Oleh:
Susanto
Kepala Sekolah SMAN 1 Sumberrejo Bojonegoro
Para siswa telah menikmati libur di penghujung tahun 2025 dan masuk sekolah kembali awal tahun 2026.
Pertanyaan yang perlu direnungkan bagaimanakah pembelajaran yang efektif itu agar pembelajaran itu menyenangkan pasca libur? Lantas bagaimana pembeljaran yang bermakna agar berdampak pada penguatan kualitas dan karakter siswa?
Esensi Pembelajaran
Hakikat pembelajaran sebenarnya harus ramah dan menyenangkan peserta didik. Tentunya harus tetap pada spirit untuk mencerdaskan bangsa sehingga peserta didik lebih produktif, kreatif, inovatif, afektif dan bergairah dan senang selama di sekolah. Sebab bagaimanapun sekolah tidak akan lepas dari kurikulum sebagai kendali. Dalam konteks yang lebih luas kurikulum dapat dimaknai bahwa dengan kirikulum harus dapat menjawab problematika yang ada saat saat ini sehingga pendidikan Indonesia menghasilkan insan yang lebih berkarakter dan menyenangkan. Motivasi yang kuat dari guru yang memiliki kualitas pembelajaran baik metode atau pendekatan yang bisa menginspirasi peserta didik sesuai bakat dan minatnya.
Apa yang harus dilakukan oleh guru untuk menjawab tuntutan era millenial khususnya terkait dengan merdeka belajar sesuai dengan Kurmer saat ini? Pertama, memahami hakikat kurikulum. Mengapa demikian? Sebab bagaimanapun esensi kurikulum adalah sesuatu yang menuntut pemahaman yang jernih. Sebab bagaimanapun esensi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu baik ranah pengetahuan, keterampilan dan juga sikap.
Dalam bukunya yang berjudul: Wahai Para Guru, Ubahlah Cara mengajarmu. Dengan risetnya telah memperlihatkan bahwa pengalaman belajar yang diperlukan dengan metode yang jelas akan mempercepat pertumbuhan otak Martha Kaufeldt (2008: 19-20). Artinya, para siswa perlu diajari kaitannya otak dan perkembangan mereka. Mengapa demikian? Karena dengan cara ini masing-masing anak akan memiliki ruang dan waktu daam memahami potensi diri dan juga pelajaran yang mereka peroleh. Dengan demikian, para siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan dari pengalaman diri sendiri dan orang lain yang telah dialaminya secara langsung maupun tidak.
Kedua, guru yang menginovasi dan menginspirasi. Mengapa itu juga penting? Karena, sudah saatnya guru selalu mengedepankan inovasi pembelajaran khususnya dalam metode dan cara mengajarnya. Guru harus selalu untuk mengubah dirinya dan gaya mengajarnya. Meraka harus bisa merespon perkembangan dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Dengan cara ini pembelajar dalam hal ini siswa dapat mempeoleh sesuatu dengan cermat dan tidak membosankan. Guru senantiasa selalu melakukan penguatan dan mengembangkan 4 P. Artinya, guru harus senantiasa menjadi pengajar, pendidik, penginspirasi, dan penggerak bagi sebuah kemajuan dalam proses pembelajaran dan juga kemajuan bangsa. Hal ini dilakukan agar kedepan bangsa Indonesia selalu dalam posisi pemenang bukan pecundang bagi sebuah peradaban.
Waktu Berinovasi
Ada beberapa hal yang bisa dipedomani Bersama. Pertama, jam masuk, pulang, dan durasi lama belajar bagi siswa sangat penting akan tetapi lebih penting apabila waktu belajar dapat dimanfaatkan dengan maksimal dalam pembelajaran oleh guru dan peserta didik. Esensinya jangan sampai waktu belajar yang tidak sesuai dengan psikologis siswa justru akan menghambat psikologis siswa yang berakibat adanya gejolak baik social, ekonomi dan budaya di tengah masyarakat. Dalam konteks yang demikian, justru semangat yang harus dibangun dan dikedepankan adalah bahwa dengan waktu belajar yang ada sebagai media untuk menumbuhkan karakter disiplin sehingga siswa dapat menemukan solusi dari permasalahan di sekolah berdasarkan kompleksitas yang ada.
Kedua, kehadiran guru yang inovatif dalam proses pembelajaran tentunya akan mencetak generasi emas yang berkarakter kuat karena waktu belajar termanfaatkan dengan baik. Sudah saatnya berpikir merdeka dalam memaknai waktu belajar dan peserta didik dapat menemukan kebahagian dalam belajar. Peran guru sangat penting, mungkin ruang kelas bisa roboh atau ambruk tapi semangat dan mentalitas sang pembelajar (baca: insan Pendidikan atau peserta didik) jangan sampai mengalami gangguan psikologis karena waktu belajar yang tidak sesuai. Artinya, jangan sampai peserta didik terus mengalami beban psikologis karena waktu belajar tidak dimaknai dengan baik. Jam belajar peserta didik jangan sampai hanya lintasan waktu dan tidak memberi artibagi peradaban bangsa.
Jam datang, pulang, durasi belajar, dan metode yang kontekstual serta inovatif dari seorang guru harus dimaknai efektif dalam menyiapkan masa depan peserta didik. Waktu belajar jangan hanya menjadi perdebatan tanpa prestasi dan rasa bahagia peserta didik. Penguatan dan perbaikan kualitas pembelajaran melalui regulasi waktu belajar harus dioptimalkan jangan sampai waktu belajar yang ada berdampak bagi tata Kelola kehidupan yang lainnya. Karakter peserta didik akan terus maju karena diimbangi oleh semangat berinovasi yang berkelanjutan para guru dan siswa saat belajar di kelas. Konsep merdeka belajar melalui Kurmer harus dipahami secara bijak. Dengan demikian, waktu pembelajaran harus termanfaatkan dalam memahami kompleksitas hidup di era digital yang menglobal.
Pembelajaran menyenangkan (joyful learning) sering kali disalahartikan sebagai kelas yang bebas tanpa aturan atau sekadar bermain game sepanjang jam pelajaran. Ini adalah anggapan yang fatal. Pembelajaran menyenangkan yang sejati adalah pembelajaran yang bermakna. Ia terjadi ketika siswa merasa terlibat secara emosional, merasa aman untuk berpendapat, dan melihat relevansi antara apa yang mereka pelajari dengan kehidupan nyata mereka.
Nah, secara neurosains, otak manusia tidak dirancang untuk menyerap informasi di bawah tekanan. Saat siswa merasa takut—takut salah, takut dimarahi, atau takut diejek—otak mereka memproduksi hormon kortisol yang justru memblokir kemampuan berpikir kritis. Sebaliknya, suasana belajar yang positif memicu dopamin, neurotransmitter yang meningkatkan motivasi, fokus, dan daya ingat. Sederhananya: tanpa rasa senang pembeljaran susah berkualitas. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana