
Oleh: Nono Warnono
"Ayah, kapan asap ini pergi?” tanya Mila, napasnya patah-patah menjadi burung kecil yang kehilangan langit. Ayahnya tak menjawab. Bagaimana menjelaskan kepada anak dua belas tahun bahwa langit sedang sakit, dan bumi kesulitan bernapas? Di luar, matahari menjadi koin merah yang perlahan tenggelam dalam lautan kelabu. Hutan terbakar jauh di sana"
Sebait puisi karya Deny JA tersebut menggambarkan betapa bocah yang tak berdosa tiba-tiba merasakan gelapnya dunia karena keserakahan manusia. Ketika seorang bocah bertanya, sulit menjelaskan bagaimana langit yang sakit, bumi kesulitan bernapas. Matahari tenggelam dalam lautan kelabu.
Hari-hari ini masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda di sebagian besar wilayah Nusantara. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan sampai dengan 22 Agustus 2026: di Kalimantan Barat ada 2.849 titik, di Riau ada 1.201 titik, Sumatera Selatan 1.105 titik, Kalimantan tengah 674 titik. Belum lagi bebera karhutla di Jawa seperti lahan di Lereng Semeru yang terbakar hingga 600 hektar. Demikian juga Gunung Wilis, Gunung Arjuna, hingga Gunung Bromo. Hot spot terus meluas dan masih sulit dipadamkan dengan berbagai cara. (Jawa Pos, 3 September 2026).
Ada sesuatu yang keliru, ketika suatu bencana kadang-kadang dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Ketika menganggap asap sebagai sesuatu yang biasa. Rasa mendesak untuk mencegahnya akhirnya menghilang begitu saja. Padahal udara bersih bukanlah suatu kemewahan. Udara bersih adalah kebutuhan dasar seluruh umat manusia.
Pembakaran hutan dan lahan tidak hanya cukup terselesaikan hanya melalui emisi api. Kita juga harus berani mencari akar permasalahannya. Bagaimana cara pengelolaan lahan. Bagaimana kondisi kawasan gambut. Apakah masyarakat memiliki pilihan yang aman dan terjangkau dalam mengelola lahan? Bagaimana penegakan hukum terhadap pembakaran yang disengaja? Pertanyaan pertanyaan tersebut harus dijawab dengan serius.
Karena saban tahun karhutla terus berulang, dan ketika ramai dalam pemberitaan pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholder) baru ramai-ramai membincangkan dengan berbagai alasan.
Fenomena El-Nino dan Kemarau Menjadi Kambing Hitam
Pemerintah berargumentasi bahwa masifnya kebakaran hutan dan lahan itu disebabkan oleh kemarau panjang dan fenomena El-Nino. Padahal ketika tidak ada El-Nino pun di tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan sudah sering terjadi. Karhutla yang terus berulang, dan berulang lagi. Masif dibincang namun tidak ada tindak lanjut yang signifikan.
Memang setiap musim kemarau datang, kawasan hijau hangus asap menyebar dan masyarakat harus menangung akibatnya. Kemarau memang membuat lahan lebih mudah terbakar. Tetapi menjadikan cuaca sebagai penyebab utama terlalu menyerdehanakan persoalan. Ada campur tangan manusia dalam pembukaan kawasan, pemanfaatan tanah hingga cara pengelolaan lingkungan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




