Jumlah Anak Tak Sekolah di Kabupaten Bojonegoro Capai 5.610

Dewi Safitri • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 07:10 WIB
DISKUSI : Sejumlah stakehoder Bojonegoro saat membahas ATS di ruang redaksi Radar Bojonegoro. (Dok. Radar Bojonegoro)
DISKUSI : Sejumlah stakehoder Bojonegoro saat membahas ATS di ruang redaksi Radar Bojonegoro. (Dok. Radar Bojonegoro)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Bojonegoro masih menjadi pekerjaan rumah serius. Hingga saat ini, jumlah ATS mencapai 5.610 anak. Angka tersebut justru meningkat dibandingkan data per Juli 2026 yang mencapai sekitar 4.745 anak.

Data tersebut terungkap dalam hearing DPRD Bojonegoro bersama Dewan Pendidikan dan Dinas Pendidikan, Senin (7/9). Di sisi lain, hasil kunjungan dari rumah ke rumah (door to door) yang dilakukan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Bojonegoro menemukan beragam alasan anak tidak melanjutkan sekolah.

Mulai dari tinggal bersama nenek, mengalami perundungan (bullying), mengikuti teman, hingga memilih bekerja karena sudah mampu menghasilkan uang sendiri.

Anggota Dewan Pendidikan Bojonegoro Sholikin Jamik mengatakan, berdasarkan data yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro dalam hearing bersama Komisi C, jumlah ATS saat ini mencapai 5.610 anak.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan data sebelumnya. Padahal, dalam diskusi di Radar Bojonegoro, jumlah ATS sempat disebut berada di bawah 5.000 anak.

Baca Juga: Anak Tidak Sekolah Rentan Menikah Dini, Ada 4.745 ATS di Bojonegoro

“Ternyata jumlah ATS di Bojonegoro itu justru tidak turun, tetapi malah meningkat. Ketika diskusi di Radar Bojonegoro, di bawah 5.000 ATS. Justru sekarang disampaikan jumlah ATS di Bojonegoro 5.610 orang,” bebernya.

Menurut Sholikin, tingginya angka ATS harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Terlebih, keberadaan ATS berkaitan dengan upaya meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Bojonegoro.

“Keinginan atau target Dewan Pendidikan, menaikkan IPM dan zero ATS. Ini sebagai upaya meningkatkan SDM di Bojonegoro,” terangnya.

Dia menegaskan, persoalan ATS tidak cukup diselesaikan dengan pendataan. Data yang ada harus dipastikan valid dan konsisten sehingga tidak terus berubah. Setelah data valid, pemerintah dapat melakukan pemetaan terhadap penyebab anak tidak sekolah.

Terpisah, Ketua TP PKK Bojonegoro Cantika Wahono mengatakan, tingginya angka ATS juga menjadi perhatian TP PKK. Persoalan tersebut rencananya menjadi salah satu fokus program TP PKK pada 2027.

Menurut Cantika, TP PKK Bojonegoro telah melakukan kunjungan door to door ke rumah anak-anak yang tidak sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui secara langsung persoalan yang menyebabkan mereka berhenti atau tidak melanjutkan pendidikan.

Baca Juga: Refleksi HAN 2026: 4.745 Anak Tidak Sekolah di Bojonegoro

Dari kunjungan tersebut, ditemukan sejumlah alasan yang beragam. Di antaranya anak tinggal bersama nenek, mengalami perundungan karena kondisi fisik, mengikuti teman, hingga memilih bekerja. (ewi/zim)

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
TP PKK Bojonegoro dprd bojonegoro bojonegoro anak tidak sekolah ATS