Opini: Nobar dan Perekat Solidaritas Sosial

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:00 WIB
NOBAR: Suporter Persibo Bojonegoro nonton bareng di Alun-Alun Bojonegoro. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
NOBAR: Suporter Persibo Bojonegoro nonton bareng di Alun-Alun Bojonegoro. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh: Ali Efendi

 

 

PAGELARAN sepak bola Piala Dunia 2026 selama 40 hari telah mencapai babak akhir, di partai final (20/7/2026) tim nasional Spanyol versus Argentina yang berstatus sebagai juara bertahan. Dalam laga puncak tersebut Spanyol memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0 dan berhak menyandang sebagai juara, Spanyol harus sabar menunggu 16 tahun sejak juara di Afrika Selatan 2010. Walaupun pesta olahraga yang paling populer se jagad telah selesai beberapa waktu yang lalu, namun diskusi tentang Piala Dunia 2026 masih sangat ramai di media cetak dan online, serta di media sosial.

Perbincangan seputar Piala Dunia 2026 sangat kompleks, mulai dari pemain terbaik, kiper, pemain muda, pencetak gol terbanyak, suporter hingga nonton bersama (Nobar). Fenomena Nobar sepak bola Piala Dunia dalam perspektif sosiologis sebagai perekat solidaritas sosial yang dapat menyatukan warga dari berbagai kasta sosial dan memperkuat interaksi sosial.

Nobar sebagai salah satu interaksi sosial di ruang publik informal merupakan pemandangan langkah yang berdapak positif dalam kehidupan masyarakat modern, karena era digitalisasi berdampak melemahkan komunikasi dan hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi sosok yang individualis, maka fenomena Nobar dapat dikaji dalam berbagai teori dan konsep sosiologi.

 Baca Juga: Opini: Tantangan NU dalam Muktamar 35

Nobar sebagai Kesadaran Kolektif

Selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026  dari tanggal 12 Juni 2026 hingga 20 Juli 2026 ruang publik informal dipenuhi warga dari berbagai latar belakang lapisan masyarakat. Ruang publik tersebut adalah hotel, kafe, warung kopi, jalan desa, gang kampung, serta tempat-tempat strategis lainnya yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dengan tujuan Nobar bagi Gibol, sebutan bagi penggila sepak bola.

Gibol hadir di ruang publik informal untuk menyaksikan pertandingan tim favorit yang didukung atau pemain idolanya. Di samping itu, mereka berjumpa dengan kawan akrab dan teman sejawat setelah seharian penat di ruang kerja. Sejenak Gibol menanggalkan smartphone dari genggamannya, sekedar untuk mengobrol santai sambil menunggu pertandingan live dimulai. Nobar sebagai salah satu fenomena insteraksi sosial di masyarakat yang jarang ditemuai di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang.

Kedatangan mereka di tempat tersebut sebagai bentuk kesadaran kolektif (collective consciousness), secara konseptual bermakna nilai kepercayaan, dan norma bersama yang menyatukan individu ke dalam sebuah identitas kelompok yang solid (Emile Durkheim, 1893). Jadi kedatangannya untuk Nobar didasari sebagai pendukung salah satu tim, untuk merayakan gol dan kemenangan, serta memperkuat identitas kelompok.

Loncatan pasca revolusi Industi 4.0 menuju Society 5.0 dengan memanfaatkan temuan teknologi digital untuk digunakan seluruh aspek kehidupan manusia yang bertujuan lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan. Namun demikian, kesadaran kolektif di era Society 5.0 tidak tergerus dalam proses revolusi sosial yang terjadi saat ini. Nobar bisa menjadi bagian dari penyeimbangan dari kegiatan yang disentralkan pada manusia, bisa juga Nobar sebagai kegiatan rekreatif untuk kebutuhan sosial.

Solidaritas mekanik yang terwujud dalam kesadaran kolektif bisa dilihat di komunitas desa saat menjelang Piala Dunia 2026, secara gotong royong memasang layar, mengusahakan LCD, menyediakan tempat untuk menonton dengan nyaman, menyediakan suguhan berupa makanan ringan (camilan) dan minuman khas kampung. Tidak lupa, mereka mengibarkan bendera tim favorit dan memasang jadwal pertandingan di tempat yang strategis yang dilengkapi kolom skor. Jadwal pertandingan dipasang dengan tujuan untuk mengingatkan dan mengajak bahwa nanti saatnya berkumpul untuk Nobar.

 Baca Juga: Opini: Investasi Strategis Perlu Kepercayaan Publik

Nobar sebagai Kegembiraan Kolektif

Kemasan Piala Dunia 2026 disuguhkan dalam format yang menarik dengan melibatkan hampir seluruh benua di dunia terwakili sebagai kontestan dengan zona yang telah dibagi FIFA sebagai induk organisasi. Maka waktu yang dibutuhkan lebih panjang dari pada penyelenggaran Piala Dunia sebelumnya, tentu saja durasi Nobar juga lebih lama yang disambut gembira dan antusias bagi Gibol.

Fenomena Nobar beberapa waktu yang lalu oleh Emile Durkheim (1893) disebut sebagai Kegembiraan Kolektif (collective effervescense), sebuah gambaran saat orang-orang berkumpul dalam suatu kelompok dan merasakan gelora emosi, semangat, serta kegembiraan yang sama secara intens. Jadi selama 40 hari penyelenggaraan Piala Dunia 2026, Gibol dengan rasa senang menikmati hiburan pertandingan live dengan cara Nobar.

Manifestasi kegembiraan kolektif terlihat di wajah Gibol saat menantikan tayangan live, merayakan gol-gol yang ditunggu dengan cara berteriak-teriak, bersorak saat pemain idolanya menguasai bola, dan bahkan ada sebagian yang menyiapkan aneka jenis tabuhan untuk merayakan kemenangan. Ketika Spanyol berhasil mengalahkan Prancis di semi final dan di final menumbangkan Argentina dengan skor 1-0, maka ribuan rakyat di Ambon, Maluku tumpah ruah mengadakan konvoi kemenangan untuk tim sepak bola nasional Spanyol sebagai juara.

Euforia kemengan Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026 tidak hanya dirayakan rakyat Spanyol, tetapi juga dirayakan Gibol di Indonesia yang setia menonton bola bersama (Nobar) melalui ruang publik informal selama satu bulan lebih. Fenomena Nobar merupakan bentuk penguatan kesadaran kolektif yang akan melahirkan kegembiraan kolektif sebagai perekat solidaritas sosial.

 

*Kepala SMPM 14 PP. Karangasem – Sekretaris MKKS SMP Swasta Kabupaten Lamongan

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
konsep sosiologi nobar argentina spanyol solidaritas