Oleh: Nove Zain Wisuda*
LINI masa media sosial belakangan ini ramai karena unggahan video kawasan Gunung / Bukit yang tampak gundul dan coklat seperti gurun. Ini adalah gambaran nyata tantangan ekologi di halaman rumah kita sendiri.
Menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober, yang beriringan dengan perayaan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349, kita sebagai masyarakat dapat mengambil peran untuk mengerem kondisi ini.
Mungkin belum banyak disadari bahwa lereng-lereng yang gundul dan krisis air tanah yang mengikutinya memiliki kaitan yang sangat erat dengan apa yang tersaji di atas piring makan kita. Beban ekologis yang kita hadapi sering kali bermula dari cara kita memproduksi dan memilih makanan.
Merujuk data dari Our World in Data, sistem pangan menyumbang 26 persen dari total emisi gas rumah kaca (karbon dioksida), dan 50 persen lahan layak huni di bumi telah digunakan untuk pertanian. Perubahan bentang alam hutan menjadi ladang monokultur adalah contoh nyata dari pergeseran tata guna lahan (land use) akibat tekanan permintaan pasar. Dampaknya langsung terasa pada ketersediaan air. Secara global, 70 persen air tawar (water use) diambil untuk sektor pertanian massal.
Baca Juga: OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar
Merespons kondisi ini, instruksi Bupati Bojonegoro baru-baru ini untuk menanam pohon dan membuat biopori adalah langkah yang sangat tepat. Jika ini dilakukan secara masif oleh masyarakat di seluruh wilayah Bojonegoro, ini akan sangat berdampak pada perbaikan lingkungan di Bojonegoro. Lebih dari itu, upaya ini akan berlipat dampaknya jika didukung oleh aksi kultural dari 1,4 juta masyarakat Bojonegoro dengan memulai dari langkah harian yaitu mengubah pola konsumsi menuju sistem pangan lokal yang hijau dan berkelanjutan (green and sustainable food).
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mendefinisikan diet berkelanjutan (sustainable diet) sebagai pola makan yang melindungi keanekaragaman hayati, ramah lingkungan, bergizi, terjangkau secara ekonomi, dan dapat diterima secara budaya lokal (culturally acceptable).
Bojonegoro sejatinya dianugerahi harta karun "sustainable diet" yang luar biasa. Contoh nyata yang paling dekat misalnya sego pecel, sayur bening daun kelor, tumis jantung pisang, sayur asem krai, sayur waloh (labu kuning), hingga bothok mlandingan (lamtoro) dan masih banyak lainnya. Komoditas lokal ini ditanam dengan tanpa memberikan tekanan besar pada lingkungan dalam hal penggunaan lahan, penggunaan air dan emisi karbon, bahkan sebagian besar bahan makanan lokal tersebut dapat ditanam di pekarangan atau di belakang rumah (trtis).
Jalan Menuju Green and Sustainable Food
Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah menghidupkan tradisi berbelanja bahan pangan, sayur dan buah musiman di pasar lokal. Membeli bahan dari petani dan pedagang di pasar lokal akan memangkas jarak distribusi pangan (food miles), yang artinya kita ikut memotong jejak emisi karbon yang digunakan untuk mengangkut bahan pangan dari luar daerah, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.
Sebagai perbandingan, misalnya kita mengonsumsi sayuran / bahan pangan yang didatangkan dari daerah yang berjarak 100 km, tentu transportasi untuk mendatangkan sayuran tersebut akan berkontribusi terhadap emisi karbon karena penggunaan bensin atau solar. Sebaliknya, jika kita memilih sayuran atau pangan lokal dari pasar dekat rumah maka bisa jadi penjual yang membawa sayuran / bahan pangan tersebut ke pasar hanya naik sepeda atau berjalan kaki yang emisi karbonnya hampir nol.
Lebih jauh, memilih pangan lokal yang beranekaragam berperan besar untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Saat ini dunia menghadapi ancaman Triple Burden of Malnutrition (Trias Masalah Gizi), yakni: kurang gizi, kegemukan dan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Pemilihan pangan lokal untuk konsumsi sehari-hari adalah jawaban yang tepat untuk masalah ini, karena pangan lokal yang dimasak dengan cara tradisional memiliki karakter untuk tetap mempertahankan nilai gizi dari makanan dan juga tidak mengandung kalori, lemak dan garam yang berlebihan.
Baca Juga: OPINI: Literasi Kesehatan Harus Ikut Berkembang
Selain sayuran, kita juga perlu mendiversifikasi (memilih beranekaragam) sumber karbohidrat dengan kembali membiasakan keluarga menyantap singkong, gembili, uwi, talas, atau sukun. Gembili dan uwi adalah jenis umbi merambat yang membutuhkan pohon tegakan untuk tumbuh. Jika konsumsi umbi-umbian ini meningkat, akan mendorong petani menjaga pepohonan tetap berdiri sebagai rambatan.
Sementara itu, jika sukun mulai dikonsumsi massal untuk pangan pokok, maka penanaman pohon sukun akan meningkat. Dampaknya terhadap lingkungan akan terasa antara lain menjadi tanaman peneduh, akarnya mengikat tanah, menahan air juga mengikat karbon dioksida dan memproduksi oksigen.
Pada akhirnya, apa yang menyelamatkan lingkungan juga akan menyelamatkan kesehatan kita. Penelitian dari the American Gut Project menemukan bahwa mengonsumsi minimal 30 jenis pangan nabati berbeda per minggu akan meningkatkan keanekaragaman bakteri baik di dalam usus. Serat kompleks dari aneka pangan lokal Bojonegoro adalah sumber makanan utama bagi bakteri baik di dalam usus kita yang akan menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti darah tinggi, jantung, stroke, diabetes mellitus atau kanker.
Momentum Hari Pangan Sedunia dan Hari Jadi Bojonegoro tahun ini adalah saat yang tepat untuk kita berkontribusi dalam pelestarian lingkungan melalui aksi yang kita lakukan dari dapur kita. Dengan memilih pangan lokal yang beragam kita bisa selamatkan lingkungan juga kalahkan kutukan “nek tigo raiso cewok, nek udan raiso ndodok” (kalau kemarau tidak bisa cebok, kalau hujan tidak bisa jongkok). Mari selamatkan bumi dan diri kita sendiri, mulai dari isi piring kita.
*Sekretaris LKNU Bojonegoro, Alumni Master Nutrition and Health dari Wageningen University and Research Belanda.
Editor : Farhan Reza Ardiansyah