menjadi lebih sedikit.Kini, bahasa Jepang juga dikenalkan kepada siswa SDIT melalui kegiatan ekstrakurikuler. Harapannya, anak-anak tak hanya mengenal bahasa asing, tetapi kelak mampu mempraktikkannya ketika berkesempatan menginjakkan kaki di Jepang.
"Untuk memberikan motivasi bagi anak-anak agar bisa berbahasa Jepang dengan baik. Dan, bisa mempraktekannya suatu saat ketika berada di Jepang," pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko