RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Banyak orang tua pernah mengalaminya—anak yang tak henti-henti bertanya, dari pertanyaan sederhana seperti “Kenapa langit biru?” hingga pertanyaan eksistensial seperti “Di mana Tuhan tinggal?”.
Terkadang hal ini melelahkan, membuat orang tua kehabisan jawaban atau bahkan menyuruh anak diam.
Namun, dalam kajian psikologi perkembangan, kebiasaan bertanya adalah salah satu indikator awal dari kecerdasan tinggi.
Bukan hanya karena anak ingin tahu, tetapi karena otaknya aktif membangun hubungan antara informasi, mengeksplorasi sebab-akibat, dan menyusun makna dari dunia yang kompleks di sekitarnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Nilai Bagus, Ini 7 Tanda Anak Jenius yang Sering Diabaikan
Rasa Ingin Tahu sebagai Motor Intelektual Anak
Menurut Dr. Susan Engel, seorang profesor psikologi di Williams College dan penulis “The Hungry Mind: The Origins of Curiosity in Childhood” (2015), rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama perkembangan intelektual anak.
Dalam bukunya, Engel menyebut bahwa pertanyaan anak adalah cerminan dari keterlibatan kognitif mereka dengan dunia.
“Children’s questions are a window into the mind.” – Susan Engel (2011, Encouraging Curiosity in Children)
Penelitian Engel menunjukkan bahwa anak-anak dengan rasa ingin tahu tinggi menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dalam hal kemampuan verbal, logika, dan problem-solving dibandingkan anak yang pasif terhadap lingkungannya.
Baca Juga: Moms, Anak Sering Meniru Kata-Kata Kasar? Begini Cara Mengatasinya Secara Positif
Mengapa Anak Bertanya Terus-Menerus?
Dalam teori constructivist learning dari Jean Piaget, anak-anak belajar aktif melalui interaksi dengan lingkungan. Mereka membentuk skema—struktur pemahaman dasar—lalu memodifikasi skema itu dengan informasi baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Proses inilah yang mendorong anak terus bertanya, untuk menyelaraskan dunia luar dengan struktur kognitifnya yang terus tumbuh.
Contoh konkret:
-
Anak bertanya, “Kenapa air hujan turun dari langit?” karena ia belum bisa mengaitkan awan, uap air, dan gravitasi. Pertanyaan itu bukan sekadar keisengan, tetapi proses membangun konsep kausalitas.
Pertanyaan Sebagai Ciri Anak Gifted
Psikolog Dr. Linda Silverman, pendiri Gifted Development Center di Colorado, menyebut bahwa anak-anak gifted (berbakat luar biasa) sering kali menunjukkan “perilaku pertanyaan konstan” sejak usia 2–4 tahun.
Baca Juga: Pada Usia Berapa Anak Harus Mulai Menyikat Gigi? Simak Panduan Praktis dan Tips Lengkapnya!
Mereka bukan hanya bertanya ‘apa’, tapi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’—yang menandakan mereka sudah berpikir pada level metakognitif (memikirkan tentang pikiran mereka sendiri).
Silverman mencatat bahwa:
-
Anak gifted biasanya memiliki kosakata yang luas.
-
Pertanyaannya bersifat kompleks dan penuh nuansa.
-
Mereka bisa frustrasi jika tidak diberi jawaban memadai.
Bukti Penelitian: Rasa Ingin Tahu Berkorelasi dengan IQ dan Prestasi Akademik
Sebuah studi oleh Sophie von Stumm dan tim dari University of Edinburgh (2011) menemukan bahwa “intellectual curiosity” memiliki korelasi yang hampir setara dengan IQ dalam memprediksi kesuksesan akademik jangka panjang. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science.
Artinya, anak yang rasa ingin tahunya tinggi—walau nilainya belum selalu mencolok di sekolah—mungkin memiliki potensi besar jika difasilitasi dengan baik.
Tugas Orang Tua: Jangan Matikan Rasa Ingin Tahu
Sayangnya, kebiasaan bertanya anak justru sering diremehkan atau ditekan. Anak yang terus bertanya sering dianggap “cerewet”, “banyak akal”, atau “nggak bisa diam”.
Hal ini sangat disayangkan, karena memadamkan rasa ingin tahu bisa menghambat proses berpikir kritis dan kreativitas anak.
Beberapa tips dari psikolog perkembangan untuk menghadapi anak yang suka bertanya:
-
Tanggapi dengan sabar dan antusias, meski tidak tahu jawabannya.
-
Gunakan pertanyaan balik, seperti: “Menurut kamu, kenapa begitu?” untuk menumbuhkan rasa berpikir mandiri.
-
Arahkan pada sumber belajar, seperti buku anak, dokumenter, atau eksperimen sederhana di rumah.
-
Ciptakan ruang aman untuk bertanya, tanpa takut dimarahi atau dianggap bodoh.
Bertanya Itu Tanda Anak Sedang Bertumbuh
Anak yang sering bertanya bukan sedang mencari perhatian. Mereka sedang tumbuh—secara mental, emosional, dan spiritual. Dan ketika pertanyaan mereka dirawat, bukan dimatikan, maka rasa ingin tahu itu bisa berubah menjadi kecerdasan yang matang dan produktif.
Maka, jika anak Anda tak henti bertanya… jangan lelah menjawab. Mungkin Anda sedang bersama seorang calon ilmuwan, pemikir, atau pemimpin masa depan. (kam)