Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menarik! Inilah Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Ditiru Anak, Waspadai Dampaknya!

Hakam Alghivari • Jumat, 16 Mei 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi kebiasaan buruk orang tua kecanduan gadget, yang berdampak buruk pada anak
Ilustrasi kebiasaan buruk orang tua kecanduan gadget, yang berdampak buruk pada anak

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masa kecil adalah fase penting dalam kehidupan seseorang, di mana pengalaman dan pengamatan sehari-hari membentuk karakter dan kebiasaan jangka panjang. Dalam tahap ini, anak-anak belajar banyak hal dari lingkungan terdekat mereka, terutama dari orang tua yang menjadi figur utama dalam hidup mereka. Tak jarang, apa yang dilihat dan didengar anak setiap hari menjadi bahan pelajaran yang kemudian mereka tiru tanpa seleksi.

Perilaku orang tua, baik secara sadar maupun tidak, memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Mulai dari cara berbicara, bersikap terhadap orang lain, hingga bagaimana merespons tekanan, semua bisa menjadi "materi pelajaran" yang diserap anak secara utuh. Maka tak heran jika kebiasaan orang tua berperan penting dalam membentuk pola pikir dan kepribadian anak sejak dini.

Dikutip dari Alodokter.com, tidak hanya kebiasaan baik, ternyata perilaku kurang positif pun bisa dengan mudah diadopsi oleh anak. Mereka cenderung menganggap perilaku tersebut wajar hanya karena dilakukan oleh sosok yang mereka kagumi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengevaluasi kebiasaannya sehari-hari dan mulai mengubah perilaku yang berpotensi berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak.

Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Bisa Ditiru Anak

1. Terlalu Sering Mengeluh

Mengeluh adalah hal yang manusiawi, terutama ketika sedang merasa lelah atau menghadapi tantangan yang sulit. Namun, jika dilakukan terlalu sering di depan anak, kebiasaan ini bisa berdampak negatif. Anak bisa belajar bahwa cara menghadapi masalah adalah dengan meratapi situasi, bukan mencarinya solusi.

Secara ilmiah, studi dari UC Davis menunjukkan bahwa emosi negatif yang terus-menerus diamati oleh anak, termasuk keluhan berulang, bisa memengaruhi bagian otak yang mengatur empati dan pengendalian diri. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti ini cenderung memiliki resiliensi emosional yang rendah dan kesulitan dalam melihat sisi positif dari situasi yang menantang.

2. Mudah Marah dan Tidak Mengendalikan Emosi

Anak adalah peniru ulung. Jika mereka sering menyaksikan orang tuanya marah-marah atau bereaksi secara agresif terhadap suatu masalah, mereka pun cenderung meniru pola yang sama saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Ini bukan hanya soal meniru kata-kata kasar, tapi juga ekspresi wajah, nada suara, hingga cara menanggapi konflik.

Penelitian dari Yale Child Study Center menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh kemarahan berisiko dua kali lipat mengalami gangguan perilaku. Mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif atau menjadi anak yang tertutup karena rasa takut. Hal ini memperjelas pentingnya keteladanan dalam mengelola emosi di depan anak.

3. Pola Makan Tidak Sehat

Kebiasaan orang tua dalam memilih makanan juga diamati oleh anak. Jika orang tua lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, atau makanan instan, besar kemungkinan anak juga akan mengembangkan preferensi yang sama.

Menurut American Journal of Clinical Nutrition, anak dari orang tua dengan pola makan buruk memiliki risiko 70% lebih tinggi mengikuti pola tersebut. Selain itu, data WHO mengungkapkan bahwa pola makan tidak sehat di usia dini merupakan penyebab utama meningkatnya angka obesitas pada anak di dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu, orang tua perlu lebih sadar terhadap kebiasaan makan mereka agar tidak menciptakan siklus kesehatan yang buruk dalam keluarga.

4. Berbohong, Sekecil Apa pun

Meskipun terdengar sepele, kebiasaan berbohong, terutama yang dilakukan di depan anak, dapat memberikan dampak jangka panjang. Anak akan melihat kebohongan sebagai cara wajar untuk menghindari masalah atau mendapatkan keinginan.

Penelitian menyebutkan bahwa anak-anak bisa mulai berbohong sejak usia 3 tahun, dan akan lebih cenderung melakukannya jika melihat orang tuanya melakukan hal serupa. Sikap ini membentuk persepsi bahwa kebenaran dapat dinegosiasikan, yang membahayakan perkembangan moral anak ke depan.

5. Ketergantungan pada Gadget

Tak sedikit orang tua yang terlalu sibuk dengan gadget mereka, baik untuk urusan pekerjaan maupun hiburan. Ketika anak sering melihat orang tuanya terpaku pada layar ponsel atau tablet, ia akan merasa bahwa kebiasaan tersebut adalah hal yang normal.

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak usia dini yang terpapar layar lebih dari 2 jam per hari menunjukkan penurunan signifikan dalam kemampuan bahasa dan fungsi kognitif. Di Indonesia, riset dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) juga menunjukkan bahwa gaya pengasuhan permisif dengan akses gadget tanpa batas sangat berkorelasi dengan kecanduan digital dan kesulitan sosialisasi pada anak usia 5–10 tahun.

Hal yang Perlu Dilakukan Orang Tua

1. Menjadi Teladan yang Positif

Langkah pertama dan terpenting adalah menjadikan diri sebagai contoh yang baik. Orang tua perlu membiasakan diri menunjukkan perilaku positif seperti menyelesaikan masalah dengan tenang, berkata jujur, serta menjaga gaya hidup sehat. Sikap ini akan membentuk pondasi moral dan perilaku anak dalam jangka panjang.

2. Menjaga Keamanan Anak

Karena anak meniru hampir semua hal yang dilakukan orang tuanya, orang tua juga harus memperhatikan lingkungan rumah agar aman. Misalnya, tidak meninggalkan obat-obatan atau alat dapur berbahaya di tempat yang mudah dijangkau. Anak mungkin mencoba hal-hal tersebut karena mengira boleh dilakukan.

3. Memberikan Penjelasan yang Edukatif

Jika orang tua harus melakukan tindakan tertentu yang tidak patut ditiru anak, penting untuk memberikan penjelasan yang logis dan sesuai usia anak. Misalnya, saat memuji makanan yang sebenarnya kurang enak untuk menjaga perasaan orang lain, beri tahu anak bahwa kebaikan hati kadang dilakukan dengan pendekatan yang bijak, namun tetap tekankan bahwa kejujuran tetap penting.

Kebiasaan kecil yang dilakukan orang tua sehari-hari ternyata bisa menjadi acuan besar dalam proses tumbuh kembang anak. Maka dari itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengevaluasi dirinya secara berkala, menyadari pengaruhnya, dan mulai membentuk lingkungan yang sehat serta mendidik. Dengan menjadi teladan yang baik, kita tidak hanya membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang positif, tapi juga memperkuat hubungan emosional keluarga secara keseluruhan. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#perilaku #kebiasaan #anak #orang tua #parenting #Meniru