KRISIS Air di 15 desa di Kecamatan Dander, Kapas, hingga Bojonegoro Kota kerap mendapat keluhan dari petani yang mengandalkan air dari Waduk Pirang. ‘’Rerata keluhan disampaikan ke kades-kades. Kami menerima keluhan dari situ,’’ kata Camat Dander Mujianto kemarin (12/12).
Dia menjelaskan, waduk di Desa Jatiblimbing turut Kecamatan Dander. Itu mengairi tiga kecamatan meliputi Kecamatan Kapas, Dander, dan Bojonegoro. Untuk desa terdampak di Kecamatan Dander di antaranya Desa Jatiblimbing, Ngraseh, dan Mojoranu.
Beberapa hari terakhir menerima keluhan kurangnya air pertanian bagi para warga bersumber dari beberapa kades. Salah satu penyebabnya dari berkurangnya debit Waduk Pirang. ‘’Keluhan ini baru muncul akhir-akhir tahun ini, 2024. Sebelumnya, di dua atau tiga tahun terakhir baru keluhan debit (Waduk Pirang) berkurang belum sampai seperti ini,’’ katanya.
Camat Kapas Kasmari mengatakan, keluhan terkait pengairan pertanian biasanya muncul di musim kemarau karena debit air terbatas. Sehingga, dikoordinasikan dengan pemerintah desa (pemdes) yang memiliki himpunan penduduk pemakai air (hippa) dan dinas terkait sesuai kewenangannya. ‘’Keluhannya biasanya di musim kemarau karena debit air yang terbatas,’’ katanya.
Camat Bojonegoro Kota Muchlisin Andi Irawan menambahkan, setelah berkoordinasi dengan dinas pekerjaan umum sumber daya air (PU SDA), Waduk Pirang masuk dalam wewenang provinsi. ‘’Info dari dinas PU SDA Waduk Pirang masuk kewenangan PU SDA provinsi,” katanya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana