Radar History: Perpanjangan Kontrak Exxon Alot

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:22 WIB
ARSIP: Arsip berita tentang perpanjangan kontrak antara ExxonMobil dan Pertamina sempat alot pada Agustus 2003 silam.
ARSIP: Arsip berita tentang perpanjangan kontrak antara ExxonMobil dan Pertamina sempat alot pada Agustus 2003 silam.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM -  Perundingan soal perpanjangan kontrak antara ExxonMobil dan Pertamina sempat alot pada Agustus 2003 lalu. Akibatnya, kelangsungan Exxon di Bojonegoro juga belum jelas.

Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro di Agustus 2003, kondisi tersebut terkuak dalam dialog antara ExxonMobil dan anggota dewan, eksekutif, serta masyarakat Bojonegoro di ruang pertemuan Angling Dharma Pemkab Bojonegoro .

Dalam dialog yang dipandu Ketua DPRD Bojonegoro kala itu Anwar Sholeh, Budiono selaku Vice President Exploration Mobil Cepu Limited (EMCL), anak perusahaan Exxon, dengan gamblang menjelaskan segala hal yang menyelimuti Exxon terkait berhentinya kegiatan penambangan di daerah Banyuurip.

Baca Juga: Cara Warga Bojonegoro Bangun Ekonomi Mandiri Berbekal Dana Desa dan Pendampingan dari ExxonMobil

‘’Terus atau tidak, kami tidak bisa memastikan. Semua tergantung bisnis. Orang akan bisnis kalau memung-kinkan uangnya kembali,’’ kata Budiono.

‘’Hanya, Exxon masih mempunyai komitmen untuk terus melakukan kegiatan di Bojonegoro," lanjutnya.

Menurut dia, Exxon tidak beroperasi sejak empat bulan silam karena berbagai hal. Akibat terhentinya kegiatan itu, pihaknya mengaku harus menanggung kerugian sekitar USD 1 juta. Dana itu digunakan untuk pemeliharaan alat berat yang ada

‘’Itu hanya untuk pemeliharaan, belum gaji karyawan dan lain Jain. Sehingga kami sempat merumahkan beberapa karyawan,” katanya.

Baca Juga: Presiden ExxonMobil Indonesia Temui Bupati Bojonegoro: Langkah Strategis Perkuat Kolaborasi Pemkab-EMCL

Dalam kesempatan itu, anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Bojonegoro Tjitjik Mursyidah Muqaffi bertanya tentang rencana selanjutnya Exxon di Bojonegoro. Sedangkan anggota FPDIP yang juga Ketua Komisi D Mochtar Setijohadi menanyakan kendala yang dihadapi Exxon dalam berunding dengan Pertamina.

Ditanya begitu, Budiono menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan apapun yang telah dibuat. Waktu dua masa perundingan itu, digunakan Exxon-Pertamina untuk mencari alternatif jalan keluar terbaik.

‘’Kami yakin kesepakatan akan segera didapat. Kami tidak menjamin, tapi kami yakin itu,” katanya.

Selama ini, Exxon sudah berupaya keras untuk dapat kata sepakat dalam perundingan perpanjangan masa kontrak. Bahkan, pejabat bidang ekonomi dari kantor pusat di Amerika Serkat (AS) datang sendiri ke Indonesia untuk melaksanakan perundingan itu.

‘’Jadi perundingan dilakukan secara intensif,” ujarnya.

Budiono mengaku sedikit pusing menghadapi Pertamina. Sebab, proposal yang dikirim terkait perundingan itu belum pernah dijawab Pertamina. Dia mengaku tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan Petamina.

Baca Juga: ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

‘’Kami sudah enam kali mengirim proposal, tapi tak dijawab. Ya, kami harus bagaimana kalau begini,” katanya.

Padahal, kata dia, di sumur minyak yang dikelola Exxon sekarang ini terdapat cadangan minyak yang banyak. Yakni, sekitar 600 juta barel.

Menurut dia, mestinya pemerintah akan untung jika minyak di Banyuurip digarap.

 ‘’Ini yang terbesar di Indonesia. Akan banyak uang yang didapat kalau bisa diproduksi,” ujarnya. (irv/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
exxon Exxon Mobil banyu urip dprd bojonegoro Pemkab Blora