Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Jazz di Tepi Bengawan

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 7 September 2025 | 22:00 WIB
JAGA LINGKUNGAN: Wabup Nurul Azizah saat naik panggung Jazz Bengawan, mengajak semua pihak menjaga lingkungan, khususnya Bengawan Solo.
JAGA LINGKUNGAN: Wabup Nurul Azizah saat naik panggung Jazz Bengawan, mengajak semua pihak menjaga lingkungan, khususnya Bengawan Solo.

 

Oleh:
Agus Ari Afandi
Psikolog Stikes Rajekwesi Bojonegoro

 

Malam itu langit begitu cerah. Bulan dan bintang seakan berlomba memancarkan sinarnya. Pas di tepi bengawan sebuah panggung yang etnik berdiri untuk menampilkan musik jazz. Siapa sangka bahwa di tepi bengawan solo ada pertunjukan musik jazz dengan tempat yang asyik.

Para penonton sudah memenuhi tribun sebagai tempat duduk. Tempat duduk ini sebenarnya adalah batuan plengsengan agar tidak terjadi longsor tanah di atasnya. Tapi malam itu berfungsi sebagai tribun seperti pertunjukan teater. Penonton tidak hanya dari warga sekitar Ledok Kulon yang malam itu jadi tuan rumah, tapi juga dari daerah lain.

Jazz bengawan yang diadakan sejak tahun 2018 mengusung tagline yang menarik, jangan buang sampah di bengawan. Sebuah ajakan yang patut mendapat dukungan. Jadi tidak hanya menikmati musik jazz tapi juga diingatkan tentang menjaga kebersihan bengawan. Pilihan menampilkan musik jazz seolah mengingatkan bahwa Bengawan Solo bisa juga dinikmati oleh kalangan menengah. Selama ini ada kesan bahwa Bengawan Solo hanya dinikmati oleh kalangan bawah.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Jawa yang melingkari wilayah Bojonegoro. Selepas Ngawi masuk ke wilayah ujung tenggara Kabupaten Bojonegoro yaitu kecamatan Ngraho sudah dilalui Bengawan Solo. Kemudian di Padangan berbelok ke Barat menuju kota Bojonegoro hingga paling timur yaitu kecamatan Baureno. Seolah Bengawan Solo memeluk erat wilayah Bojonegoro.

Ketika memasuki kota Bojonegoro dia akan meliuk memutari kota. Bagi wilayah Ledok, Bengawan Solo seperti sobat karib. Ledok, yang berarti tanah rendah maka sebagaimna sifat air yang akan mengalir di daerah lebih rendah. Sehingga wilayah ini sering mendapat tumpahan air yang meluap dari bengawan.

Sebagaimana lagu yang ditulis Gesang, ketika kemarau airnya mengering tapi ketika musim hujan airnya meluap. Maka tidak heran banjir menjadi bencana musiman bagi warga Bojonegoro. Demikian juga bagi warga Ledok. Namun jangan hanya dilihat saat banjir, bengawan Solo juga memiliki potensi. Di sektor pertanian bisa sebagai irigasi, dan juga sektor perikanan. Masih bisa juga dikembangan potensi di sektor lainnya.

Menjaga kebersihan Bengawan Solo bukan hanya tugas warga Ledok. Tagline jangan buang sampah di bengawan hekekatnya adalah tugas bersama. Melalui pagelaran jazz hanya sebagai pemantik agar kita bersama bisa menjaga kebersihannya. Pemantik yang bisa mengingatkan dan mengobarkan semangat untuk bersama melestarikannya.

Patut di apresiasi bahwa kegiatan ini di prakarsai oleh para pemuda Ledok Kulon yang tergabung dalam Bradok. Bengawan Solo sudah ada sejak leluhur kita. Maka ketika pemuda tergugah kesadarannya untuk menjaga kebersihannya maka kita bisa berharap bahwa kelestarian Bengawan Solo bisa kita pertahankan. Menjaga saat ini juga bisa diwariskan untuk generasi berikutnya.

Kita bisa lihat kota Paris yang dialiri sungai Seine dengan bangganya hingga bisa sebagai pembukaan olimpiade Paris 2024. Demikian juga sungai di Swiss yang bersih terjaga hingga bisa menjadi tempat rekreasi bagi warganya. Itu adalah contoh yang bisa diadopsi bahwa Bengawan Solo juga bisa memiliki potensi yang sama. Hanya memang kesadaran warga perlu dittingkatkan untuk bersama menjaganya.

Kita bisa mulai menjaganya dari sekarang. Kalau kita mencontohkan sungai di Eropa kelihatannya terlalu tinggi, tapi bila kesadaran itu dimulai dari sekarang masih bisa kemungkinan generasi akan datang untuk bisa mewujudkannya. Maka diawali dengan pemuda Ledok Kulon untuk menginisiasi gerakan jangan buang sampah di bengawan bisa memicu gerakan serupa di wilayah lain. Pemuda dengan inovasi dan kreasinya bisa melakukan beragam cara untuk menjaga kebersihan Bengawan Solo.

Menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di bengawan adalah sebuah perilaku. Perilaku bisa dibentuk diantaranya dengan memberikan contoh yang baik. Maka semua pihak harus terlibat. Masyarakat, pemerintah, tua, muda semuanya punya peran dan tanggung jawab untuk menjaganya.

Perilaku juga bisa dibentuk dengan memberikan imbalan dan hukuman. Hukuman misalnya bila ada warga yang membuang sampah atau mengotori bengawan maka akan dikenai hukuman, misalnya denda. Namun harus ada aturan yang jelas dan disosialisasikan agar ada kesepakatan.

Bagaimana dengan imbalan? Bisa diberikan bagi warga atau lembaga yang berperan aktif dalam menjaga kebersihan dengan memberikan penghargaan. Program ini juga bisa memacu untuk berlomba menunjukkan perannya. Ketika semua terlibat untuk menjaga maka semuanya bisa menikmati potensinya.

Malam itu dalam jazz bengawan ketika musisi membawakan lagu January Christy berjudul “Aku ini Punya Siapa,” saya membayangkan “aku” adalah Bengawan Solo. Jadi jawabannya Bengawan Solo adalah milik semua. Tidak hanya warga Ledok, tapi warga Bojonegoro yang wilayahnya dilalui aliran Bengawan Solo.

Ketika Bengawan Solo bisa dijaga kebersihannya maka potensi akan bisa dikembangkan lagi. Festival Bengawan Solo yang pernah ada bisa dikembangkan lagi. Masih mungkin juga dilakukan lomba dayung seperti pacu jalur yang saat ini sedang terkenal.

Menjaga kebersihan Bengawan Solo tidak bisa hanya dipasrahkan pada pemerintah melalui dinas terkait. Semua warga harus terlibat. Ketika mereka sadar untuk menjaga kebersihannya maka kelestarian alam akan membawa keberuntungan. Bagaimanapun alam dan manusia akan saling membutuhkan maka harus saling menjaga. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Festival Bengawan #bengawan solo #buang sampah #Ledok Kulon #bengawan #Sungai #ledok #kelestarian #ngraho #Membuang Sampah #Gesang #Kebersihan #jazz