Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: El-Nino dan Mitigasi Potensi Gangguan Kesehatan

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Ilustrasi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh El Nino. (AI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh El Nino. (AI/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

Oleh: Oryz Setiawan


Sesuai prediksi dan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 terjadi pada Bulan Agustus dan September. Bahkan di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino. El Nino merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berada di atas rata-rata normal sehingga memicu cuaca kering, mengurangi curah hujan, serta memperpanjang musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. Harus diakui bahwa fenomena El Nino menimbulkan dampak dan pengaruh terhadap kondisi lingkungan lokal diantaranya menurunkan curah hujan secara drastis dan memperluas dominasi musim kemarau di berbagai wilayah, meningkatkan potensi kekeringan serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah, memicu potensi kenaikan suhu udara harian yang lebih panas dari biasanya serta berpotensi meningkatkan risiko permasalahan kesehatan publik.

Advertisement

Beberapa sektor yang paling terdampak adalah sektor ketahanan pangan dan pertanian sehingga diharapkan petani diimbau untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air. Potensi dan risiko kebakaran, dimana dibutuhkan kewaspadaan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk pemukiman dan lingkungan lain yang rentan terjadi kebakaran. Risiko sangat tinggi bila di area industri dan kawasan pemukiman seperti risiko ledakan dari tekanan gas atau uap, efek kehancuran struktur bangunan, pelepasan gas beracun serta kerugian dan kehilangan harta benda, termasuk ancaman korban jiwa. Kewaspadaan kolektif masyarakat dan semua pihak merupakan salah satu kunci untuk mencegah dan meminimalisasi risiko terjadi kebakaran sekecil apapun dan dimanapun.

Risiko Penyakit Mengintai

Advertisement

Musim kemarau mengakibatkan kondisi lingkungan lebih kering dan panjang serta meningkatkan suhu ekstrim, termasuk menurunkan kualitas udara. Kondisi ini memperbesar risiko berbagai masalah kesehatan seperti dehidrasi, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serangan asma, hingga penyakit kardiovaskular akibat peningkatan polutan. Dalam konteks epidemiologi kesehatan bahwa terdapat kelompok risiko penyakit yang memicu terjadinya peningkatan prevalensi angka kesakitan (mordibity rate) bahwa memperbesar risiko prevalensi angka kematian (mortality rate).

Penyakit ISPA tidak dapat diremehkan. Penyakit infeksi ini acapkali dan mendominasi peringkat pertama atau masuk dalam daftar 10 besar penyakit terbanyak di hampir semua puskesmas dan fasilitas kesehatan di Indonesia. ISPA tidak mengenal kasta karena berhubungan erat dengan kondisi lingkungan sekitar (kelembaban udara, kepadatan pemukiman, kontak erat) termasuk faktor higiene dan sanitasi menjadi kunci serta kondisi daya tahan (imunitas) tubuh seseorang.

Penyakit ISPA memiliki karakteristik antara lain pertama, varian dan jenis ISPA sangat beragam bahkan ISPA bukan hanya satu jenis penyakit, melainkan gabungan dari beberapa infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, antara lain : batuk pilek biasa (common cold), radang tenggorokan (faringitis), infeksi sinus (sinusitis), radang amandel (tonsilitis), radang pita suara (laringitis), flu atau influenza dan pneumonia (paru-paru basah). Kedua, ISPA seringkali menyerang kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan lanjut usia, bahkan tak jarang kelompok produktif juga terserang ISPA apalagi jika kondisi tubuh dan stamina tidak fit. Meskipun secara kasus sebagian besar kasus ringan dapat sembuh sendiri, namun infeksi ini juga memiliki berisiko memicu komplikasi berat seperti pneumonia, gagal napas, hingga kematian jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat.

Ketiga, ISPA dapat memicu kekambuhan penyakit kronis bawaan seseorang terutama bagi pasien atau seseorang yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) dimana terdapat kondisi peradangan pada paru-paru yang terjadi dalam jangka waktu atau durasi lama serta menyebabkan peradangan berulang dan penurunan daya tahan tubuh dan membuat saluran napas sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan sebagai pemicu.

 

*Koordinator Bidang Advokasi Persakmi Cabang Bojonegoro

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Karhutla Papua Selatan Ancam Habitat Satwa Endemik, Kasuari hingga Kanguru Pohon Terancam

Karhutla Papua Selatan Ancam Habitat Satwa Endemik, Kasuari hingga Kanguru Pohon Terancam

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Papua Selatan tidak hanya menghanguskan ratusan hektare lahan, tetapi juga mengancam habitat berbagai satwa endemik Papua.

Karhutla Papua Selatan Bakar 695 Hektare, Ratusan Titik Api Masih Terdeteksi

Karhutla Papua Selatan Bakar 695 Hektare, Ratusan Titik Api Masih Terdeteksi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan masih menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data per 1 November 2026, luas area yang terbakar mencapai 695 hektare.

Geguritan Radar Bojonegoro: Karya Nono Warnono

Geguritan Radar Bojonegoro: Karya Nono Warnono

Geguritan Radar Bojonegoro: Karya NONO WARNONO

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer