Opini: Dejavu Karhutla

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 07:40 WIB
KARHUTLA: Kebakaran hutan di kawaaan Khayangan Api terjadi pada Selasa (21/8). (IST/RDR.BJN)
KARHUTLA: Kebakaran hutan di kawaaan Khayangan Api terjadi pada Selasa (21/8). (IST/RDR.BJN)

Oleh: Nono Warnono


"Ayah, kapan asap ini pergi?” tanya Mila, napasnya patah-patah menjadi burung kecil yang kehilangan langit. Ayahnya tak menjawab. Bagaimana menjelaskan kepada anak dua belas tahun bahwa langit sedang sakit, dan bumi kesulitan bernapas? Di luar, matahari menjadi koin merah yang perlahan tenggelam dalam lautan kelabu. Hutan terbakar jauh di sana"

Sebait puisi karya Deny JA tersebut menggambarkan betapa bocah yang tak berdosa tiba-tiba merasakan gelapnya dunia karena keserakahan manusia. Ketika seorang bocah bertanya, sulit menjelaskan bagaimana langit yang sakit, bumi kesulitan bernapas. Matahari tenggelam dalam lautan kelabu.

Hari-hari ini masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda di sebagian besar wilayah Nusantara. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan sampai dengan 22 Agustus 2026: di Kalimantan Barat ada 2.849 titik, di Riau ada 1.201 titik, Sumatera Selatan 1.105 titik, Kalimantan tengah 674 titik. Belum lagi bebera karhutla di Jawa seperti lahan di Lereng Semeru yang terbakar hingga 600 hektar. Demikian juga Gunung Wilis, Gunung Arjuna, hingga Gunung Bromo. Hot spot terus meluas dan masih sulit dipadamkan dengan berbagai cara. (Jawa Pos, 3 September 2026).

Baca Juga: Opini: El-Nino dan Mitigasi Potensi Gangguan Kesehatan

Ada sesuatu yang keliru, ketika suatu bencana kadang-kadang dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Ketika menganggap asap sebagai sesuatu yang biasa. Rasa mendesak untuk mencegahnya akhirnya menghilang begitu saja. Padahal udara bersih bukanlah suatu kemewahan. Udara bersih adalah kebutuhan dasar seluruh umat manusia.

Pembakaran hutan dan lahan tidak hanya cukup terselesaikan hanya melalui emisi api. Kita juga harus berani mencari akar permasalahannya. Bagaimana cara pengelolaan lahan. Bagaimana kondisi kawasan gambut. Apakah masyarakat memiliki pilihan yang aman dan terjangkau dalam mengelola lahan? Bagaimana penegakan hukum terhadap pembakaran yang disengaja? Pertanyaan pertanyaan tersebut harus dijawab dengan serius.

Karena saban tahun karhutla terus berulang, dan ketika ramai dalam pemberitaan pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholder) baru ramai-ramai membincangkan dengan berbagai alasan.

Fenomena El-Nino dan Kemarau Menjadi Kambing Hitam

Pemerintah berargumentasi bahwa masifnya kebakaran hutan dan lahan itu disebabkan oleh kemarau panjang dan fenomena El-Nino. Padahal ketika tidak ada El-Nino pun di tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan sudah sering terjadi. Karhutla yang terus berulang, dan berulang lagi. Masif dibincang namun tidak ada tindak lanjut yang signifikan.

Memang setiap musim kemarau datang, kawasan hijau hangus asap menyebar dan masyarakat harus menangung akibatnya. Kemarau memang membuat lahan lebih mudah terbakar. Tetapi menjadikan cuaca  sebagai penyebab utama terlalu menyerdehanakan persoalan. Ada campur tangan manusia dalam pembukaan kawasan, pemanfaatan tanah hingga cara pengelolaan lingkungan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El-Nino berintensitas kuat memicu penghangatan di Samudra Pasifik. Mengurangi hujan di wilayah kita dengan 76,5 persen wilayah sudah masuk musim kemarau.

Mayoritas masalahnya bukan nyala api, namun asap. Karena kebakaran banyak terjadi di lahan gambut yang didoninasi pembakaran membara tanpa nyala. Bahkan tetap bertahan meski di lahan basah dan sulit dipadamkan.

Yang terpapar asap tidak hanya warga Indinesia, karena asap tersebut menjadikan negara tetangga terdampak bencana. Kabut asap merembet sampai ke Semenanjung Malaysia, Pilipina, Brunei hingga Singapura. Dampak kesehatan mulai tersa, lonjakan kasus asma dan kasus petadangan mata meningkat tajam. Mengurangi aktivitas di luar, dan tetap didalam rumah menjadi anjuran standar. Selama asap masih datang rumah dan ruwang publik adalah garis pertahanan terakhir bagi jutaan orang.

Musim kemarau panjang dan fenomena El-Nino memang berpengaruh terhadap karhutla. Namun menjadikannya sebagai kambing hitam masifnya karhutla rasanya kurang bijaksana. Justru kepentingan manusia yang kerap ditempatkan di atas segala hal menjadikan batas kebutuhan dan keserakahan semakin kabur. Kawasan dibuka, tanah dialihfungsikan, kekayaan alam dieksploitasi demi keuntungan. Kerusakan lingkungan dianggap sebagai harga yang harus dibayar. Di situlah karhutla menjadi salah satu akibatnya. Api membakar pepohonan, mengancam habitat satwa, mengganggu ekosistem, memperburuk kualitas udara, sekaligus mengusik kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Opini: Baru Ingat Air ketika Sumur Mengering

Dejavu Karhutla dan Terus Terulang Lagi Tanpa Solusi?

Hari ini api padam, besuk atau tahun depan masalah yang sama kembali lagi (Dejavu). Jangan biarkan masyarakat yang menjadi korban hanya diminta bersabar. Pemerintah hanya menghimbau dan berharap, karena upaya antisipasi yang justru penting masih jarang dilakukan. Perhatian baru muncul setelah dampaknya terasa.

Dalam menghadapi karhutla masyarakat memiliki peran penting. Edukasi, kesadaran, partisipasi warga masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Namun jangan sampai seluruh beban pencegahan justru diletakkan di pundak masyarakat. Masyarakat perlu diberi edukasi dan alternatif pengelolaan lahan tanpa pembakaran. Tidak hanya diberi larangan, namun juga pengetahuan, teknologi, pendampingan, serta solusi. Pencegahan lebih efektif manakala masyarakat tidak sekedar obyek kebijakan, namun dilibatkan sebagai bagian solusi.

Pemerintah perlu  memperkuat pemantauan titik api dan sistem peringatan dini. Penegakan hukum harus tegas dan transparan. Jika terbukti ada pihak yang sengaja membakar lahan dan menimbulkan kerugian luas, proses hukum harus tetap berjalan meski sepi dari pemberitaan. Kita harus bekerja sebelum api muncul, bukan baru bergerak ketika asap sudah menjadi berita utama.

Persoalan karhutla tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan musim kemarau dan fenomena El-Nino. Betapa ini adalah persoalan tata kelola lingkungan, tanggungjawab sosial, penegakan hukum, dan masa depan generasi berikutnya. Jangan lagi hanya mencari kambing hitam, ketika bencana kabut asap datang. Jangan memaknai puisi karya Deny JA diatas untuk diapresiai nilai sastranya, mamun harus dijadikan suport untuk menjaga lingkungan. Sarana untuk memberikan generasi muda kita ke depan sebuah lingkungan yang sehat sebagai warisan (legacy). Menyalahkan musim kemarsu dan fenomena El-Nino sebagai biang kerok karhutla, adalah cara pandang yang kontra produktif.

*Pemerhati pendidikan, sastra dan sosial budaya di PSJB.

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
kebakatan karhutla asap el nino Kemarau