Oleh:
dr. Pramono Apriawan Wijayanto, MKM, FISQua
Ketua IDI Cabang Bojonegoro
SATU Nafas, Dua Semangat. Bulan Oktober 2025 menjadi saksi berpadunya dua momentum besar yang sarat makna. Tanggal 20 Oktober, Kabupaten Bojonegoro merayakan Hari Jadi ke-348 dengan tema “Bersinergi untuk Bojonegoro Mandiri”.
Sementara, tanggal 24 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Dokter Nasional dan HUT ke-75 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan semangat “Berkarya, Membangun Kesehatan Bangsa”.
Dua momentum ini berjalan beriringan, menyatukan semangat daerah dan semangat profesi. Bojonegoro ingin mandiri melalui sinergi, sementara dokter Indonesia mengabdi dengan karya. Di titik pertemuan keduanya, kita menemukan makna yang sama, bahwa kemajuan bangsa tidak akan pernah lepas dari kesehatan rakyatnya.
Sejarah mencatat, bahwa profesi dokter memiliki peran istimewa dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Para dokter bukan hanya menolong yang sakit, tetapi juga membangkitkan semangat kebangsaan.
Soetomo menjadi pelopor lahirnya Budi Utomo, organisasi modern pertama yang menyalakan api nasionalisme. dr. Wahidin Sudirohusodo menanamkan gagasan tentang pendidikan dan kesehatan sebagai jalan menuju kemerdekaan.
dr. Cipto Mangunkusumo memperjuangkan hak rakyat di tengah penjajahan dengan ilmu dan keberanian moral. Kini, 75 tahun setelah IDI berdiri, semangat mereka terus hidup dalam diri setiap dokter Indonesia, termasuk di Bojonegoro.
Dokter masa kini berjuang di garis depan layanan kesehatan, di ruang darurat, di klinik desa, hingga di ranah kebijakan publik, melanjutkan estafet pengabdian dengan wajah yang berbeda, tapi semangat yang sama.
IDI Cabang Bojonegoro percaya bahwa kemajuan daerah hanya bisa dicapai jika kesehatan menjadi fondasi utamanya. Karena itu, kita terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, dan organisasi masyarakat.
Dari kegiatan health education hingga bakti sosial, dari pelatihan tenaga kesehatan hingga kampanye literasi medis, semua diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Bojonegoro yang sehat dan berdaya.
Inilah wujud nyata sinergi menuju kemandirian, sebagaimana visi besar daerah ini: membangun Bojonegoro dengan potensi lokal yang dioptimalkan, tanpa kehilangan semangat kebersamaan.
IDI dan Bojonegoro sama-sama menegaskan kemandirian melalui sinergi. Dokter mandiri secara etika dan moral, Bojonegoro mandiri secara ekonomi dan sosial. Perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 dan HUT ke-75 IDI bukan hanya momen peringatan, melainkan refleksi dan panggilan untuk melangkah lebih jauh.
Ketika dokter mengabdi dan daerah berkolaborasi, maka terbentuklah fondasi kuat menuju bangsa yang sehat dan mandiri. Dari Bojonegoro, kita belajar bahwa kemajuan tidak bisa berjalan tanpa kebersamaan.
Dan, dari dokter Indonesia, kita belajar bahwa pengabdian tak pernah berhenti. Karena setiap tindakan kecil untuk menolong sesama adalah bagian dari membangun negeri.
Selamat Hari Jadi ke-348 Bojonegoro. Selamat Hari Dokter Nasional dan HUT ke-75 Ikatan Dokter Indonesia. Semoga harmoni dua momentum ini terus menyalakan cahaya pengabdian, dari Bojonegoro untuk Indonesia. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana