Opini: Baru Ingat Air ketika Sumur Mengering

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 08:10 WIB
Ilustrasi air sumur mengering. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi air sumur mengering. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: Hanif Ikhsani


KEMARAU biasanya tidak datang dengan suara. Ia tidak mengetuk pintu rumah dan mengatakan bahwa beberapa minggu lagi air akan menjadi barang yang sulit dicari. Ia datang perlahan. Tanah mulai keras. Rumput menguning. Sungai menyusut. Sumur yang biasanya mudah ditimba mulai lebih dalam. Sampai suatu pagi, orang baru sadar bahwa air tidak lagi semudah biasanya.

Barangkali di situlah masalah kita. Kita sering baru benar-benar memikirkan air ketika air mulai sulit didapat.

Awal September tahun ini seharusnya membuat kita lebih waspada. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika masih memperingatkan kondisi kering yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia. Di Jawa Tengah, pembaruan per 30 Agustus menempatkan 25 kabupaten dan kota dalam status awas kekeringan untuk periode 1-10 September. Di Jawa Timur, pemerintah juga menyebut Agustus hingga September sebagai periode puncak kemarau tahun ini.

Dampaknya sudah terasa di banyak tempat.

Di wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, misalnya, pemerintah telah mendistribusikan 918.000 liter air selama 17 Juli sampai 29 Agustus. Air itu dikirim ke 108 desa yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota, termasuk Blora, Grobogan, Kudus, Boyolali, Demak, Kabupaten Semarang, dan Tegal. Distribusi masih terus dilakukan karena kekeringan belum selesai.

Baca Juga: Opini: Potensi Wisata Desa Klino Terbengkalai

Di Demak, puluhan ribu warga bahkan bergantung pada kiriman air tangki. Di tempat lain, seperti Jember, bantuan air bersih juga mulai diperluas ketika kekeringan semakin terasa. Sementara di Nusa Tenggara Barat, sembilan dari sepuluh kabupaten dan kota berada dalam status awas kekeringan menurut BMKG. Di Kupang, keterbatasan air membuat sebagian petani bahkan harus meninggalkan lahan mereka.

Semua itu memperlihatkan satu kenyataan yang kadang kita lupakan. Menghadapi kekeringan tidak semudah mengirim beberapa truk tangki air.

Tangki memang penting. Ketika seseorang tidak memiliki air untuk minum dan memasak, bantuan air bersih adalah pertolongan yang tidak boleh ditunda. Pemerintah daerah harus hadir. Masyarakat harus dibantu. Tidak ada gunanya berbicara terlalu jauh tentang konservasi jika hari ini ada keluarga yang kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan paling dasar.

Tetapi tangki air hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini. Besok, lusa, dan musim kemarau berikutnya kita bisa menghadapi persoalan yang sama jika sumber masalahnya tidak pernah disentuh.

Karena itu, menarik melihat bagaimana sejumlah daerah mulai menyiapkan langkah yang lebih panjang. Pemerintah tidak hanya melakukan distribusi air, tetapi juga mendorong modifikasi cuaca, memperkuat pemantauan, menyiapkan tandon, serta memikirkan embung dan infrastruktur penyimpanan air. Di beberapa tempat, masyarakat didorong menjaga mata air dan saluran air agar tetap berfungsi ketika musim hujan datang.

Pertanyaannya, apakah kita sebagai masyarakat juga melakukan hal yang sama?

Sering kali tidak.

Ketika hujan turun, kita merasa persoalan air selesai. Air mengalir di selokan, halaman tergenang, sungai kembali penuh. Kita lalu kembali menjalani kebiasaan lama. Air hujan dibiarkan pergi. Halaman ditutup semen. Pohon ditebang. Sampah memenuhi saluran. Mata air kurang dirawat. Air tanah terus diambil tanpa banyak berpikir dari mana ia akan kembali.

Beberapa bulan kemudian kemarau datang dan kita kembali bertanya, mengapa air semakin sulit?

Mungkin persoalannya bukan semata-mata karena kemarau semakin panjang. Bisa jadi karena kita belum cukup serius mempersiapkan diri ketika hujan masih datang.

Di sinilah budaya menghadapi kekeringan perlu diubah. Kita jangan hanya memiliki budaya tanggap ketika bencana sudah terjadi. Kita perlu membangun budaya bersiap sebelum bencana datang.

Menjelang musim kemarau, pemerintah desa dan pemerintah daerah bisa memetakan sumber air yang masih tersedia, memeriksa kondisi sumur, embung dan jaringan distribusi, serta menentukan wilayah yang paling rawan. Sekolah bisa mengajarkan penghematan air bukan hanya sebagai materi pelajaran, tetapi sebagai kebiasaan. Masyarakat dapat mulai memperhatikan kembali mata air dan saluran yang selama ini dianggap sebagai urusan pemerintah.

Ketika hujan datang, pekerjaan itu belum selesai. Justru saat itulah kita harus menyimpan sebanyak mungkin air yang bisa disimpan.

Dan setelah kemarau lewat, kita juga jangan buru-buru melupakan semuanya.

Barangkali ini bagian yang paling sering kita lewatkan. Begitu hujan turun dan sumur kembali penuh, truk tangki berhenti datang, kekeringan pun menghilang dari percakapan. Padahal seharusnya masa setelah kemarau menjadi waktu untuk mengevaluasi. Sumber air mana yang masih bertahan? Desa mana yang paling rentan? Berapa banyak cadangan yang tersedia? Apa yang gagal disiapkan tahun ini?

Kita perlu memperlakukan kekeringan sebagai pelajaran tahunan, bukan kejadian yang selalu datang sebagai kejutan.

Baca Juga: Opini: MUKTAMAR KE-35, QUO VADIS NAHDLATUL ULAMA?

Sebab kemarau bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa diprediksi. BMKG bahkan telah memprediksi sejak awal tahun bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya. Sebanyak 61,4 persen zona musim diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026.

Artinya, kita sebenarnya sudah diberi waktu untuk bersiap.

Yang sering tidak kita miliki bukan informasi, melainkan kebiasaan untuk bertindak sebelum keadaan menjadi genting.

Kekeringan akhirnya mengajarkan sesuatu yang sederhana. Air tidak boleh hanya dipikirkan ketika sumur mengering. Ia harus dipikirkan ketika sumur masih penuh.

Kita perlu mengubah cara memandang air. Air bukan sekadar urusan ketika warga meminta bantuan tangki. Ia adalah urusan tata ruang, pertanian, lingkungan, pendidikan, kebiasaan rumah tangga, dan cara sebuah daerah merencanakan masa depannya.

Pemerintah memang harus hadir ketika warga kekurangan air. Tetapi masyarakat juga perlu mengambil bagian sebelum kekurangan itu datang.

Sebab kalau setiap musim kemarau kita hanya sibuk mencari air untuk hari ini, kita akan terus mengulang pekerjaan yang sama tahun depan.

Mungkin sudah waktunya kita belajar melakukan sesuatu yang lebih sederhana. Ketika hujan datang, jangan hanya bersyukur karena halaman kembali basah. Simpan airnya. Rawat sumbernya. Tanam pohonnya. Jaga salurannya. Ajarkan anak-anak menghematnya.

Karena pada akhirnya, persoalan air bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan air ketika kemarau tiba. Persoalannya adalah apakah kita cukup bijak menjaga air ketika kita masih memilikinya.

*Pemerhati sosial dan Pendidikan

Editor : Andhika Feriawan
sumur kering opini Kemarau Air