RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena childfree atau keputusan sadar untuk tidak memiliki anak mulai ramai dibicarakan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Isu ini kerap memicu pro dan kontra, terutama di media sosial. Sebagian orang menilai keputusan tersebut bertentangan dengan norma keluarga, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk kebebasan individu.
Namun, sebelum menghakimi, penting bagi kita untuk memahami alasan di balik keputusan ini.
Tren Childfree di Indonesia
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2022 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, bahwa fenomena childfree memang nyata terjadi.
Sekitar 8 persen perempuan usia 15-49 tahun yang telah menikah tetapi belum memiliki anak, dan tidak menggunakan kontrasepsi, memilih untuk childfree.
Ada sekitar 71.000 perempuan usia subur di Indonesia yang memilih childfree. Angka ini menunjukkan, bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak bukan hanya isu media sosial, melainkan juga realitas demografis yang berkembang.
Alasan Perempuan Memutuskan Childfree
Menurut laporan Konde.co (2025), ada beberapa alasan utama yang membuat perempuan memilih jalan hidup ini:
1. Pertimbangan Karier dan Kemandirian
Banyak perempuan merasa ingin lebih fokus pada pengembangan diri dan karier. Memiliki anak kerap dianggap bisa menghambat ruang gerak dan kesempatan profesional.
2. Faktor Ekonomi
Biaya hidup yang tinggi, termasuk pendidikan dan kesehatan anak, membuat sebagian pasangan ragu. Mereka merasa lebih realistis untuk tidak menambah tanggungan.
3. Kesadaran Lingkungan dan Sosial
Sebagian perempuan childfree beralasan jumlah penduduk dunia sudah cukup tinggi, sehingga menambah populasi justru dianggap memperberat beban lingkungan.
4. Pilihan Personal
Tidak sedikit perempuan yang sejak awal memang tidak memiliki keinginan menjadi ibu. Bagi mereka, keputusan ini adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri.
Pandangan Masyarakat: Antara Stigma dan Dukungan
Meski childfree semakin sering diperbincangkan, stigma masih kuat terasa. Penelitian yang dilakukan Rismarini & Adira (2024) menemukan bahwa masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga kelompok:
• Yang menolak dengan alasan agama dan budaya.
• Yang netral dan menghormati keputusan pribadi.
• Dan, yang mendukung karena melihat childfree sebagai hak asasi individu.
Hal ini sejalan dengan temuan studi internasional yang dimuat di ScienceDirect (2024), di mana perempuan childfree sering menghadapi stereotip negatif seperti dianggap egois, tidak dewasa, atau melawan kodrat.
Padahal, di sisi lain, mereka merasa justru lebih merdeka menjalani hidup sesuai keinginan.
Perspektif Global
Fenomena childfree bukan hanya terjadi di Indonesia. Pew Research Center (2024) di Amerika Serikat melaporkan semakin banyak orang dewasa yang memilih tidak memiliki anak, baik karena alasan finansial, kesehatan, maupun gaya hidup.
Di Eropa, penelitian yang diterbitkan di European Journal of Ageing (2025) bahkan menyoroti bahwa childfree bukan sekadar pilihan masa muda, tetapi juga memengaruhi pengalaman sosial hingga usia lanjut.
Menghargai Pilihan, Menghentikan Penghakiman
Keputusan untuk memiliki atau tidak memiliki anak adalah persoalan pribadi yang sarat nilai, keyakinan, dan kondisi hidup masing-masing individu.
Alih-alih menghakimi, kita perlu membuka ruang dialog yang lebih sehat dan empatik. Seperti disampaikan dalam artikel Konde.co (2025), setiap perempuan berhak atas kendali penuh terhadap tubuh dan hidupnya, termasuk dalam urusan reproduksi.
Fenomena childfree adalah cerminan perubahan sosial dan nilai yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan memahami alasan di balik keputusan ini, kita bisa lebih menghargai perbedaan tanpa menambahkan stigma.
Pada akhirnya, apakah seseorang memilih untuk punya anak atau tidak, keduanya adalah jalan hidup yang sama-sama valid. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko