Oleh:Inung Sektiyawan, S. Si*
“Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu Bapakmu”
Begitulah yang dikatakan Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat, siapakah orang yang patut kita hormati di dunia. Begitu mulianya seorang ibu sampai harus diucapkan tiga kali, baru setelah itu seorang bapak. Lalu sebenarnya siapakah ibu itu? Bagaimana ibu layak dikatakan sebagai “Ibu”?
Seorang ibu adalah perempuan yang memiliki sifat keibuan. Tak semua perempuan memiliki sifat yang demikian. Berangkat dari sini, orang bisa berfikir bahwa merayakan hari Ibu bukan semata-mata memuliakan makhluk berjenis perempuan tetapi lebih mengagungkan kualitasnya yang utama, yakni keibuan.
Dalam kajian sastra, makhluk berjenis perempuan lebih diidentikkan sebagai laut. Ketika memandang laut, seolah kita melihat luasnya kemurahan hati dari seorang ibu. Jadi dalam hal ini tidak sekedar memasukkan laut kedalam katagori feminim, tetapi lebih memandang kualitasnya, yakni keibuan.
Kita juga menyebut tanah air sebagai ibu pertiwi, memanggil tanah dengan sebutan ibu bumi dan memandang langit sebagai bapak angkasa. Mungkin karena persamaan persepsi, mitologi Yunani kuno memandang perempuan adalah bumi dan lelaki adalah langit. Mereka memuliakan Persefone sebagai Dewi bumi dan Apollo sebagai Dewa langit. Konon bumi dan langit bersenggama di cakrawala.
Akan tetapi pandangan yang demikian ini, mungkin kurang pas bagi mereka yang berwawasan gender. Apalagi di masa milenial seperti sekarang ini. Kalau keibuan dikatakan dengan bumi, tampak bahwa bumi lebih banyak berurusan dengan home affairs alias urusan rumah tangga. Namun, bumi tidak berkonotasi urusan rumah tangga saja tetapi juga ada hubungannya dengan suatu kualitas penting dalam hidup manusia, yaitu kesabaran dan tahan uji. Semangat keibuan memancarkan nilai itu.
Kalau kita berdiri memandang laut, maka keluasannya tampak. Itulah lambang kesabaran. Bumi adalah juga lambang pemaaf. Kita melihat, sekalipun seseorang melakukan kejahatan, jika meninggal dan dikubur, bumi tak pernah menolaknya. Sang penjahat diterima kembali, dibasuhnya dosa-dosa dengan darah jantungnya.
Bagaimana semangat dan sifat keibuan di masa kini? Perempuan dan lelaki tak ada bedanya dalam kerja. Pembagian kerja menurut seks atau jenis kelamin seperti pernah ditulis Dr Arief Budiman (seorang sosiolog Universitas Indonesia) sudah usai. Yang ada sekarang adalah kesepakatan antara keduanya. Ini artinya, bukan hanya lelaki yang merintis karir tetapi juga perempuan. Apa yang kemudian tampak?
Lelaki dan perempuan menghadapi tantangan yang sama. Jika dikatakan bahwa dunia kita sekarang sedang diserbu kekerasan, kekerasan itu bukan hanya datang dari makhluk berjenis lelaki kepada makhluk berjenis perempuan yang menjadi korbannya. Kekerasan adalah jiwa zaman. Ia bisa muncul dalam berbagai bentuk. Seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri. Seorang perempuan bisa membunuh ibunya. Seorang istri bisa meminta cerai karena menemukan lelaki lain yang lebih perkasa.
Dalam dunia masa kini, yang mendemonstrasikan kemahiran berkelahi, seperti pencak silat, karate, taekwondo, kungfu tak hanya milik lelaki saja tetapi juga perempuan. Dalam film silat cina, banyak perempuan yang justru jago silat. Dalam film misteri, tampil perempuan sebagai tukang sihir, film Mak Lampir misalnya. Dalam acara infotainment, agaknya perceraian selebritis sudah lumrah.
Dari berbagai fenomena saat ini, yang bisa dipetik kegiatan kekerasan juga bisa dilakukan oleh perempuan. Mungkin, dari tinjauan statistik tindakan demikian oleh perempuan belum tinggi. Tetapi, kemungkinan mengingat tentu bisa. Sebab, kekerasan erat hubungannya dengan ambisi dan kekuasaan.
Tatkala seseorang berambisi luar biasa, ia bisa melakukan apa saja. Ketika kekuasaan dan akhirnya hegemoni sudah ditangan perempuan, apapun juga bisa dilakukannya. Ia akan senantiasa terus menerus membenarkan dirinya sendiri dan menjauhi refleksi. Sebab, dalam konteks ingin berkuasa, refleksi akan melemahkan. Itulah sebabnya, ambisi kekuasaan, asal menang, terus menerus menolak sang kasih yang lembut. Sebab, yang demikian dipandang lemah. Padahal, ibu adalah sang kasih, sepanjang masa, bagai sang surya menerangi dunia.
Dewasa ini, jagat industri dan pragmatisme membuat orang memburu materi, kekuasaan dan merebut hegemoni. Karena itu, zaman ini dikuasai kekerasan. Pada titik yang demikian inilah keibuan sangat dibutuhkan, untuk melembutkan yang keras, memaafkan yang salah, memahami yang absurd, hingga menerima kembali yang terbuang.
Apalagi dalam kajian agama. Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Begitu pentingnya kedudukan ibu, sampai harus disebutkan Nabi Muhammad saw tiga kali sebelum ayah. Bahkan disebutkan surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Tanpa mengurangi peran Ibu dalam mengembangkan karirnya, selayaknya harus mampu membagi peran ditempat bekerja atau di rumah. Jika di kantor bisa jadi perempuan mampu memimpin menjadi bos. Namun jika di rumah ia harus berperan sebagaimana kodratnya, yaitu mampu melayani suaminya, karena bagaimanapun suami adalah pemimpinnya. Selain itu ridho Allah berasal dari ridho suami.
Pada Hari Ibu, wahai kaum perempuan renungkanlah kembali apakah sudah pantas menjadi tanah kelahiran anak-anak? dan tempat mereka dibesarkan menjadi manusia utuh. Memperingati hari ibu adalah merenungkan kembali bagaimana kaum perempuan menjadi seorang ibu.
Selamat memperingati hari Ibu.
*Penulis adalah Guru Geografi di SMA Negeri 1 Balen.
Editor : Hakam Alghivari