Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

50 Rumah di Dusun Ngrojo yang Terancam Longsor Belum Mendapat Perhatian Pemerintah

Dhani Wahyu Alfiansyah • Senin, 26 Januari 2026 | 18:35 WIB

 

SWADAYA: Warga swadaya memotong bambu untuk penahan longsor sungai Dusun Ngrojo, RT 07 RW 02, Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem.
SWADAYA: Warga swadaya memotong bambu untuk penahan longsor sungai Dusun Ngrojo, RT 07 RW 02, Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem.
 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ancaman longsor di bantaran sungai Dusun Ngrojo, RT 07 RW 02, Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem, menjadi kekhawatiran warga sejak dua tahun terakhir.

Sedikitnya empat rumah dilaporkan telah terdampak, sementara puluhan kepala keluarga lainnya masih berada di kawasan rawan. Belum ada perhatian dari pemerintah untuk solusinya.

Kepala Desa (Kades) Dukohkidul Sulibianto mengatakan, persoalan longsor sebenarnya sudah mendapat perhatian dari pihak kecamatan.

“Memang sudah dilakukan survei, tapi belum tahu perkembangannya,” katanya.

Ia membenarkan, potensi longsor tidak hanya mengancam rumah yang sudah terdampak, tetapi juga permukiman warga di sekitarnya.

“Selain empat rumah yang sudah terdampak, ada sekitar 50 KK lebih di sekitar sana,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Heru Wicaksi menyampaikan, bahwa hingga kemarin (26/1) belum menerima laporan resmi terkait ancaman longsor di Dusun Ngrojo.

“Sejauh ini tidak masuk laporannya,” kata Heru. Meski demikian, BPBD memastikan akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.

“Hari ini (kemarin) baru meluncur ke lokasi,” jelasnya. Di tengah belum adanya penanganan permanen, warga Dusun Ngrojo terpaksa mengandalkan upaya swadaya.

Selama kurang lebih dua tahun terakhir, kerja bakti rutin dilakukan setiap kali debit air sungai meningkat.

Aji, salah satu warga setempat, mengatakan kekhawatiran warga selalu meningkat saat arus sungai mulai deras.

Karena itu, warga langsung bergerak membuat tanggul darurat untuk menahan laju erosi.

“Warga ya masih khawatir. Kalau air mulai naik langsung kerja bakti bikin tanggul darurat,” ujar Aji.

Upaya penanganan dilakukan dengan menancapkan bambu di bantaran sungai. Namun, cara tersebut dinilai hanya bersifat sementara.

“Sejauh ini ya hanya pakai bambu. Tapi kalau bambunya ya lama-lama habis,” imbuhnya.

Ia menambahkan, sebelumnya sempat dilakukan survei ke lokasi, namun hingga kini belum ada perbaikan lanjutan yang direalisasikan.

“Sudah sempat dilakukan survei, tapi tidak tahu kenapa sampai sekarang belum ada perbaikan,” pungkas Aji. (dan/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Desa #Ngasem #hujan deras #rumah #pemerintah #bojonegoro #bpbd #ancaman longsor