Oleh:
M. Nur Hidayat
Pengajar dan Pembina Kelompok Ilmiah Remaja di MA Islamiyah Attanwir
UMAT Islam sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan 1446 Hijriah. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi mengendalikan diri dari berbagai hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa seperti ghibah, berkata kasar, adu domba, berbohong dan lain sebagainya.
Sebelum era digital, interaksi manusia berlangsung di dunia nyata, seperti dengan tetangga, teman, atau rekan kerja. Jika memilih membatasi diri, cukup berada di dalam rumah, peluang berinteraksi pun akan berkurang. Hal ini dapat mengurangi risiko terjadinya percakapan atau perbuatan yang berpotensi mengurangi nilai ibadah.
Di era digital sekarang, perhatian lebih sering tersita notifikasi yang terus berdatangan, arus informasi yang tak terbendung, serta tekanan untuk senantiasa terlibat dalam dunia maya.
Media sosial yang awalnya sebagai sarana komunikasi dan ekspresi, kini berubah menjadi ruang mana eksistensi.
Digital Noise
Di era digital, manusia hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap saat gadget kita dibanjiri dengan notifikasi dari beberapa media sosial, situs berita, dan platform lain yang menyuguhkan informasi, opini dan berita.
Alih-alih untuk memperkaya informasi dan ilmu pengetahuan, kelebihan informasi semacam ini dapat menyebabkan digital noise. Kebisingan digital yang menganggu fokus, menghambat pemikiran, dan kerap menggugah emosi kita untuk ikut reaktif seperti berkomentar, menanggapi, atau bahkan hanya sekedar menyukai dengan konten-konten tersebut.
Hal tersebut terjadi dan berulang setiap hari, orang yang dahulunya hanya sekedar pembaca terpancing untuk berinteraksi. Mula-mula hanya menekan tombol like, dan pada gilirannya akan terpancing untuk comment. Tindakan semacam ini tentu tidak salah apalagi jika dalam ranah diskusi keilmuan, hobi, silaturahim, tukar pengalaman dan hal positif lain.
Namun seseorang kadang terjebak dalam situasi karena sudah terbiasa reaktif, ia sudah tidak peduli apakah ketika ia ikut berkomentar betul-betul sudah sesuai dengan keahlian atau minimal ia mengetahui pokok dari persoalan yang sedang dibahas. Belum lagi pada isu yang menimbulkan pro dan kontra, atau menyangkut seorang tokoh, fans idolanya, pasti akan kita jumpai komentar yang tak sedikit menyudutkan, menghina, bahkan umpatan jorok. Ironisnya lagi, bahkan kadang orang lain menyalahkan kendaraan A yang kebetulan kita juga mempunyai kendaraan tersebut gampang sekali untuk tersulut emosi dan dan berkomentar.
Jika terus dilakukan akan mengurangi nilai puasa disamping itu akan membentuk karakter yang kurang baik karena setiap persoalan apapun akan dikomentari meskipun ia tidak merasa bahwa ia bukan ahlinya.
Tindakan Komunikasi vs Hakikat Komunikasi
Tanpa disadari dalam berkomunikasi seseorang lebih mementingkan tindakan komunikasi itu sendiri daripada hakikat atau esensi dari komunikasi. Secara filosofis dapat dipahami bahwa parameter eksistensi seseorang hari ini diukur dari eksistensinya di dunia maya.
Seberapa sering ia muncul di dunia maya menjadi tolok ukur eksistensinya, orang yang tidak pernah atau jarang muncul dianggap kurang eksis. Sehari saja orang tidak membagikan story nya seolah seharian ia dianggap tidak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan Group WhatsApp yang tidak berbunyi, kadang dianggap tidak ada aktifitas. Paling tidak hal tersebut yang secara tidak langsung membuat kita aktif dan reaktif dalam bermedia sosial.
Puasa Media Sosial
Puasa media sosial bukan berarti meninggalkan teknologi sama sekali tetapi menggunakannya lebih bijak, reflektif, dan bermakna. Tentu bagi sebagian orang tidak mudah jika sudah menjadi kebiasaan namun ada beberapa tips diantaranya; pertama, lakukan secara bertahap, beralih dari pola konsumsi pasif dan impulsif menuju pola yang lebih terarah dan berkualitas. Kedua, tetapkan batas waktu penggunaan media sosial. Dan ketiga, mengganti dengan aktivitas yang lebih bermakna.
Meminjam teori dari filosof Yunani, Socrates, ada beberapa treatment yang bisa dilakukan ketika akan memberikan reaksi terhadap berita, unggahan dan hal-hal lain dalam dunia media sosial. Tanyakan tiga hal; pertama, is it true? Atau apakah komentar saya benar? Jika tidak, maka urungkan. Jika benar, tanyakan kembali is it kind? Apakah komentar saya baik bagi orang tersebut? Akankah diterima dengan baik pula? Sudahkah menggunakan bahasa yang baik? Jika tidak, maka urungkan untuk berkomentar. Jika benar, maka pertanyaan ketiga, is it necessary? Apakah itu penting bagi dia? Jika penting maka lakukanlah.
Dengan berpuasa dari media sosial, kita tidak hanya mengambil jeda dari hiruk-pikuk dunia maya, tetapi juga memberi ruang refleksi dan kembali mengalami dunia secara lebih nyata. Seperti halnya puasa dalam tradisi spiritual yang mengajarkan manusia untuk menahan diri demi mencapai kebijaksanaan, puasa media sosial bisa menjadi latihan bagi kesadaran kita agar tidak terus-menerus diperdaya oleh algoritma dan distraksi tanpa akhir. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana