RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Angkutan pelajar (apel) sudah dianggarkan dalam APBD 2026. Namun, terakhir beroperasi sejak 31 Desember 2025. Sehingga, per 1 Januari tahun ini hingga kemarin (16/4) belum beroperasi.
Kondisi ini tentu dikeluhkan wali siswa, karena terpaksa menambah uang saku. Serta khawatir keselematan di jalan. "Sekarang uang saku anak-anak kami tambah, karena angkutan gratis dari pemkab sudah tidak ada," ujar Lestari, warga Kecamatan Kalitidu.
Ia mengaku, anaknya bersekolah di SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro. Kini, setiap hari harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp 10.000 untuk biaya transportasi dua anaknya.
Menurut dia, sebelumnya terbiasa dengan layanan angkutan pelajar gratis, sehingga ketika program belum berjalan, pengeluaran harian pun ikut meningkat.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Welly Fitrama menyampaikan, terkait berhenti beroperasinya angkutan pelajar gratis, dikarenakan kegiatan bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sehingga mengikuti regulasi per 31 Desember berakhir.
Namun, ke depan akan mencari format atau mekanisme jika alokasi anggaran dari APBD bisa berkelanjutan dengan mengacu ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
"Atau mekanisme kerja sama dengan pihak pengusaha atau swasta dalam supporting pelaksanaannya," ungkapnya.
Dia menjelaskan, jumlah armada disiapkan sebanyak 125 kendaraan. Rinciannya 112 armada angkutan pelajar gratis regular dan 13 armada untuk pelajar disabilitas. "Untuk regular kami menggunakan kendaraan yang memiliki trayek," beber dia.
Welly menambahkan, untuk kendaraan disabilitas menggunakan angkutan sewa sejenis elf. "Dalam operasionalnya selain pengemudi akan didampingi oleh guru dari lembaga sekolahnya," pungkas mantan kepala dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar) itu. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana