Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Bersahabat dengan Alam

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 21 September 2025 | 16:00 WIB
KEINDAHAN ALAM: Suasana senja di Waduk Greneng menjadi favorit warga Blora. Berlatar belakang Cemoro Pitu menjadi daya tarik sendiri bagi wahana wisata itu. (RAHUL OSCARRA/RDR.BLORA)
KEINDAHAN ALAM: Suasana senja di Waduk Greneng menjadi favorit warga Blora. Berlatar belakang Cemoro Pitu menjadi daya tarik sendiri bagi wahana wisata itu. (RAHUL OSCARRA/RDR.BLORA)

 

Oleh:
Reyta Noor O.
Analis Kebijakan Ahli Muda

 

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita,

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ....

(Ebiet G.Ade, Berita Kepada Kawan)

 

Penggalan syair lagu diatas barangkali menjadi sebuah pengingat terjadinya rangkaian bencana alam yang tengah terjadi di tanah air. Bencana banjir yang melanda Bali sontak membuat publik tercengang, bagaimana tidak ? Bali yang selama ini kita kenal sebagai tempat yang menampakkan keindahan dan kenyamanan ternyata alamnya menyimpan sejuta amarah. Hujan deras yang melanda Bali sejak 9 September 2025 menjadi pemicu terjadinya banjir besar di sejumlah wilayah Bali. Berdasarkan data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah korban meninggal mencapai 18 orang, 2 korban hilang, 154 unit bangunan rusak dengan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 29 miliar  (Jawa Pos, Sabtu 13 September 2025).

Faktor utama bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah adalah karena ulah manusia yang sewenang-wenang terhadap alam. Sebagai contoh perubahan tata guna lahan pertanian, pembuangan sampah sembarangan, penebangan pohon secara liar, pencemaran lingkungan, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan, pembangunan kawasan perumahan atau gedung-gedung perkantoran secara masif sehingga mengurangi lahan resapan air dan masih banyak lagi tindakan manusia yang menyakiti alam. Jangan salah, alam yang terlihat begitu tenang dan senyap, ternyata bisa meluluhlantakkan semua milik kita hanya dalam sekejap. Lalu apa upaya yang bisa kita lakukan agar alam mau bersahabat dengan kita ?

Penegakkan Hukum

Pengelolaan lingkungan hidup telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 yang mengatur secara lebih detail tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta beberapa aturan turunan lainnya yang secara spesifik mengatur tata kelola lingkungan. Namun seringkali kita abai dengan regulasi yang sudah ada. Peraturan seringkali kalah dengan kepentingan, sehingga aturan tidak lagi ditegakkan. Akibatnya kerusakan lingkungan semakin menumpuk dan berdampak buruk bagi kita sendiri. Fungsi regulasi sejatinya adalah untuk mengontrol dan mengawasi perilaku individu maupun organisasi untuk menciptakan lingkungan yang stabil, aman, dan berkeadilan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Tanpa regulasi maka setiap orang bisa berlaku seenaknya. Oleh karena itu regulasi yang sudah ada harus ditegakkan guna melindungi alam sekitar kita.

Partisipasi Aktif Masyarakat

Keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi faktor utama kelestarian alam. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana disekitar kita, sebagai contoh tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan sampah plastik, melakukan penghematan energi misalnya dengan mematikan peralatan elektronik atau kran air jika tidak digunakan, menanam pohon di sekitar rumah, mengurangi pencemaran udara dengan membatasi penggunaan kendaraan bermotor atau mobil terutama untuk menjangkau tempat dalam jarak dekat cukup berjalan kaki atau bersepeda, menggalakkan kerja bhakti di lingkungan rumah, tidak melakukan penebangan pohon secara liar, memberikan edukasi dan informasi tentang tata kelola lingkungan baik melalui media sosial, media cetak maupun sosialisasi secara langsung kepada orang-orang di sekitar kita. Hal-hal kecil yang kita lakukan jika dikerjakan bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi masa depan alam kita. Kunci utama keberhasilan partisipasi masyarakat adalah kemauan untuk bergerak bersama menjaga lingkungan tetap sehat, asri dan nyaman dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, hingga mencakup masyarakat yang lebih luas.

Keadilan Lingkungan

Pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan dengan bijak. Alam telah menyediakan apa yang kita butuhkan, namun dalam pemanfaatannya jangan sampai hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk bisa menikmati lingkungan yang sehat, aman dan nyaman. Oleh karena itu segala aktivitas yang kita lakukan hendaknya selalu memperhatikan dampak dan akibat yang akan ditimbulkan terutama berkaitan dengan kelestarian lingkungan.   

Kabupaten Bojonegoro kaya akan sumberdaya minyak bumi, dimana sekitar dua puluh lima persen dari total cadangan minyak Indonesia disokong dari Bojonegoro. Selain itu sekitar 40 persen wilayah Bojonegoro adalah kawasan hutan. Hal ini tentu saja menjadi isu lingkungan yang sangat penting untuk diperhatikan dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya, jangan sampai sumberdaya alam yang tersedia justru menjadi ancaman jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Mari kita saling menjaga lingkungan sekitar demi masa depan anak cucu kita. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Alam #Bencana #sumber daya alam #Sampah #indonesia #lingkungan #bojonegoro #lingkungan hidup #bersahabat #minyak