Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Resounding Gerakan Pramuka Koding dan AI

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 10 Agustus 2025 | 21:08 WIB
Ilustrasi robot AI.
Ilustrasi robot AI.

 

Oleh:
NONO WARNONO
Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Bojonegoro

 

BELAKANGAN dunia pendidikan bising oleh diskursus deep learning atau pembelajaran mendalam yang oleh Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) disebut sebagai penguatan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), untuk memberikan penekanan atau penguatan bahkan “koreksi” pada kurikulum sebelumnya.

Hingga pada suatu situasi pun kondisi yang mengemuka kelatahan penerapan mata pelajaran yang disebut sebagai Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) turut berkelindan masuk dalam kurikulum tahun ajaran baru yang disebut dengan akronim KKA. Dalam perspektif para pakar pun praktisi, dinamika peradaban global dengan lompatan teknologi canggih, penguasaan koding atau pemrograman dan kecerdasan artifisial adalah sebuah keniscayaan mencipta generasi adaptif dan kompetitif.

Bahkan pemerintah melalui Kemendikdasmen telah melangkah gegas dengan program diklat guru-guru yang lembaganya menerima BOS kinerja sebagai antisipasi untuk memfollow up dinamika tersebut. Namun dengan high light jangan sampai program ini kontra produktif bagi siswa. Jangan sampai mereduksi karakter siswa tersebab teracuni teknologi yang menyandarkan AI ansich.

Bisa jadi kecerdasan buatan berpotensi memicu kecanduan digital (problematic internet use dan internet addiction) yang mereduksi kemampuan bersosialisasi, komunikasi, berpikir kritis, pun rasa empati. Merujuk pada artikel Fenomena Curhat ke ChatGPT, Psikolog UMS: AI Tidak Bisa Gantikan Empati Manusia. 

Dalam beberapa wacana mengemuka pertanyaan strategis, kehadiran koding dan AI diposisikan dimana? Berkembang opini KKA dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran yang selama ini sudah ada. Tak sedikit yang mengasistensi koding dan AI menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri dalam proses pembelajaran. Di pihak lain cenderung memposisikan KKA masuk dalam rumpun kegiatan ekstra kurikuler yang menginternalisasi nilai karakter.

Kelatahan para pengambil policy yang serta merta tergesa mengimplementasikan mata pelajaran baru atas kehadiran teknologi yang nir kajian ternyata menjadikan pro-kontra. Satu pihak ada yang setuju, pihak lainnya kurang sepaham karena keterbatasan guru pengampu, sarpras, potensi penambahan beban belajar dan sebagainya. Hal ini muncul karena rasa was-was gagalnya kebijakan tersebut, dan akan justru berdampak menggerus karakter anak yang selama ini telah susah payah dikontruksi berbagai internalisasi nilai dari perspektif kerohanian, kearifan lokal (local wisdom), hingga pendidikan kepramukaan.

Kecemasan tersebut makin kentara ketika tiba-tiba lahir Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler Wajib. Di mana Pendidikan Kepramukaan harus diajarkan dan wajib diikuti para peserta didik di segala jenjang.

Baca Juga: CEO OpenAI Kaget Banyak yang Bergantung pada ChatGPT, Turut Ingatkan Agar Teliti Kembali Jawaban dari AI

Permendikdasmen ini menganulir Peraturan Menteri di era Mendikbud Nadiem Makarim yang sekonyong-konyong menghapus ekstra wajib kepramukaan. Menganggap pendidikan kepanduan hanya menjadi sumber berbagai permasalahan keselamatan jiwa peserta didik. Argumentasi yang dipakai tatkala itu sejatinya hanya masalah yang bersifat kasuistik, bukan hal yang substansial.

Pasca dihapusnya Pendidikan Kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib, betapa terasa wadah menginternalisasi nilai karakter tak ada lagi. Hilangnya kawah candradimuka penggemblengan generasi muda menjadi tanpa arah. Hingga ada gubernur yang dengan bangganya memasukkan generasi muda bermasalah ke dalam barak militer. Pendidikan yang pasti tak ramah anak bahkan abai nilai humanism yang bisa jadi meninggalkan trauma bagi peserta didik di masa mendatang.

Menemui realita pendidikan berbasis kekerasan tersebut para pemegang kebijakan dan pemangku kepentingan waswas dan gelisah. Harus ada regulasi mengembalikan kepanduan yang strategis. Pendek kata kini Mendikdasmen Abdul Mukti mewajibkan kembali Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler Wajib, bukan hanya lembaga sekolah yang wajib mengimplementasikan namun para murid wajib mengikutinya. Sebuah perspektif edukatif yang layak diapresiasi oleh masyarakat.

Tentu ini angin segar, karena dulu hingga kini pramuka telah berkontribusi besar dalam pembangunan karakter (caracter building). Daripada tergopoh mengintegrasi mata pelajaran atau ekstrakurikuler baru yang belum terbukti hasilnya. Kelatahan yang cenderung mengatasnamakan kemajuan teknologi yang kadang bak dua sisi mata pisau, positif dan kontra produktif.

Kelatahan menyerap teknologi dengan serta merta nan abai nilai kepanduan yang dua tiga tahun terakhir disingkirkan dari regulasi kini diarusutamakan kembali. Ini adalah momentum untuk meresounding dan merevitalisasi kembali nilai-nilai karakter dalam pendidikan kepanduan. Menyuarakan lantang pun menjadikan penting atau vital kembali bulir-bulir karakter dalam pendidikan kepanduan menjadi keniscayaan di hari ulang tahun ke 64 Gerakan Pramuka pada 14 Agustus 2025.

Dirgahayu Gerakan Praja Muda Karana. Ikhlas bhakti bina bangsa. Berbudi bawa laksana. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ekstrakurikuler #teknologi #Pendidikan #KKA #koding #Kepramukaan #karakter #kecerdasan artifisial #Siswa #pramuka #BSKAP #ai #Kurikulum