Sapa Bupati Bojonegoro Edisi ke-6: Kota Ditata, PKL Tak Dilupakan

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 07:41 WIB
SAPA BUPATI: Sapa bupati edisi 6 di Pendopo Malowopati
SAPA BUPATI: Sapa bupati edisi 6 di Pendopo Malowopati

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penataan kawasan perkotaan menjadi perhatian Pemkab Bojonegoro. Namun, pembenahan kota tidak ingin dilakukan dengan mengesampingkan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan. 

Hal tersebut ditegaskan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam dialog interaktif Sapa Bupati edisi ke-6 di Pendopo Malowopati, Kamis (3/9).

Mengusung tema "Menata Kota, Memudahkan Warga", forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada kepala daerah.

Bupati Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah, jajaran asisten, staf ahli, pimpinan OPD, serta elemen masyarakat hadir dalam dialog yang juga disiarkan melalui YouTube Pemkab Bojonegoro.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PKP CK) Bojonegoro Satito Hadi memaparkan sejumlah agenda penataan ruang publik pada 2026. Empat kawasan menjadi prioritas, yakni Pasar Kota, Alun-Alun, Masjid Darussalam, dan Taman Rajekwesi.

Baca Juga: Dialog Interaktif SAPA Bupati Diikuti Warga Bojonegoro: Wabup Jawab Langsung Aspirasi Masyarakat

Penataan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan ruang publik sebagai pusat interaksi sosial, ekonomi, budaya, sekaligus lingkungan bagi masyarakat.

“Revitalisasi ini bertujuan mengoptimalkan ruang publik sebagai pusat interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan bagi masyarakat Bojonegoro,” jelas Satito.

Bupati Wahono menegaskan, setiap aspirasi yang masuk akan dilihat berdasarkan kebutuhan dan kewenangan perangkat daerah. Tidak seluruh persoalan dapat diselesaikan sekaligus. Karena itu, diperlukan pembahasan bersama untuk menentukan langkah yang paling memungkinkan.

“Yang disampaikan masyarakat akan kami lihat satu per satu. Mana yang bisa segera ditindaklanjuti akan kita koordinasikan dengan perangkat daerah terkait. Yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut, kita dudukkan bersama agar solusinya tepat,” kata Wahono.

Salah satu perhatian utama dalam penataan kota adalah kawasan Alun-Alun Bojonegoro dan keberadaan pedagang kaki lima (PKL). Wahono memastikan penataan tidak semata mengejar wajah kota yang lebih tertib, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi warga.

“Penataan kota akan kita benahi. Aspirasi para PKL juga akan kita perhatikan. Kita ingin kota lebih tertata dan nyaman, tetapi masyarakat yang mencari nafkah juga harus tetap mendapat ruang,” tegasnya.

Bagi Wahono, Sapa Bupati bukan sekadar forum mendengar keluhan masyarakat. Dialog bulanan tersebut menjadi cara pemerintah membaca persoalan secara langsung dari lapangan sebelum menentukan kebijakan.

Baca Juga: SAPA Bupati Bojonegoro Mengangkat Tema Bojonegoro Wastra Batik Festival 2025

Dengan demikian, semangat “Menata Kota, Memudahkan Warga” tidak berhenti pada pembangunan fisik. Penataan diarahkan agar wajah kota semakin tertib dan nyaman, namun tetap memberi ruang bagi masyarakat untuk bekerja dan menggerakkan roda perekonomian.

Di Pendopo Malowopati, aspirasi warga bertemu dengan meja kebijakan. Tantangannya kini memastikan setiap suara yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi berujung pada tindak lanjut yang nyata. (*/tih)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
PKL pemkab bojonegoro Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bojonegoro Sapa Bupati