Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pemkab Bojonegoro Wanti-Wanti Masyarakat Waspada Kemarau Panjang

Hakam Alghivari • Kamis, 9 April 2026 | 07:45 WIB
BENDUNGAN GONGSENG: Hutan jati di sekitar bendungan Gongseng, Kecamatan Temayang menguning saat musim kemarau. Dindamkarmat Bojonegoro, siaga kebakaran hutan terjadi di kemarau 2026 ini. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BENDUNGAN GONGSENG: Hutan jati di sekitar bendungan Gongseng, Kecamatan Temayang menguning saat musim kemarau. Dindamkarmat Bojonegoro, siaga kebakaran hutan terjadi di kemarau 2026 ini. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banjir di musim hujan, dan kekeringan di musim kemarau, masih menjadi bencana langganan di Kabupaten Bojonegoro. Sudah berganti beberapa kali kepala daerah, belum menemukan solusi jangka panjang untuk mengatasinya.

Menekan kornan kekeringan di musim kemarau mendatang, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai memperkuat langkah mitigasi, karena diprediksi lebih kering dan berdurasi panjang. Sejumlah sektor disiapkan, mulai dari pertanian hingga antisipasi kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan prakiraan BMKG Tuban, awal musim kemarau di Bojonegoro terjadi bertahap sejak April hingga Mei. Sejumlah wilayah seperti Balen, Baureno, dan Kanor mulai memasuki kemarau pada April dasarian II, disusul wilayah lain hingga awal Mei.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Bojonegoro telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Nomor 520/531/412.221/2026 tentang Antisipasi dan Mitigasi Musim Kemarau 2026, khususnya di sektor pertanian.

Dalam edaran itu, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menekankan pentingnya pengelolaan air secara efisien, penyesuaian pola tanam, serta penguatan peran pemerintah desa dalam distribusi air.

Baca Juga: Jelang Musim Kemarau, DKPP dan PU SDA Bojonegoro Antisipasi Kekeringan Lahan Pertanian

“Mari bersama-sama meningkatkan peran pemerintah mulai dari pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan, melalui koordinasi terkait distribusi air secara adil, memfasilitasi kebutuhan sarana prasarana pertanian sesuai kewenangannya,” tegasnya, Selasa (7/4).

Selain sektor pertanian, potensi kemarau kering juga berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Dindamkarmat) Bojonegoro pun mulai meningkatkan kesiapsiagaan.

“Sudah rapat koordinasi tingkat provinsi Jawa Timur dipimpin oleh Ibu Gubernur tentang dampak bencana hidrometeorologi dan potensi bencana pada musim kemarau,” ujar Kepala Dindamkarmat, Siswoyo, Selasa (7/4).

Langkah mitigasi dilakukan dengan mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok sembarangan misal di areal lahan yang kering, dan lain-lain,” terangnya.

Selain itu, pencegahan berbasis edukasi juga dilakukan. Salah satunya melalui penyebaran brosur dan leaflet terkait penyebab kebakaran serta penanganan dini.

Dengan langkah mitigasi ini, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam mencegah dampak kemarau, khususnya kebakaran yang rawan terjadi di musim kering. (kam/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Kebakaran #kekeringan #Petani #bojonegoro #Kemarau