
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ribuan warga memadati stan kuliner dalam Festival Sandur dan Pesta Rakyat yang menjadi bagian dari Bojonegoro Bahagia Car Free Night di Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (24/10) malam. Sebanyak 10 ribu porsi makanan gratis disiapkan untuk masyarakat dalam rangka memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349.
Antusiasme warga terlihat sejak sore. Begitu pembagian makanan dimulai pukul 18.00, pengunjung langsung berbondong-bondong mendatangi stan kuliner. Sebagian bahkan rela berdesakan demi mendapatkan makanan gratis yang disediakan dalam kegiatan tersebut.
Bojonegoro Bahagia Car Free Night melibatkan sekitar 202 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk kuliner mereka kepada pengunjung.
Sundari, warga Kecamatan Balen, mengaku senang bisa mengajak cucunya menikmati suasana perayaan di pusat kota. Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk berjalan-jalan sekaligus menikmati hiburan bersama keluarga.
Baca Juga: Senang Bisa Kulineran Gratis, Warga Bojonegoro Berharap Festival Sandur Jadi Agenda Tahunan
“Apalagi ada makanan gratis yang dibagikan kepada masyarakat, jadi tambah senang,” tuturnya.
Di tengah kemeriahan pesta rakyat, Festival Sandur turut menjadi daya tarik dalam rangkaian perayaan HJB ke-349. Tiga kelompok seni tampil membawakan lakon berbeda untuk mengenalkan sekaligus melestarikan kesenian tradisional khas Bojonegoro.
Teater Awu Art Laboratory mementaskan Ngunduh Wohing Pakarti pada pagi hari. Sementara itu, Sandur Kembang Desa Bojonegoro tampil dengan lakon Suluh Kaweruh pada sore hari, disusul Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro yang membawakan Lemah Ninggal Warah pukul 19.00.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, Festival Sandur menjadi salah satu upaya merawat tradisi dan menjaga warisan para pendahulu yang merepresentasikan identitas daerah. Menurut dia, pelestarian kesenian tradisional perlu terus dilakukan agar warisan budaya Bojonegoro tetap dikenal dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
“Sandur merupakan salah satu tradisi kesenian yang menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat tradisi, khususnya peninggalan para pendahulu yang menggambarkan identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.
Dia berharap masyarakat terus menjaga persatuan dan memperkuat sinergi untuk membangun Bojonegoro agar semakin baik dan membanggakan. (ewi/zim)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




