DI balik senyum ramah, Mia Kafh menyimpan kisah yang membuatnya memandang hidup dari sudut berbeda. Perempuan tinggal di Jalan Lettu Suyitno, Kecamatan Bojonegoro Kota ini, menemukan cara baru untuk menjaga waras, yakni berlari dan mendaki gunung.
Awalnya, semua bermula dari masa yang berat. “Dulu awalnya karena life after breakup (kehidupan setelah putus cinta),” ungkapnya.
Namun, dari pelarian hati itu, Mia justru menemukan ruang baru untuk mencintai diri sendiri.
Lari yang awalnya hanya coba-coba, kini jadi rutinitas yang melekat. Gunung yang awalnya terasa asing, kini jadi tujuan, setidaknya setahun sekali yang selalu ditunggu.
Bagi Mia, setiap langkah lari adalah cara menata ulang hati, setiap puncak gunung adalah pengingat bahwa bisa berdiri lagi di atas luka. “Dampaknya banyak sih, selain biar sehat juga menjaga mood biar good terus,” katanya.
Sehari-hari, Mia disibukkan dengan rutinitas kerja. Namun, di sela kesibukan itu, ia tak lupa menjaga hobinya—meski mendaki tak bisa sering dilakukan. Baginya, hobi bukan hanya pengisi waktu, tapi cara menjaga jiwa tetap hidup.
Tentang masa depan, Mia tak banyak menuntut dunia. “Semua orang pasti ingin sukses ya, cuma sukses juga mencakup banyak hal. Sukses menurutku, semoga aku bahagia,” ucapnya.
Namun, ia punya satu mimpi manis: menjadikan hobinya sebagai sumber penghasilan. “Pengen banget punya hobi yang dibayar, jalan-jalan nggak ngabisin uang tapi ngehasilin uang,” ujarnya mantap. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana