Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Tan Malaka Menjadi 'Agama Baru' bagi Gen Z? Zen RS: Bersih karena Tak Sempat Berkuasa!

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 23 April 2026 | 18:16 WIB
TAN MALAKA: Analisis mendalam Zen RS di Putcast Mojokdotco.
TAN MALAKA: Analisis mendalam Zen RS di Putcast Mojokdotco.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nama Tan Malaka kini bukan sekadar deretan huruf di buku sejarah sekolah. Di tangan generasi muda hari ini, ia telah bertransformasi menjadi semacam "mitos", abstraksi, bahkan "teologi politik" yang dipuja bak idola tanpa cela.

Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa sosok yang konon tidak pernah dianggap signifikan oleh maestro sastra Pramoedya Ananta Toer ini justru kini diagungkan sedemikian rupa?

Pertanyaan menggelitik ini dibedah tuntas dalam sebuah episode Putcast di kanal YouTube Mojokdotco. Kepala Suku Mojok, Putut EA, berdiskusi mendalam dengan Zen RS, seorang jurnalis, penulis, dan intelektual, yang baru saja menyusun ulang dan memberi anotasi (catatan pendamping) pada mahakarya Tan Malaka, "Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia), bertepatan dengan 100 tahun usia naskah tersebut.

Berikut adalah rangkuman analisis sosiologis dan historis dari perbincangan bernas tersebut.

Anomali Tan Malaka: Sempurna Karena Tak Sempat Berkuasa

Salah satu tesis paling tajam yang dilontarkan Zen RS adalah bahwa "kegemilangan Tan Malaka hari ini justru berdiri tegak di atas kegagalan-kegagalannya sebagai subjek politik." Apa maksudnya?

Jika kita membandingkannya dengan Founding Fathers lain seperti Soekarno, Hatta, atau Sjahrir, mereka semua memiliki "dosa sejarah" karena harus berkompromi dengan kotornya realitas kekuasaan.

Soekarno dan Hatta menanggung beban sejarah romusha demi taktik kooperatif dengan Jepang; Sjahrir pun mendapat banyak kritik selama menjabat Perdana Menteri.

Sebaliknya, Tan Malaka "bersih" dari cacat kekuasaan. Ia hanya mencicipi alam kemerdekaan secara bebas selama sekitar 6 bulan (Agustus 1945 hingga ia dipenjara pada Maret 1946). Ia menolak jabatan menteri dan memilih hidup berpindah-pindah.

Kesucian dari dosa kekuasaan inilah yang menjadikannya sebuah utopia, sebuah garis cakrawala yang semakin didekati akan semakin menjauh. Ketidakmungkinannya direalisasikan secara politik justru membuatnya menjadi sosok yang perfect di mata pemuda yang frustrasi dengan para penguasa hari ini.

Ironi Gen Z: Pemuja Tan Malaka yang Anti-Partai

Zen RS juga menyoroti fenomena paradoks yang menggelitik. Generasi muda saat ini sangat menggandrungi Tan Malaka karena ia direpresentasikan sebagai "pejuang bebas" yang anti-establishment dan tidak terikat pada birokrasi struktural.

Faktanya? Ini adalah sebuah salah tafsir (misreading). Tan Malaka adalah seorang Leninis tulen, penganjur vanguardism (partai pelopor), dan pendiri Partai Republik Indonesia (PARI).

Membaca Tan Malaka sebagai aktivis independen yang anti-struktur hanyalah proyeksi dari keputusasaan generasi sekarang terhadap partai politik modern yang gagal memenuhi janji-janjinya.

Akibat apatisme terhadap partai, aktivisme pemuda hari ini sering kali terjebak pada "moralisme politik" semata. Mereka lebih suka menggunakan cancel culture di media sosial untuk menghukum oknum-oknum yang melenceng secara moral, namun lupa untuk membangun infrastruktur politik dan unit ekonomi yang mandiri.

Padahal, bagi Tan Malaka, perjuangan politik harus berjalan beriringan dengan perjuangan material. Ia bahkan harus rela bekerja sebagai juru tulis demi mengumpulkan uang untuk mencetak buku Aksi Massa.

Relevansi di Tengah Frustrasi Terhadap Partai Politik

Mengapa Gen-Z dan kaum muda sangat menggandrungi Tan Malaka? Zen RS menganalisis bahwa hal ini merupakan imbas dari trauma, apatisme, dan kegagalan infrastruktur politik hari ini.

Anak muda saat ini cenderung menolak partai politik, menolak struktur, dan memilih cancel culture untuk menghukum oknum-oknum tanpa menyentuh akar sistemik. Mereka memandang Tan Malaka sebagai ikon "pemberontak independen" yang melawan tanpa terikat birokrasi.

Padahal, ironisnya, menurut Zen RS, pemikiran Tan Malaka itu sangat struktural! Tan Malaka adalah seorang Leninis, penganjur vanguardism (partai pelopor), dan bahkan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI).

Membaca Tan Malaka sebagai "aktivis anti-partai" adalah sebuah misreading (salah tafsir) fatal yang lahir dari kebingungan generasi saat ini untuk berorganisasi.

Bahkan dalam naskah "Naar de Republiek Indonesia", Tan Malaka sudah berpesan keras kepada kader revolusioner: Jangan terburu-buru memberontak jika kalian belum sungguh-sungguh mengenal rakyatmu sendiri.

Ia mengingatkan bahwa revolusi bukan sekadar modal moralitas kemarahan, tetapi butuh perhitungan material dan ekonomi politik yang matang.

Otoritarianisme Afektif yang Mengakar dan "Nada Dasar" Politik Indonesia

Selain membicarakan Tan Malaka, Zen RS juga mengungkapkan tesisnya yang sedang ia tulis dalam buku terbarunya mengenai politik Indonesia.

Ia berpendapat bahwa sejarah Indonesia pada dasarnya adalah sejarah otoritarianisme, di mana era demokratis (seperti tahun 1950-an atau awal reformasi 1998) hanyalah jeda pendek di antara spiral kontrol penguasa.

Menurut Zen RS, otoritarianisme di Indonesia tidak selalu ditandai dengan moncong senjata, melainkan lewat apa yang ia sebut "Otoritarianisme Afektif". Penguasa selalu menggunakan logika "kedaruratan" untuk menangguhkan hak-hak warga negara.

Setiap kali kekuasaan meminta pengecualian dari proses demokratis dengan alasan situasi genting, di situlah bibit otoritarianisme menormalkan dirinya di alam bawah sadar masyarakat.

Inilah yang membuat Soekarno, Soeharto, dan rezim-rezim berikutnya memiliki "nada dasar" retorika kekuasaan yang sangat mirip jika nama-nama tokohnya kita sembunyikan.

Kemunafikan Aktivisme: Kenapa Takut Bicara Uang?

Satu lagi kritik tajam dari diskusi ini diarahkan pada gerakan masyarakat sipil itu sendiri. Banyak aktivis NGO/LSM hari ini merasa "tabu" berbicara tentang uang dan kemandirian ekonomi. Jika ada gerakan yang menghasilkan revenue, itu sering dianggap sudah cacat moral atau kapitalistik.

Padahal, Tan Malaka sendiri sangat sadar akan hal ini. Di tengah pelariannya di Singapura saat hendak menerbitkan buku Aksi Massa (1926), ia harus rela menjadi juru tulis di sebuah perusahaan demi mendapat upah untuk mencetak bukunya.

Bagi Tan Malaka, "Gerilya Politik" dan "Gerilya Ekonomi" harus jalan berdampingan. Organisasi pergerakan yang tidak mampu membangun unit ekonomi mandiri hanya akan berakhir mengemis pada lembaga donor atau mati karena para pelakunya "kelaparan".

Hentikan Pengkultusan, Mulailah Bertanya ke Depan

Karya dan sosok Tan Malaka harus ditarik turun dari panggung kultus kebanggaan menuju panggung uji materi. Zen RS dan Putut EA sepakat bahwa kita tidak bisa hanya bernostalgia memuja kehebatan masa lalu.

Pertanyaan terpenting bagi mereka yang mengaku terinspirasi oleh Tan Malaka bukanlah seberapa suci sang idola, melainkan: "Jika kalian berkuasa besok, apa imajinasi kalian tentang Indonesia 10 atau 20 tahun ke depan?" Di situlah pemikiran Tan Malaka akan diuji, mana yang masih relevan menjadi jangkar perjuangan, dan mana yang harus ditinggalkan.

Biografi Singkat: Zen Rahmat Sugito (Zen RS)

Zen Rahmat Sugito atau yang lebih dikenal luas dengan nama pena Zen RS (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 1981) adalah seorang penulis, esais, jurnalis, dan pandit sepak bola terkemuka di Indonesia.

Ia dikenal memiliki gaya kepenulisan yang tajam, kritis, dan sangat analitis, dengan spektrum keilmuan yang membentang dari olahraga (khususnya sepak bola), sejarah, hingga politik materialis.

Latar belakang pendidikannya dari jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sangat mewarnai cara berpikirnya dalam membedah fenomena sosial.

Semasa kuliah, ia aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi UNY. Kiprahnya di dunia jurnalisme olahraga dan digital semakin berkibar ketika ia mendirikan Pandit Football Indonesia pada 2011, sebuah media analisis dan riset sepak bola yang sukses mendisrupsi cara pandang penikmat bola di Indonesia menjadi lebih taktis dan holistik.

Selain di Pandit Football, Zen RS juga memainkan peran krusial dalam kancah jurnalisme digital Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Editor in Chief dan memegang posisi strategis di media independen Tirto.id serta turut berkiprah di ekosistem Narasi.

Beberapa buku karyanya yang banyak dijadikan rujukan antara lain Simulakra Sepakbola, Jalan Lain ke Tulehu, dan yang terbaru, buku anotasi "Naar de Republiek Indonesia". Pemikirannya yang bernas menjadikannya salah satu rujukan utama bagi generasi muda yang ingin memahami irisan antara kultur populer, sejarah, dan dinamika kekuasaan di Indonesia. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#tan malaka #naar de republiek indonesia #otoritarianisme afektif #cancel culture #zen rs