Opini: Saatnya Aspertib Bangkit Menjadi Gerakan

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Oleh: Suprapto Estede *)


           Ada satu hal yang sering terlupakan dalam kehidupan organisasi, yaitu bahwa yang membuat sebuah organisasi hidup bukanlah papan nama, akta pendirian, atau susunan pengurusnya. Yang membuatnya hidup adalah perjumpaan, percakapan, dan kerja sama yang terus bergerak.

Barangkali itulah yang patut kita renungkan bersama ketika menyebut Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (ASPERTIB). Organisasi ini pernah menjadi ruang komunikasi antarkampus di Bojonegoro dan sempat hadir dalam berbagai kegiatan publik sebagai wadah bersama pimpinan perguruan tinggi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, gaungnya nyaris tidak lagi terdengar.

Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang salah. Organisasi bisa saja mengalami masa jeda. Kesibukan masing-masing kampus, pergantian kepemimpinan, maupun perubahan prioritas sering membuat sebuah forum perlahan kehilangan denyutnya. Yang lebih penting bukanlah mengingat mengapa ia tertidur, melainkan bertanya apakah sekarang sudah saatnya ia dibangunkan kembali.

Zaman telah berubah jauh lebih cepat daripada beberapa tahun yang lalu. Perguruan tinggi kini tidak lagi dinilai hanya dari banyaknya mahasiswa atau kegiatan akademik di dalam kelas. Kampus dituntut hadir sebagai pusat inovasi, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, riset yang berdampak, serta mitra strategis pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan nyata.

Baca Juga: Opini: Menyelamatkan Regenerasi Petani

Tantangan Bojonegoro sendiri semakin kompleks. Regenerasi petani, peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan UMKM, transformasi digital, penguatan ekonomi lokal, hingga pembangunan karakter generasi muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak ada satu kampus pun yang mampu mengerjakan semuanya sendirian. Maka, di sinilah pentingnya sebuah forum bersama.

ASPERTIB semestinya bukan sekadar organisasi formal. Ia seharusnya menjadi rumah besar bagi seluruh perguruan tinggi di Bojonegoro. Rumah tempat para pimpinan kampus bertemu sebagai sesama pembelajar, bukan sebagai pesaing. Sebab sesungguhnya yang dipertaruhkan bukanlah siapa yang paling besar, melainkan sejauh mana perguruan tinggi dapat memberi manfaat bagi masyarakat Bojonegoro.

Kolaborasi memiliki kekuatan yang kerap kali justru melampaui kemampuan individual. Bayangkan apabila dosen dari berbagai kampus bergabung dalam penelitian bersama mengenai potensi daerah. Mahasiswa lintas perguruan tinggi mengadakan pengabdian masyarakat secara terpadu. Seminar nasional diselenggarakan secara kolektif sehingga menghadirkan narasumber yang lebih kuat. Pemerintah daerah memiliki satu pintu komunikasi ketika membutuhkan dukungan akademik untuk penyusunan kebijakan berbasis data.

Semua itu sebenarnya bukan sesuatu yang muluk. Banyak daerah lain telah menunjukkan bahwa sinergi antarkampus mampu menghasilkan dampak yang lebih luas daripada berjalan sendiri-sendiri.

Yang dibutuhkan bukan organisasi yang sibuk dengan rapat demi rapat. Yang dibutuhkan adalah organisasi yang menjadi penghubung ide, mempertemukan potensi, dan memudahkan kerja sama.

Mungkin langkah awalnya justru sederhana. Mengadakan silaturahmi para pimpinan kampus. Menyusun kembali kepengurusan yang aktif. Menentukan beberapa program bersama yang realistis dalam satu tahun. Membuka ruang komunikasi yang rutin. Dari langkah kecil itulah kepercayaan dapat tumbuh kembali.

Dalam tradisi kita, ada ungkapan bahwa api yang hampir padam tidak selalu membutuhkan kayu yang besar. Kadang cukup dengan meniup bara yang masih tersisa agar kembali menyala. Dan saya percaya bara itu masih ada di ASPERTIB.

Baca Juga: Opini: Dejavu Karhutla

Bojonegoro memiliki modal yang sangat berharga, yaitu perguruan tinggi dengan beragam kekuatan, dosen yang kaya pengalaman, mahasiswa yang penuh energi, dan jejaring yang dapat dikembangkan lebih luas. Potensi sebesar itu tentu sayang apabila bergerak sendiri-sendiri.

Sudah waktunya nama besar ASPERTIB kembali menemukan maknanya. Bukan sekadar tercatat sebagai organisasi yang pernah ada, tetapi menjadi gerakan bersama yang menghadirkan gagasan, membangun kolaborasi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Kampus yang baik tentu bukan hanya yang berhasil mendidik mahasiswanya, melainkan juga kampus yang mampu bergandengan tangan untuk ikut membesarkan daerah yang menjadi rumah bersamanya.

*) Dosen STIEKIA

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
aspertib mahasiswa bojonegoro Perguruan Tinggi Kampus