Oleh:
MUNDZAR FAHMAN
Mantan Wartawan Jawa Pos, Tinggal di Bojonegoro
Seolah, sudah takdir dari sononya, tiap tahun muncul berbagai masalah terkait penyelenggaraan haji yang dialami jamaah dari negeri ini. Masalah besar tahun lalu (2024) hingga kini tidak jelas penyelesaiannya. Tahun 2025 ini muncul masalah baru.
Satu sisi, kita sebenarnya bisa memakluminya. Masalah-masalah itu muncul mungkin karena saking banyaknya jamaah haji. Terutama, jamaah haji dari Indonesia. Mereka berasal dari beragam daerah, beragam usia, beragam kondisi kesehatan, beragam keinginan dan kebutuhan, dan beragam pula tingkat pendidikannya.
Tetapi, pada sisi lain, mengingat penyelenggaraan haji itu dilakukan tiap tahun sejak puluhan tahun lalu, seharusnya lembaga penyelenggara lebih pengalaman. Mereka harusnya sudah sangat paham hal-hal yang berpotensi akan menjadi masalah. Mereka seharusnya sudah siap mengantisipasinya. Agar, jangan sampai seperti peribahasa: Jangan jatuh ke lubang yang sama dua kali.
Nanti malam, sebagian jamaah haji asal Bojonegoro dijadwalkan sampai di rumah. Pemulangan jamaah asal Bojonegoro dijadwalkan hingga Rabu lusa, 2 Juli. Moga perjalanan pulang lancar, dan menjadi haji mabrur semua, aamiin...
Terkait pelaksanaan haji tahun ini (2025), pemerintah Arab Saudi menyampaikan nota diplomatik kepada pemerintah Indonesia. Nota tersebut isinya terkait dengan jamaah haji Indonesia. Antara lain, terkait validasi data jamaah yang tidak sinkron, tidak sesuai antara data yang di sistem elektronik milik Arab Saudi dengan data di Kemenag dan manifes penerbangan. Selain itu, pergerakan jamaah selama di Tanah Suci juga tidak sesuai dengan konfigurasi syarikah (perusahaan Arab Saudi yang mengurusi jamaah selama berhaji.
Isi nota diplomatik yang lainnya adalah tentang penempatan hotel bagi jamaah yang tidak sesuai dengan prosedur, dan tingginya risiko kesehatan jamaah haji Indonesia. Ini menjadi salah satu penyebab banyaknya jamaah haji yang sakit, dan bahkan sebagian akhirnya meninggal.
Sebenarnya, banyaknya jamaah yang sakit dan sebagian lainnya meninggal, itu memang tidak mudah diprediksi. Pemerintah Indonesia, ataupun petugas yang menangani perhajian tidak boleh begitu saja disalahkan. Karena saking banyaknya jamaah, dan mereka sudah antre puluhan tahun sebelum berangkat. Bisa jadi, waktu mendaftar haji dulu ada yang masih muda dan sehat, tetapi sekarang sudah terkategori tua dan kurang sehat. Selain itu, kematian juga terkait erat dengan ajal yang sudah tertulis dari sononya.
Baca Juga: Sebelum Pulang ke Bojonegoro, Koper Jemaah Haji Kloter 67 Ditimbang Hari Ini
Satu lagi, isi nota diplomatik Arab Saudi untuk pemerintah Indonesia itu menyangkut penyembelihan hewan Dam (menyembelih hewan sebagai denda bagi jamaah haji tamattu”). Yaitu, jamaah yang melakukan ibadah umroh lebih dulu sebelum melakukan ibadah haji. Arab Saudi mengharuskan penyembelihan dilakukan melalui Adahi, perusahaan resmi Kerajaan. Tetapi, sebagian jamaah haji dari Indonesia justru memesan hewan kurban melalui pihak lain. Misal, lewat pembimbing KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), atau mukimin (orang Indonesia yang tinggal di Arab Saudi) yang tidak diakui pemerintah Saudi. (inilahcom, senin 23 juni 2025),
Sudah menjadi rahasia umum (rahasia tapi sudah umum), dalam praktiknya, pembayaran Dam Tamattu’ dari jamaah Indonesia banyak masalah. Itu sudah sejak lama. Penyebabnya, sebagian besar jamaah kurang pengetahuan, tidak mau ribet/ repot, kemudian pasrah kepada oknum-oknum dari KBIH, atau dari pihak lainnya. Sering terjadi, nilai denda untuk pembelian hewan Dam tersebut ditinggikan oleh oknum KBIH, kemudian dibelikan hewan yang kurang memenuhi standar dengan harga yang lebih murah. Atau, bahkan, yang lebih memprihatinkan, tidak jelas apakah duit dari jamaah tersebut dibelikan hewan oleh oknum KBIH atau tidak. Menyedihkan.
Untuk meniadakan masalah sama sekali terkait pelaksanaan haji, kayaknya memang tidak mungkin. Rasanya seperti mimpi. Terutama, bagi jamaah haji asal Indonesia dan para petugasnya. Mengapa? Karena saking banyaknya orang yang harus ditangani mulai dari pemberangkatan hingga pemulangan kembali ke tanah air. Apalagi, seperti saya sebutkan di atas, kondisi jamaah haji asal Indonesia sangat beragam.
Belum lagi masalah selama di Arab Saudi. Jutaan orang dari seluruh dunia, dan pada hari-hari puncak ibadah haji, mereka harus berkumpul di satu tempat/lokasi: wuquf di Arafah, kemudian ke Muzdalifah, dan bermalam di Mina. Jutaan orang tumplek-blek di Mina. Sulit dibayangkan bagaimana mengatur perjalanan/pergerakan jamaah, konsumsinya, dan kebutuhan MCK-nya.
Jika meniadakan sama sekali masalah perhajian tidaklah mungkin, ya seharusnya penyelenggara punya semangat untuk menguranginya secara signifikan. Kesalahan urus yang lama jangan sampai terulang di tahun berikutnya, dan terus menyiapkan antisipasi untuk tahun-tahun berikutnya.
Yang sering terjadi, kasus lama muncul kembali di tahun berikutnya. Atau, kasus di tahun sebelumnya yang tidak diselesaikan hingga tuntas. Salah satu contohnya ya kasus perhajian tahun lalu (2024). DPR-RI pada awalnya semangat mengkritik masalah perhajian 2024, terutama yang menyangkut pembagian jatah haji plus dengan haji reguler. DPR-RI menyakini ada uang ratusan miliar dari jamaah haji plus yang tidak sah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi apa yang terjadi, kasus tersebut hingga sekarang ini tidak jelas prosesnya, dan tidak jelas penuntasannya.
Pejabat yang diduga sebagai otak dan pelaku utamanya malah aman-aman saja. Banyak cerita di lapangan, banyak oknum dari KBIH yang semangatnya bukan untuk menolong jamaah haji yang awam atau lemah. Tetapi semangatnya justru ingin memanfaatkan keawaman dan kelemahan jamaahnya itu untuk mendapatkan uang dari mereka.
Konon, ada KBIH yang meminta calon jamaahnya membayar sejak jamaah tersebut mendaftar haji. Padahal, berangkat hajinya masih belasan tahun lagi. Juga, ada KBIH yang minta duit kepada jamaahnya setelah pulang haji dengan alasan untuk sedekah. Umumnya jamaah takut, atau sungkan, dan tidak berani menolak. Terpaksa sami’na wa atho’na (kulo nderek njenengan mawon. Apa gak bahaya ta..??? (*)