Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jangan Hanya Jadi Orang Tua Baik: Pola Asuh Ini Bisa Bikin Anak Sulit Sukses di Masa Depan

Hakam Alghivari • Kamis, 7 Agustus 2025 | 02:23 WIB

 

Ilustrasi ibu dan anak
Ilustrasi ibu dan anak

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak sedikit orang tua masa kini yang bangga menjadi sosok yang bebas aturan, merasa berhasil saat anak merasa nyaman tanpa batasan.

Namun, apakah menjadi orang tua yang terlalu lembut dan tidak menetapkan batas itu benar-benar membantu perkembangan anak? Sebuah studi menunjukkan, pola asuh permisif bisa berdampak serius terhadap kemampuan anak mengelola emosi, bersosialisasi, bahkan meraih prestasi di masa depan.

Dalam dunia parenting modern, banyak orang tua yang berusaha keras menjauh dari pola asuh otoriter masa lalu. Keinginan untuk membesarkan anak dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan tanpa tekanan memang mulia.

Sayangnya, dalam praktiknya, keinginan ini tak jarang melahirkan gaya pengasuhan yang terlalu longgar, atau kalau dalam istilah psikologi, hal itu disebut dengan permisif.

Pola asuh permisif ditandai dengan minimnya aturan, batasan, dan konsekuensi. Orang tua dengan gaya ini cenderung tidak konsisten dalam menetapkan disiplin, membiarkan anak membuat keputusan sendiri tanpa arahan, dan lebih fokus menjadi teman daripada pembimbing.

Menurut Asma Fadhilah, Siti Aisyah, dan Lilis Karyawati dalam jurnal Early Childhood (2021), pola asuh permisif berpotensi menghambat perkembangan sosial-emosional anak usia dini, terutama pada usia 3–6 tahun yang merupakan fase krusial pembentukan karakter.

Dampak Nyata Pola Asuh Permisif pada Anak

Penelitian yang dilakukan pada 40 anak usia dini di Indonesia menemukan sejumlah konsekuensi dari pola asuh permisif, antara lain:

1. Kesulitan Mengelola Emosi

Anak-anak yang dibesarkan tanpa batasan cenderung tidak terbiasa menghadapi frustrasi. Karena tidak diajarkan bagaimana mengelola rasa marah, kecewa, atau takut secara sehat.

Mereka tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang rendah. Hal ini bisa terlihat dari ledakan emosi, tantrum berlebihan, atau sikap tidak sabar ketika keinginan tidak langsung dipenuhi.

2. Keterampilan Sosial yang Lemah

Anak yang terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan di rumah, akan kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial yang menuntut kerja sama dan kompromi.

Studi tersebut menunjukkan bahwa mereka cenderung memiliki perilaku impulsif, egosentris, dan sulit berbagi dengan teman sebaya. Hal ini memperbesar risiko mereka mengalami konflik sosial di sekolah maupun lingkungan bermain.

3. Motivasi Akademik Rendah

Karena tidak terbiasa menghadapi konsekuensi atau tuntutan, anak-anak dalam pola asuh permisif memiliki dorongan yang rendah untuk menyelesaikan tugas atau tantangan.

Mereka lebih mudah menyerah, kehilangan fokus, dan tidak memiliki struktur belajar yang kuat. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada prestasi akademik yang tidak optimal, bahkan hingga remaja.

Mengapa Anak Butuh Struktur dan Batasan?

Meskipun banyak orang tua merasa bahwa aturan akan membuat anak merasa tertekan, psikologi perkembangan justru menunjukkan sebaliknya. Anak-anak butuh kejelasan struktur, batasan, dan konsekuensi untuk memahami dunia di sekitar mereka.

Dalam masa pertumbuhan, batasan bukan hanya berfungsi sebagai larangan, tetapi sebagai petunjuk moral dan sosial yang membentuk perilaku.

Dalam konteks ini, peran orang tua bukan hanya menjadi teman, tapi juga pembimbing. Anak-anak belajar melalui pengulangan, konsistensi, dan contoh nyata.

Tanpa aturan yang jelas, mereka kehilangan kompas moral yang membimbing mereka untuk memahami mana yang benar dan salah, mana yang pantas dan tidak.

Risiko Jangka Panjang yang Tidak Terlihat Langsung

Salah satu temuan menarik dari jurnal yang ditulis oleh Asma Fadhilah dkk. adalah bahwa efek pola asuh permisif tidak selalu terlihat dalam waktu dekat, tetapi berdampak signifikan dalam jangka panjang. Anak-anak yang dibesarkan tanpa struktur cenderung mengalami masalah dalam relasi interpersonal, kesulitan membuat keputusan mandiri, dan minim motivasi diri saat memasuki usia remaja atau dewasa awal.

Ini bisa menghambat kemampuan mereka bersaing di dunia pendidikan maupun dunia kerja, yang menuntut kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketahanan emosional.

Alternatif: Disiplin Positif dan Otoritatif

Menjadi orang tua yang baik tidak berarti harus menyerahkan kendali sepenuhnya pada anak. Pola asuh yang direkomendasikan oleh banyak pakar adalah otoritatif, yaitu gabungan antara kehangatan emosional dan kontrol yang sehat.

Dalam pola asuh otoritatif, orang tua tetap menegakkan aturan dan konsekuensi, tetapi dilakukan dengan komunikasi terbuka, empati, dan konsistensi. Anak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, namun tetap diarahkan pada batas-batas yang mendidik.

Disiplin dalam konteks ini bukan tentang menghukum, melainkan melatih tanggung jawab, konsistensi, dan pemahaman nilai—sebuah bekal penting untuk sukses di masa depan.

Baca Juga: Moms, Sudah Tahu Ini? 7 Tanda Anak Jenius Sejak Dini, Bukan Cuma dari Nilai Akademik

Menjadi orang tua yang permisif mungkin terasa lebih mudah dan menyenangkan dalam jangka pendek, karena minim konflik dan anak terlihat lebih senang.

Namun, temuan empiris dari jurnal Early Childhood menunjukkan bahwa pola asuh seperti ini menyimpan risiko besar bagi perkembangan sosial dan emosional anak. Mulai dari kesulitan bersosialisasi, regulasi emosi yang buruk, hingga rendahnya motivasi akademik.

Orang tua masa kini dituntut untuk tidak hanya menjadi teman, tetapi juga pendidik pertama dan utama bagi anak.

Menetapkan batasan bukan berarti tidak sayang—justru itulah bentuk cinta sejati yang membekali anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, sehat secara emosional, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#Bebas Aturan Main #permisif #masa depan #orang tua #pola asuh